Rekan-rekan,
Hari Sabtu kemarin saya jalan-jalan lagi menelusuri salah satu saluran
irigasi di Cianjur.
Ada cerita, tapi panjang. Barangkali ada yang mau baca. Kalau nggak,
delete aja. Nggak penting koq.

Sudah belasan tahun si Mamang (bukan nama sebenarnya) menjadi penjaga
pintu air. Setiap musim dia sudah biasa dapat dampratan dari masyarakat
petani. Pada musim kering, Si Mamang dimaki karena air irigasi kurang
dan dia harus membagi-bagi giliran mengalirkan air ke berbagai petakan
sawah. Tentunya nggak semua petani bisa puas, jadi sudah pasti ada
minimal seorang petani yang memarahi dia. Pada musim hujan si Mamang
dimarahi karena banyak air banjir dan tanggul jebol. Dalam keadaan
begini, si Mamang sering harus bergadang, nggak tidur untuk menunggui
pintu air irigasi yang sering nakal itu. Si Mamang harus kerja 24 jam.

Dengan gaji hanya Rp 80.000,-/bulan, tanpa jelas status kepegawaiannya,
hidup si Mamang memang berat. Belum lagi anaknya yang mulai butuh biaya
sekolah, belum lagi harga kebuthna rt. yang melambung. Akhirnya, si
Mamang mengizinkan istrinya pergi bekerja sebagai TKW. Si Mamang
kebagian ngurus anak-anaknya di rumah, sambil meniti karirnya sebagai
penjaga bendung. Siapa tahu bisa diangkat jadi pegawai negeri.

Dua tahun kemudian sang istri kembali membawa uang banyak. Mereka bisa
memperbaiki rumahnya, dsb. Kepemilikannyapun meningkat.  Tapi ntah apa
sebabnya, rumah tangga si Mamang jadi goyah. Sebagian tetangganya
mengira bahwa uang yang banyak yang dibawa istrinya itu membuat si istri
jadi sulit dikontrol, atau mungkin yang menjadikan si Mamang rendah
diri, merasa nggak dibutuhkan lagi. Ntahlah.......

Tapi si Mamang masih punya harapan dan harga diri karena suatu saat dia
akan diangkat menjadi pegawai negeri di Dinas Pekerjaan Umum Pengairan
Cianjur.

Ketika Otonomi Daerah datang, ternyata Pemda Kab.Cianjur tidak
mementingkan peran "pengairan". Dinas PU Pengairan akan dilebur, ntah
jadi apa. Peran pengelolaan pengairan selanjutnya akan diserahkan kepada
petani melalui oraganisasi P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) dengan
proses PPI (Program Penyerahan Irigasi).

Si Mamang hancur hatinya, karena hapuslah harapan dia untuk jadi pegawai
negeri golongan I. Tahun depan semua tenaga honorer (pegawai belum
diangkat jadi PNS) akan diberhentikan. Belasan tahun mengabdi, berakhir
dengan PHK.

Saya sendiri nggak tahu bagaima nasibnya beras Cianjur yang terkenal itu
jika irigasi tidak dikelola dengan baik. Bagaimana nasib si Mamang yang
belasan tahun pengalamannya hanya mengatur air irigasi, tiba-tiba harus
mencari pekerjaan baru.

Teten--
----------------------
# Http://www.lead.or.id/teten
======================




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke