-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar : [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
-----------------------------------------------------------------------------------------------
http://kompas.com/kompas-cetak/0011/21/DIKBUD/pros09.htm
>Selasa, 21 November 2000
Proses Transformasi Sosial Tak Terkendali
Jakarta, Kompas
Proses transformasi dari masyarakat tradisional menuju masyarakat
Indonesia modern tidak terkendali. Kenyataan ini justru
menyebabkan ketimpangan di dalam masyarakat akan semakin
kentara, dan jika tidak segera ditangani bisa membahayakan.
Namun, penanganannya tidaklah mudah serta memerlukan waktu
yang panjang.
Hal itu dikatakan Prof Dr Mochtar Buchori dalam orasinya pada
kegiatan Temu Pembaharu Masyarakat yang dilaksanakan Yayasan
Ashoka Indonesia, di Jakarta, Senin (20/11).
Mochtar Buchori mengatakan, tak terkendalinya proses transformasi
sosial tersebut disebabkan berbagai hal, di antaranya tidak cukup
dipikirkan jenis masyarakat yang ingin diwujudkan. Masyarakat
Indonesia, misalnya, diharapkan menjadi masyarakat modern, tetapi
tidak pernah diketahui bagaimana bentuk masyarakat Indonesia yang
modern tersebut.
http://kompas.com/kompas-cetak/0011/21/EKONOMI/harg14.htm
>Selasa, 21 November 2000
Harga Dasar Gabah Tidak Menolong
Kudus, Kompas
Meski panen padi masih akan berlangsung awal Januari dan
pemerintah akan menaikkan harga dasar gabah kering giling (GKG)
menjadi Rp 1.500 per kilogram, tetapi mulai saat ini petani sudah
bisa memperhitungkan akan merugi lagi. Sebab biaya garap dan
pasca panen semakin mahal, serta harga gabah tetap terpuruk.
Hal tersebut diungkapkan tokoh petani wilayah Kecamatan Mejobo,
Sutrisno dan jurubicara petani Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus
Jawa Tengah, Kaspono, yang dihubungi secara terpisah, Senin
(20/11).
http://www.indomedia.com/bpost/112000/21/index.htm
Dayak Pitap �Sambangi� Dewan
* Minta Hak Adat Dilindungi
Banjarmasin, BPost
Puluhan warga Desa Dayak Pitap Kecamatan Hawaian Kabupaten Hulu Sungai Utara, Senin
(20/11) pagi, mendatangi DPRD Kalsel. Mereka menuntut agar pemerintah mau mengakui
hak-hak adat mereka.
"Selama ini pemerintah sepertinya tidak mengindahkan dan melindungi hak-hak kami,
sehingga
tidak sedikit kawasan hutan yang sejak ratusan tahun kami jaga, kini punah," ungkap
Aliudar
salah satu warga Desa Dayak Pitap.
http://kompas.com/kompas-cetak/0011/21/IPTEK/warg10.htm
>Selasa, 21 November 2000
Buntut Pergantian Nama PT Indorayon
Warga Porsea Kembali Unjuk Rasa
Medan, Kompas
Sekitar 1.000 warga Porsea, Kabupaten Toba Samosir (215 kilometer
tenggara Medan), unjuk rasa ke Kantor Gubernur Sumatera Utara di
Medan, Senin (20/11). Mereka menuntut penjelasan dan tanggung
jawab Gubernur Sumut T Rizal Nurdin atas diperkenankannya PT Inti
Indorayon Utama (PT IIU) beroperasi kembali dengan mengganti
nama menjadi PT Toba Pulp Lestari.
"Kami minta penjelasan gubernur atas imbauannya yang
membolehkan Indorayon dibuka kembali dengan ganti nama. Tolong
tanya dulu rakyat, jangan putuskan sendiri. Terus terang, kami sudah
siap menanggung risiko jika Indorayon dibuka," kata Ketua Suara
Rakyat Bersama (SRB) Porsea, Musa Gurning (74), dihadapan
massanya ketika diterima Wakil Gubernur Sumut I, Ir Lundu
Panjaitan.
http://www.surabayapost.co.id/
UTAMA Selasa, 21 November 2000
Tangkap Ikan dengan Racun, Indonesia Disorot
SUDAH terlalu banyak rasanya cap buruk yang ditimpakan pada Indonesia selama ini.
Mulai
negara terkorup, tidak peduli pada perbaikan pendidikan, ladang subur peredaran
narkoba,
hingga perusak hutan tropis dunia.
Beragam pun cap jelek tersebut kini bertambah satu lagi: perusak lingkungan biota
laut.
Seperti terungkap dalam pertemuan para pakar biologi laut di Bali belum lama ini,
para penyelam
Indonesia dan Pilipina dituduh menggunakan racun sianida untuk menangkap ribuan
ikan hias
guna diekspor ke luar negeri. Asians using cyanide to catch tropical salt-water
pet fish, lapor
Associated Press pekan ini.
http://www.suaramerdeka.com/harian/0011/21/tjk2.htm
Selasa, 21 Nopember 2000 Tajuk Rencana
Bencana Alam dan Perubahan Cuaca Global
- Mendung tebal masih terus menggelayut di angkasa. Banjir besar
dan kecil serta bencana alam tanah longsor juga masih terjadi di
beberapa daerah Jateng Selatan. Berbagai pendapat tentang penyebab
bencana alam itu pun muncul dari kalangan ahli dan pengamat
lingkungan. Dua LSM di Purworejo, Forum Reformasi Purworejo (Forep),
dan Forum Komunikasi Hasta Peran Lingkungan (FKHPL), menuding
banjir di sana berkaitan dengan konversi hutan rimba menjadi hutan
pinus oleh Perhutani. Cara konversi itulah yang diduga menjadi
penyebab. Di musim kemarau hutan dibabat habis lalu dibakar.
Kemudian diolah untuk ditanami pinus. Cara konversi itu menyebabkan
hutan kehilangan peran yang sangat penting sebagai penyerap air
hujan. Atau setidak-tidaknya daya serap sangat kecil.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0011/21/JATIM/hasi19.htm
>Selasa, 21 November 2000
Hasil Penelitian Teknologi Pertanian Hanya Disimpan di Lemari
Malang, Kompas
Hasil-hasil penelitian teknologi pertanian yang dilakukan
perguruan tinggi (PT) selama ini tidak pernah
disosialisasikan kepada masyarakat tani. Sebagian besar
hasil penelitian teknologi itu hanya disimpan di lemari,
hingga dimakan ngengat. Kenyataan ini makin menjauhkan
keinginan untuk mewujudkan teknologi tepat guna (TTG).PT Agrindo,
yang selama ini menjadi distributor mesin-mesin pertanian, sebagian
besar memasarkan teknologi impor dengan membeli lisensi atau
memberikan royalti bagi mesin-mesin rancangan asing. "Lebih dari
50 persen produk yang kita pasarkan berasal dari impor yang
dilokalisasi," ujar General Manager Engineering PT Agrindo Dr Ing
Suwandi Sugondo, kepada Kompas, Senin (20/11) seusai menjadi
pembicara dalam Seminar Peran Teknologi Tepat Guna (TTG)
terhadap Pengembangan Iptek dan SDM dalam Rangka Otonomi
Daerah. Seminar diselenggarakan Pusat Pengembangan dan
Penerapan Teknologi Universitas Brawijaya (Unibraw).
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0011/21/JATIM/semp19.htm
>Selasa, 21 November 2000
Sempitnya Lahan Membuat Petani Lebih Miskin dari Buruh
Surabaya, Kompas
Sempitnya lahan yang dimiliki petani, hanya menimbulkan pertanian
yang berbiaya tinggi dan tidak efisien, sehingga hasil yang didapat
tidak bisa optimal. Inilah yang menyebabkan pendapatan petani
selalu di bawah buruh. Jika tidak ditangani, pertanian tidak lagi bisa
diandalkan sebagai gantungan hidup petani.
http://www.indomedia.com/bpost/112000/21/index.htm
Potensi Batu Bara 491 Juta Ton
Gubernuran, BPost
Potensi bahan galian tambang batu bara di wilayah Kalimantan Tengah dari hasil
penelitian
mencapai 491.016.648 ton, kata Gubernur Kalteng Asmawi Agani.
Sementara izin pengusahaan pertambangan khusus kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara (PKP2B) di daerah ini tercatat 18 buah perusahaan dengan luas
areal
1.441.920 hektare dengan investasi Rp2.793. 700.000 atau 1.402.667,10 dolar AS.
http://www.suaramerdeka.com/harian/0011/21/dar23.htm
Selasa, 21 Nopember 2000 Jawa Tengah - Banyumas
Kerugian Bencana Alam Menjadi Rp 26,9 Miliar
CILACAP- Besarnya kerugian akibat bencana banjir dan tanah longsor
di Kabupaten Cilacap membengkak menjadi Rp 26,9 miliar.
Pembengkakan itu terjadi karena ada tambahan jumlah kerugian dari
daerah atau lokasi bencana yang terisolasi. Berdasarkan perhitungan
sebelumnya, kerugian bencana di Cilacap sebesar Rp 22,9 miliar.
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]