http://kompas.com/kompas-cetak/0101/08/JATIM/kaum18.htm
>Senin, 8 Januari 2001

Kaum Marjinal 

PROFESOR Caroline Mosser, penasihat bidang sosial Presiden
Bank Dunia berujar: "The poor makes the city worked, why cannot
the city work for the poor?" Pada dasarnya kota anti si miskin,
terutama di negara berkembang termasuk Surabaya. Yang berbeda
antara kota yang satu dengan yang lain adalah cara menghadapi si
miskin. Di Jakarta, orang miskin disediakan tempat menjauhi pusat
kota sekitar lima kilometer setahun. Di Surabaya penduduk kampung
yang mayoritas miskin diperbaiki mutu lingkungan permukimannya
melalui program perbaikan kampung (KIP).

Pada saat bersamaan si miskin yang berdiam di tepi rel kereta api
atau kali tak tersentuh oleh KIP gara-gara peraturan tentang
pelaksanaan tidak memperhitungkan dan tidak mengakui keberadaan
mereka. Pertanyaan yang kini perlu diajukan adalah apakah
reformasi dan otonomi daerah akan membuat keadaan ini menjadi
lebih baik? 

Pada pertemuan internasional diadakan di Windsor Castle Inggris
(6/2000) tentang "New Frontiers in Good Urban Governance" antara
lain sepakat bahwa kemiskinan di mana saja merupakan bukti dari
kegagalan pelaksanaan pemerintahan (kota) yang baik. Kesimpulan
ini dicapai pada banyak pertemuan dunia mulai saat menjelang
pelaksanaan KTT Kota (6/1996) hingga kini, termasuk oleh lembaga
seperti Badan Pembangunan PBB (UNDP) dan Bank Dunia. 
***

TIDAK dapat dipungkiri bahwa kehadiran permukiman di sepanjang
rel kereta api mulai tampak menjelang pergantian dari pemerintahan
Orde Lama ke Orde Baru. Penelitian yang pernah dilakukan oleh ITS
bekerja sama dengan Kantor Menneg KLH pertengahan tahun
1980-an tentang keberadaan permukiman marjinal sampai pada
kesimpulan bahwa: 

a. Kehadiran permukiman ini berawal dari kesempatan berjualan
hasil dari desa. Di Surabaya utara dekat rel kereta api dipicu oleh
menjual buah-buahan yang didatangkan dari Madura. b. Dasar
keberadaan permukiman ini adalah pertimbangan ekonomi, baik
biaya murah, dekat pasar maupun investasi. c. Pola permukiman ini
adalah solusi (sementara) bagi si miskin walaupun merupakan
masalah bagi pemerintahan kota. d. Kondisi kumuh di samping
berbagai manfaat yang diuraikan di atas, memberi lebih banyak
manfaat daripada kerugian. Rasa iba yang tampak dari keadaan
kumuh mendukung dan menjamin eksistensi mereka. Ini tidak berarti
tanpa biaya dan memberi "keuntungan" bagi pihak yang harus
menertibkannya. e. Kerugian yang tidak disadari adalah
terperangkapnya warga yang menghuni lama di tempat tersebut
karena terbentuknya budaya miskin turun-temurun.

Pada awal Orde Baru, kawasan seperti ini pernah "dibersihkan"
dengan dalih membersihkan oknum PKI. Keadaan bersih yang
kemudian dicapai tidak mampu bertahan lama karena ada banyak
kepentingan yang telanjur hidup dari tempat seperti ini, mulai mereka
yang hanya mengambil manfaat (profiter) hingga "pejabat" yang
mendapat setoran rutin. Kasus "jual-beli" lahan tepi sungai yang
sempat membuat warga Surabaya gusar tidak lain adalah bukti
bahwa pola lama masih hidup subur dan bertahan. 

Kini era Reformasi dan otonomi daerah telah membuka peluang baru.
Yang menjadi masalah adalah pemerintahan yang harus
melaksanakan reformasi dilakukan oleh orang yang masih berasal
dari "stok" lama, hingga keadaannya belum (tidak?) berubah.
Kecelakaan bus tertabrak kereta api yang baru-baru ini terjadi dan
memakan korban sejumlah jiwa, masih kurang dramatis untuk
mampu mengubah persepsi lama yang masih kuat mengakar dalam
diri pejabat yang seharusnya mengambil tindakan. 

Keadaan ini bila dibiarkan berlanjut akan menjadi bom waktu saat
otonomi daerah berlaku penuh. Dengan dalih Dana Alokasi Umum
(DAU) yang tidak mencukupi, Pemda dapat menyuruh penghuni di
permukiman marjinal pulang ke tempat asalnya. Sebab era otonomi
daerah berpegang pada prinsip bahwa setiap daerah harus mengurusi
warga dan rumah tangganya sendiri. Bila ada warga yang membuat
masalah atau ulah yang tidak terpuji, sebaiknya dilakukan di rumah
sendiri, tidak di tempat orang lain. Konflik yang timbul dapat
berdampak sosial-ekonomi yang serius bila tidak dicarikan jalan
keluar (sudah ada) secepatnya.

(Prof Johan Silas, konsultan dan pengamat perkotaan) 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar :    [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke