http://suarapembaruan.com/News/2000/08/19/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY

Menteri Negara Sains, Teknologi dan Lingkungan Hidup

Oleh OTTO SOEMARWOTO

   ada Sidang Tahunan MPR Presiden menyatakan akan me-reshuffle kabinetnya. Artikel ini
   bermaksud memberi sumbangan pikiran pada reshuffle tersebut, khususnya dalam bidang
riset, teknologi dan lingkungan hidup. Tak adalah maksud untuk memberi evaluasi pada 
kinerja
para menteri yang bersangkutan.

Ketiga bidang besar sains, teknologi dan lingkungan hidup seyogianya dikelompokkan 
menjadi
satu, dan dipimpin oleh seorang menteri negara dan bukannya seorang menteri dalam 
sebuah
departemen. Alasannya ialah ketiganya bersifat lintas sektor yang saling terkait, 
sehingga
memerlukan kebijakan yang holistik. 

Ketiganya menjadi landasan pembangunan di semua bidang, sehingga kebijakan holistik 
sains,
teknologi dan lingkungan hidup akan memungkinkan digariskannya kebijakan pembangunan
yang holistik pula. Karena ketiganya mencakup semua bidang, jika dijadikan sebuah
departemen, akan menjadi sebuah superdepartemen yang sangat besar. Atau, 
alternatifnya, ialah
dibatasi pada bidang tertentu saja. Tetapi pemba-tasan itu akan menghilangkan sifat 
holistik. 

Tak dapat dipungkiri lagi, sains dan teknologi merupakan landasan bagi kemajuan bangsa 
dan
negara. Negara yang miskin sumber daya alam, tetapi maju dalam sains dan teknologi, 
dapat
menjadi negara yang maju dengan rakyatnya yang makmur, misalnya Jepang, Singapura, dan
Belanda. 

Indonesia masih sangat ketinggalan dalam sains dan teknologi. Belum ada ilmuwan dan 
pakar
Indonesia yang benar-benar menonjol di dunia internasional. Jepang, India dan Pakistan 
telah
mempunyai pemenang Nobel. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Taiwan adalah pemegang
hadiah Nobel. Kita belum punya. 

Pada tingkat regional Asia, Australia dan Selandia Baru, universitas kita menduduki 
peringkat
yang sangat rendah (Kompas, 31 Juli 2000). Padahal, universitas kita sudah mempunyai 
banyak
ilmuwan dan pakar yang bergelar S2 (master) dan S3 (doktor) dari pendidikan di dalam 
dan
luar negeri. Sayang, hanya sedikit yang bekerja penuh (full time), melainkan banyak 
sekali yang
bekerja merangkap-rangkap jabatan/proyek. 

Di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan litbang departemen pun telah banyak S2
dan S3. Dengan demikian, masalah yang kita hadapi terutama bukanlah kurangnya tenaga
terdidik, melainkan belum adanya budaya sains dan teknologi.

Tidak kurang pentingnya ialah budaya ramah lingkungan. Sains dan teknologi yang kita
butuhkan bukanlah untuk menguasai alam, melainkan sains dan teknologi untuk hidup 
harmonis
dengan lingkungan hidup. Walaupun secara verbal kita tampak sangat sadar lingkungan, 
namun
dalam praktek kita sangat merusak lingkungan. 

Sampah kita bakar dan menghasilkan racun dioksin yang berbahaya, atau kita buang di TPA
(tempat pembuangan akhir) dengan cara yang tidak higienis. Mobil kita gunakan dengan 
cara
yang berlebihan. Pabrik membuang limbahnya ke udara dan perairan umum sehingga
pencemaran udara dan air sangat tinggi. Laju kerusakan hutan karena pembalakan sangat 
tinggi.
Perumahan mewah kita bangun di daerah resapan air di pegunungan. Taman kota kita bangun
menjadi mal perbelanjaan, pompa bensin dan perumahan.

Akibatnya, biaya yang kita tanggung sangat berat. Menurut laporan Bank Dunia tahun 
1990,
kerugian kemerosotan hasil pertani-an di Jawa karena erosi tanah adalah US$315 
juta/tahun,
dan menurut laporannya tahun 1994 di Jakarta saja, biaya kesehatan pencemaran air 
mencapai
US$303 juta/tahun dan pencemaran udara US$220 juta/tahun. Kebakaran hutan di tahun 1997
yang disebabkan oleh teknologi pembakaran diperkirakan mengakibatkan kerugian antara Rp
5,96 triliun dan Rp 9,5 triliun. Belum lagi biaya karena banjir, kekurangan air dan 
biaya
kesehatan karena naiknya jumlah vektor penyakit seperti nyamuk dan lalat. 

Sumber penting ketidakramahan lingkungan kita ialah kita mengabaikan prinsip efisiensi 
dalam
produksi. Penggunaan energi kita sangat boros. Dalam tahun 1993 per dolar GNP kita
menggunakan energi 24 MJ sedangkan Amerika Serikat 16 MJ, Inggris 13 MJ, Jerman 9 MJ,
Jepang 6 MJ dan Swis 5 MJ. Jadi untuk menghasilkan 1 dolar GNP kita menggunakan energi
empat kali lebih banyak daripada Jepang. 

Yang lebih mencemaskan lagi ialah antara 1973 dan 1993 konsumsi energi kita per dolar 
GNP
naik, tetapi di negara tersebut di atas turun. Jadi kita makin tidak efisien, 
sedangkan mereka
makin efisien. Penggunaan energi yang lebih banyak berarti per dolar GNP kita 
memproduksi
zat pencemar lebih besar daripada negara maju tersebut di atas sehingga biaya sosial 
kita juga
lebih tinggi. 

Yang harus kita waspadai juga adalah konsep analisis daur hidup (lifecycle analysis) 
yang telah
mulai diberlakukan di negara maju. Berdasarkan konsep ini, dampak sebuah produk tidak
hanya dievaluasi pada waktu diproduksi di sebuah pabrik, melainkan mulai dari dampak
produksi bahan baku yang digunakan sampai pada dampak pembuangan produk pada akhir
masa gunanya. Misalnya, dampak produksi mobil dievaluasi mulai dari dampak pertambangan
besi, pabrik peleburan besi, pabrik baja, perkebunan karet, pabrik karet, pabrik ban 
dan
pabrik plastik, serta pabrik mobilnya sendiri, sampai pada dampak pembuangan bangkai 
mobil.
Karena itu, produsen mobil memilih pemasok bahan baku dengan cermat karena khawatir
produknya akan terkena sangsi ekolabel, meskipun pabriknya itu sendiri ramah 
lingkungan.

Tugas utama menteri negara sains, teknologi dan lingkungan hidup ialah untuk 
menumbuhkan
budaya sains dan teknologi, tidak hanya di kalangan ilmuwan, melainkan juga di 
masyarakat
luas. Jelas bukan tugas yang mudah. Kendala besarnya ialah budaya feodal dan budaya
konsumerisme yang sangat dominan di negara kita. Keduanya menggunakan hasil teknologi
mutakhir sebagai simbol status sosial, modernitas dan keberhasilan. 

Gelar kesarjananaan doktorandus (drs), master (MA dan MSc), dan doktor (Dr dan PhD)
menggantikan gelar kebangsawanan raden (R), raden mas (RM) dan bandoro raden mas
(BRM). Gelar kesarjanaan itu menjadi tujuan dan bukannya sarana pendidikan untuk
mendapatkan kemampuan mengembangkan sains dan teknologi. Prestasi ilmiah diganti dengan
prestise sosial. Gelar kesarjanaan pun dijajakan secara terbuka dan laku keras. 
Berkembanglah
pula nilai pantas-tidak pantas. 

Tidak pantaslah bagi seorang drs untuk memiliki TV 14; tidak pantas bagi seorang 
doktor untuk
berjalan kaki, meskipun tujuan perjalanannya hanya berjarak 500 meter. Pola hidup 
feodal dan
konsumerisme memerlukan biaya yang tinggi, sehingga orang merangkap-rangkap jabatan dan
proyek. Hanya sedikit waktu yang tersisa untuk menyimak literatur dan berdiskusi ilmiah
sehingga penguasaan ilmu menjadi statis, sementara ilmu terus berkembang. 

Tertinggallah kita. Karena tidak menguasai bidang ilmunya, orang tidak mau dikritik. 
Kritikan
dianggap sebagai serangan pribadi. Mahasiswa pun tidak dapat tidak setuju dengan 
dosennya.
Tanpa diskusi dan kritik mandeklah pengembangan sains dan teknologi. Pupuslah pula 
sifat
demokrasi yang menjadi ciri khas sains.

Tugas kedua ialah untuk mendorong riset untuk pengembangan sains dan teknologi ke arah
ramah lingkungan. Tanpa keramahan lingkungan anggaran pembangunan untuk menutup biaya
kerusakan lingkungan akan terus meningkat. Lagi pula dengan efisiensi yang rendah biaya
produksi kita tinggi, sehingga kita tak dapat bersaing di pasar global. Selain itu 
dengan adanya
konsep analisis daur hidup produk kita yang merupakan bahan baku industri negara maju 
makin
sulit untuk dijual. Kita akan kehilangan pasar. Ditambah lagi kita dapat terkena 
sangsi ekolabel
sehingga produk kita tak dapat lagi diekspor.

Budaya sains dan teknologi yang ramah lingkungan mendorong masyarakat, termasuk
masyarakat swasta, untuk patuh pada perundang-undangan lingkungan hidup sebagai tujuan
minimal. Artinya yang dikejar ialah kinerja lingkungan hidup yang lebih baik daripada 
yang
ditentukan oleh undang-undang. Namun kinerja yang tinggi ini tidak merugikan, melainkan
menguntungkan dalam jangka pendek dan jangka panjang, baik tangible dalam nilai 
finansial
maupun intangible. Alatnya ialah akunting lingkungan hidup, eko-efisiensi dan ekologi 
industri
yang sudah mulai berkembang dan diterapkan di negara maju. 

Tugas ketiga ialah untuk bersama para kepala badan litbang departemen dan perusahaan
swasta, serta ketua pusat penelitian universitas dan LIPI mengidentifikasi dengan 
jelas tujuan
riset beserta prioritasnya, menyusun program riset, membagi tugas riset dan 
mengkoordinasi
pelaksanaan riset. Pada garis besarnya badan litbang melakukan riset terapan (applied
research) serta universitas dan LIPI riset dasar (basic research). 

Definisi antara keduanya seyogianya bersifat lentur. Dalam praktek, batas antara 
keduanya
memang tidak jelas. Apa yang sekarang merupakan riset dasar, lusa telah menjadi riset 
terapan.
Keduanya secara dinamis saling sambung-menyambung secara sinergistik. 

Jelaslah keterkaitan yang amat erat antara berbagai bidang sehingga diperlukan 
kebijakan riset
yang holistik. Hasil riset yang holistik itu akan menjadi landasan untuk menggariskan 
kebijakan
penganekaan pangan yang holistik pula dan implementasinya. Jelas tugas yang tidak 
mudah. Di
sinilah dituntut kejelian dan kepemimpinan menneg sains, teknologi dan lingkungan 
hidup. 

Tugas keempat ialah untuk mengusahakan dana yang memadai. Namun yang menentukan
kualitas riset bukanlah besarnya dana, melainkan otak dan ketekunan peneliti. Peneliti 
hanya
dapat tekun bekerja apabila dia memiliki budaya sains dan teknologi. 

Akhirulkalam, sains dan teknologi yang ramah lingkungan bukanlah pajangan, bukan pula
penghambat pembangunan, melainkan dongkrak untuk membantu berputarnya kembali roda
ekonomi yang sedang mogok.

Penulis adalah Guru Besar Emeritus Unpad Bandung
Last modified: 8/19/00 

---------------------------------------------------------
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke