-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar : [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2000121900143574
Memanfaatkan Energi Alternatif
Media Indonesia - Umum (19/12/2000 00:14 WIB)
Oleh Iin Arifin Takhyan
INDONESIA sebenarnya memiliki beraneka ragam sumber energi. Sebut
saja minyak bumi, gas bumi, batu bara, air, panas bumi, angin, surya,
biomassa dan lain�2Dlain.
Namun di antara sumber energi yang ada, minyak bumi merupakan
sumber energi yang paling tinggi tingkat pemakaiannya. Selain untuk
memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri, minyak bumi juga digunakan
sebagai bahan baku industri dan sumber penerimaan devisa negara.
Sebagai energi yang tidak dapat diperbarui, minyak bumi tidak dapat
terus-menerus tersedia. Cadangannya terbatas hanya untuk jangka waktu
tertentu. Begitu pula gas bumi dan batu bara.
http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2000121900143878
Membangun dengan Berkelanjutan
Media Indonesia - Umum (19/12/2000 00:14 WIB)
Oleh Prof Dr Emil Salim
PRODUK bruto domestik hingga kuartal ketiga 2000 naik hampir 5%
dibanding 0,3% (1999). Ini terutama didukung kenaikan ekspor dan
konsumsi. Secara kasat mata ekspor Sulawesi dan Sumatra mengalami
kenaikan, dan di kota-kota besar permintaan konsumen akan mobil,
perabot rumah, elektronik, dan sebagainya meningkat.
Depresiasi rupiah terhadap valas telah menurunkan kurs rupiah Rp
9.500/US$, jauh di bawah asumsi APBN Rp 7.800/US$. Ini memberi
rangsangan besar kepada eksportir. Sedangkan konsumsi yang tertahan
selama krisis 1998-1999 menyembur ke permukaan.
http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2000121900140244
Pasang-Surut Kelompok-kelompok
Etnik dari Sebuah Negara Bangsa: Kasus Indonesia
Media Indonesia - Umum (19/12/2000 00:14 WIB)
Oleh Prof Dr Usman Pelly
Nasionalisme Indonesia, mempunyai basis historis bukan pada
Majapahit,
Sriwijaya, Mataram, atau Goa Talo, melainkan pada kolonialisme
Belanda.
TRANSFORMASI kelompok-kelompok etnik ke dalam sebuah negara
bangsa (nation state) dapat dirujuk pada gerakan antikolonial abad
XX yang
merambah dari Amerika Serikat ke Asia, Amerika Latin, dan Afrika.
Berbeda dengan pengalaman Eropa, terutama setelah revolusi Prancis,
konsep sebuah bangsa berimpit (coincide) dengan etnik, sehingga
batas-batas negara-bangsa (nation-state) adalah juga batas-batas
kelompok etnik tertentu. Sejarah kebangkitan nasionalisme Eropa
merujuk
kepada perjuangan kemerdekaan kelompok-kelompok etnik dari dominasi
kelompok etnik dominan yang mereka sebut sebagai kelompok etnik
`penjajah`. Kelahiran kelompok-kelompok etnik Eropa yang kemudian
menjadi bangsa seperti Prancis, Jerman, Spanyol, dan Italia, jelas
tidak
sama dengan kelahiran bangsa di Asia Tenggara seperti Indonesia,
karena
batas-batas bangsa yang muncul setelah Perang Dunia II itu tidak
berimpit
dengan batas-batas etnik.
Memang beberapa negara di Asia, batas-batas bangsa (national
boundaries), sepenuhnya merujuk kepada batas-batas kelompok etnik
tertentu yang dominan seperti Thailand, negara kelompok etnik
Thailand
yang mendominasi kelompok etnik kecil lainnya seperti etnik Karen di
pegunungan perbatasan Thai-Burma. Jepang (negara etnik Jepang yang
mendominasi etnik minoritas Ainu) dan Korea Selatan atau Korea Utara
batas-batas negaranya berimpit sepenuhnya dengan batas-batas
kelompok etniknya.
http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2000121900142564
Pilkades dan Demokrasi Asli Indonesia
Media Indonesia - Umum (19/12/2000 00:14 WIB)
Oleh Dr Asvi Warman Adam
SELAMA bertahun-tahun terutama di Jawa pemilihan kepala desa
(pilkades) dilakukan secara langsung oleh rakyat. Menjelang pemilihan
para calon dan masing-masing pendukungnya bisa saling gertak. Tetapi
setelah salah satu calon terpilih, semua bisa menerima dengan lega
hati.
Bukankah ini bukti bahwa kita masih punya modal demokrasi?
Demokrasi desa sering dirujuk sebagai contoh dari demokrasi asli
Indonesia. Itu pula yang didengung-dengungkan dalam pidato-pidato
sejak
dari Soekarno sampai kepada penguasa Orde Baru. Presiden pertama RI
itu mengatakan perlunya demokrasi yang sesuai dengan `kepribadian dan
dasar hidup bangsa Indonesia bukan demokrasi yang dijiplak dari dunia
luar`. Atau menurut istilah penatar era Orde Baru `demokrasi yang
digali
dari bumi Indonesia`.
http://www.thejakartapost.com/detailfeatures.asp?fileid=20001219.H01&irec=2
Features December 19, 2000
Kutai national park puts high hopes on youngsters
By Mikael Onny Setiawan
BALIKPAPAN, East Kalimantan (JP): A group of
youngsters from Sangatta junior high school walked
along the slippery, muddy road heading to Kaba Bay
in Kutai National Park.
"Look, there are some maize plants on your right,"
12-year-old Rudi shouted to the rest of the group. "I
see some banana trees over there," responded a girl
wearing a raincoat. "But where are the deer?" asked
13-year-old Nita.
http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2000121900143371
Strategi Pengembangan Ekonomi Kelautan
Media Indonesia - Umum (19/12/2000 00:14 WIB)
Oleh Ir Sarwono Kusumaatmadja
PROSPEK ekonomi kelautan Indonesia sungguh besar. Tentunya dengan
catatan bahwa kita mempunyai kemauan politik untuk merealisasikannya
dengan strategi pengembangan yang sesuai dan mewujudkan
kelembagaan, kemampuan sumber daya manusia, serta menentukan
pilihan yang tepat. Sekadar untuk memberikan gambaran, berbagai
potensi
dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Potensi wilayah. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di
dunia
dengan wilayah laut Nusantara seluas 3,7 juta km2, laut teritorial
seluas
0,8 juta km2, panjang pantai 81.000 km, dan jumlah pulau 17.508.
Posisi
geografis Indonesia juga strategis karena merupakan pusat lalu lintas
maritim antarbenua.
http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2000121900135718
Bantuan GEF belum Dioptimalkan
Media Indonesia - Kesra (19/12/2000 00:13 WIB)
JAKARTA (Medan): Kalangan peneliti, pemerintah, dan LSM di Indonesia
masih banyak yang belum memanfaatkan bantuan pendanaan yang
disediakan oleh global environment fasilities (GEF) untuk
melaksanakan
berbagai program perbaikan lingkungan.
"Dana yang disediakan GEF itu sebenarnya tidak terbatas, tapi di
Indonesia banyak yang tidak mengetahui hal itu," kata Rizaldi Boer,
staf
pengajar dan peneliti IPB, di Jakarta, kemarin.
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]