Setahu saya, beberapa faktor dapat terlibat dalam proses kemunduran
pertambakan Indonesia umumnya. Mungkin juga di tempat anda:

1. Penggunaan racun kimia yang sudah bertahun-tahun yang sifatnya akumulatif
pada dasar tambak.
2. Penggunaan pakan yang berlebihan dan tidak terkontrol yang pada akhirnya
berubah jadi racun.
3. Pencemaran perairan oleh berbagai sebab, seperti akumulasi cemaran dari
daratan, dari aktivitas tengah laut
4. Rusaknya ekosistem perairan, akibat penebangan pohon dan alih fungsi
kegunaan lahan yang kurang tepat.
5. Hancurnya hutan mangrove tempat berkembang biaknya biota laut (nursery
ground)
6. Climate change. Udang windu, jika terjadi perubahan suhu di atas dua
derajat celcius, antara siang dan malam hari, akan menyebabkan kematian.
Atau mungkin karena kadar oksigen air yang turun drastis akibat berbagai
faktor, misalnya booming jenis plankton tertentu.
7. Virus berkembang biak pada suatu kondisi yang mendukungnya. Misalnya
salmonela sulit berkembang pada air yang terkena matahari.
8. Akumulasi dari berbagai variabel dalam budidaya udang windu di atas.

Untuk bisa membuktikannya, mungkin penelitian lengkap dan komprehensif dan
listas disiplin. Tapi biayanya lumayan mahal coy.

Kemudian, masalah Tambak Ramah Lingkungan. Beberapa Dinas Perikanan
Kabupaten telah mengembangkan suatu model yang disebut "Silvofishery" atau
Tambak Ramah Lingkungan. Model ini merupakan kombinasi dan keseimbangan
antara hutan mangrove dan areal budidaya. Sistem ini merupakan sistem tambak
tertutup dimana setiap petambak harus mempunyai petak pemurnian atau
pengelolaan air (bagaimananya secara detail mungkin orang Limnologi bisa
cerita banyak). lalu kemudian, setiap kali penggantian air diambil dari
tambak pemurnian tersebut (petak pemurnian ini dikenal sebagai Tandon).

Kemudian model ini dikembangkan juga oleh Wetlands Internasional di
Indramayu. Dalam model WI, tidak digunakan racun kimia dan pakan buatan.
Untuk membasmi predator, mereka menggunakan samponin. Untuk menggendalikan
pH air menggunakan kapur kaptan dalam takaran tertentu. Lalu supaya konsep
ramah lingkungannya bertambah, mereka mengupayakan penanaman mangrove
kembali. Termasuk penanaman mangrove di dalam areal tambak yang memang sudah
gersang.

Kalau model ini diterapkan untuk masyarakat yang punya satu sampai tiga
petak (satu petak dua hektar, kurang lebih) kurang realistis. Kurang
realistis, karena air dari laut tidak boleh keluar-masuk secara langsung.
Pada hal umum bagi masyarakat petambak skala kecil dan sedang, penghasilan
dari penangkapan udang harian yang berasal dari laut, merupakan sumber
penghasilan terbesar. Sedangkan bandeng dan udang windu hanya hitung-hitung
iseng-iseng berhadiah.

Kalau mau lengkap, barangkali bisa kontak dengan Wetlands International Asia
Pacific - Indonesia Program.

Btw, "pemerkosaan" terhadap lingkungan hidup memang harus dihentikan. Karena
kenyataannya, alam akan balik memperkosa manusia. Itu nyata dalam
pertambakan.

Kalau boleh titip pesan, hati-hati dengan pengusaha skala besar yang hanya
mau cari enaknya. Kalau satu areal dibuka untuk pertambakan skala bisnis
besar (export oriented), biasanya setelah 10 s/d 15 tahun lahan itu akan
hancur dan berhenti berproduksi. Kemudian perusahaan pengelola akan "cabut"
dari wilayah tersebut, mencari mangsa ke daerah lain. Maka tinggallah
penduduk lokal membayar harganya. Hehehehee ... sedikit provokasi.

salam
Adri


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke