-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar :    [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
-----------------------------------------------------------------------------------------------
 

http://www.indomedia.com/bpost/122000/8/index.htm

Tim Gabungan Kayu Kalteng Turun Pemkab Barut Dilecehkan
Muara Teweh, BPost

Pemkab Barito Utara (Barut) merasa dilecehkan, menyusul diturunkannya itm gabungan
pemantauan kayu ilegal dari Kalimantan Tengah . Kehadiran tim terdiri dari Polda, 
Kanwil dan
Dinas Kehutanan Kalteng itu tanpa sepengetahuan bupati setempat.

Bupati Barut H Badaruddin membenarkan kehadiran tim gabungan itu tidak melakukan
koordinasi dengan pemkab setempat. "Saya tidak pernah dilapori mengenai diturunkannya 
tim
gabungan pemantau kayu ilegal dari dua instansi dan polri tersebut," katanya, Rabu 
(6/12).

http://www.indomedia.com/bpost/122000/8/index.htm

45 Ton Padi Varietas Unggul Terancam Mati
Martapura,BPost

Sedikitnya 45,7 ton bibit padi varietas unggul terancam mati, akibat banjir yang 
menggenangi
ribuan hektare lahan pertanian di beberapa kecamatan wilayah Kabupaten Banjar yang 
terjadi
sejak akhir pekan lalu. 

Diakui Pjs Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Ir Syarifuddin, Kamis 
(7/12),
angka kerugian untuk tanaman bibit padi tersebut masih belum final.

http://www.indomedia.com/bpost/122000/8/index.htm

Ribut �Meratus� Bermuatan Politis
Banjarmasin, BPost

Adanya keberatan tukar guling sebagian kawasan Pegunungan Meratus, yang sampai saat ini
masih "ribut-ribut" dan menjadi polemik, diduga bermuatan politis.

"Saya menduga keberatan tukar guling Pegunungan Meratus bermuatan politis dan bukan 
murni
karena alasan upaya penyelamatan kawasan hutan itu," sinyalir Ketua DPRD Kalimantan 
Selatan
H Mansyah Addrians, Kamis (7/12).

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/08/EKONOMI/kebu15.htm
>Jumat, 8 Desember 2000

Kebutuhan Transmigrasi Diserahkan ke Pemda
Jakarta, Kompas 

Meskipun program transmigrasi reguler yang semula dikelola
pemerintah pusat sudah dihentikan, tetapi pemindahan penduduk
dari suatu daerah ke daerah lain masih bisa dilaksanakan di bawah
semangat otonomi daerah, dan atas kesepakatan antarpemerintah
daerah. Pemerintah pusat hanya memfasilitasi.

"Transmigrasi yang dihentikan adalah transmigrasi secara
besar-besaran dengan target tertentu tiap tahunnya. Akan tetapi,
transmigrasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing
pemda bisa dilakukan terkait dengan otonomi daerah," kata Kepala
Pusat Komunikasi Informasi dan Edukasi Badan Administrasi
Kependudukan dan Mobilitas Penduduk (BAKMP) Mirwanto
Manuwiyoto kepada Kompas, di Jakarta, Kamis (7/12).

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/08/IPTEK/suma09.htm
>Jumat, 8 Desember 2000

Sumatera Barat Memang Wilayah yang Labil 

SECARA geomorfologis dan geologis, wilayah Sumatera Barat
(Sumbar) memang rawan bencana banjir, longsor, dan gempa bumi.
Pantauan satelit Radarsat dari ketinggian 800 kilometer di atas
wilayah Sumbar (gambar), wilayah perbukitan di utara Koto Tarusan,
Sumbar, lokasi longsor November lalu cukup terjal. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/08/IPTEK/banj09.htm
>Jumat, 8 Desember 2000

Sonny Keraf: Banjir dan Longsor Juga akibat Penggundulan Hutan
Jakarta, Kompas 

Banjir dan tanah longsor yang terjadi dalam sebulan terakhir ini di
berbagai lokasi di Pulau Jawa (Jawa Tengah), Sumatera (Aceh,
Sumatera Utara, Suma-tera Barat, dan Jambi), serta Sulawesi
(Sulawesi Utara), terjadi akibat akumulasi ganggunan cuaca dan ulah
manusia. Hal itu terungkap berdasarkan penelitian lapangan yang
dilakukan tim dari Badan Pengendalian Dam-pak Lingkungan
(Bapedal). 

Bencana itu tidak hanya disebabkan oleh tingginya curah hujan di
daerah tersebut, namun juga karena penggundulan hutan.
Berkurangnya areal hutan dalam jumlah besar telah memperparah
kerusakan yang terjadi.

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/08/IPTEK/meng09.htm
>Jumat, 8 Desember 2000

Mengambil Garam Mendapat Air Bersih 

SEBAGAI negara yang daerah lautnya sangat luas, ironis bila
Indonesia sampai mengimpor garam. Nyatanya negeri bahari ini
memang harus membeli garam-yang tergolong bahan konsumsi
pokok-dari negara lain. Tahun 1998, misalnya, impor garam sampai
1,2 juta ton, dan tahun ini menurut perkiraan malah meningkat lagi
menjadi hampir sebesar dua juta ton. Garam dari luar negeri ini
diperlukan untuk memasok sebagian besar kebutuhan domestik,
yang mencapai 2,2 juta ton. Itu artinya sekitar 91 persen Indonesia
tergantung garam impor. 

Pada tahun 1998 impor garam dilakukan karena munculnya
gangguan cuaca La Nina yang menyebabkan musim kemarau ketika
itu jumlah hari panasnya relatif singkat, sehingga produksi garam
merosot sampai 50 persen dari normalnya. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/08/IPTEK/keti09.htm
>Jumat, 8 Desember 2000

Ketika Air Tawar Semakin Langka 

LAUT Indonesia sangat luas, mencapai 5,9 juta kilometer persegi
atau dua pertiga luas wilayahnya. Meski memiliki sumber air yang
melimpah, nyatanya beberapa kota di pantai bahkan mengalami
kelangkaan air bersih. Air di laut memang air asin yang tidak dapat
langsung digunakan penduduk untuk kebutuhan sehari-hari,
misalnya, untuk minum dan memasak. Sedangkan air tawar
biasanya didapatkan dari hujan yang ditampung dan yang meresap
ke tanah, serta yang mengalir ke sungai.Belakangan ini sumber air
bersih di beberapa lokasi terutama di daerah pesisir dan perkotaan
mulai berkurang pasokannya dari alam karena degradasi lingkungan.
Hal ini karena berkurangnya daerah vegetasi akibat pembabatan
hutan di daerah aliran sungai, sehingga air hujan sedikit yang
tertahan oleh akar tanaman dan masuk ke dalam tanah, namun
langsung mengalir kembali ke laut. Air hujan asalnya memang dari
laut yang menguap karena panas matahari, menjadi awan kemudian
jatuh di darat. 

Pembabatan hutan, diungkapkan oleh Menteri Permukiman dan
Infrastruktur Regio-nal, Erna Witoelar, pada Rapat Kerja Teknis
Program Kali Bersih, medio November, telah mengakibatkan 39 DAS
di Indonesia kritis. Ini data tahun 1992, tahun 2000 jumlahnya
dipastikan sudah meningkat lagi. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/08/IPTEK/lipi09.htm
>Jumat, 8 Desember 2000

LIPI Berhasil Biakkan Kerbau Belang "Tedong Bonga"
Jakarta, Kompas

Kerbau belang "Tedong Bonga" yang berharga mahal di kalangan
masyarakat Tana Toraja berhasil dibiakkan oleh ilmuwan di Pusat
Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Bioteknologi-Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong, Bogor.Dr Ir Baharuddin
Tappa, Kepala Bagian Sel dan Kultur Jaringan LIPI, yang juga
Peneliti Senior Bidang Transfer Embrio, hari Kamis (7/12)
mengemukakan, kerbau relatif sulit dibiakkan karena masa birahi
betinanya sulit diketahui. Berbeda dengan sapi yang mudah
diprediksi lewat tiga A (abang, abu, dan anget), suatu parameter
menyangkut vulva (alat kelamin luar) sapi betina di masa birahi. 
Perkembangbiakan di Tana Toraja makin sulit karena kerbau belang
jantan cenderung dijaga dan diisolasi, tidak dicampur dengan kerbau
betina, karena berharga mahal. Harga kerbau belang jantan berkisar
Rp 15 juta sampai Rp 40 juta. 



---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke