Nyambung lagi ah...sori ngilang sebentar ..musti istirohat kata dokter.
jadi baru bisa nimbrung lagi di milis.

Memang betul kata kang Rohajie, ngurusin sampah perlu pertimbangan kumplit.
tapi juga jangan jadi ciut gara-gara musti 'menguasai' isu-isu
pol-ek-sos-bud. Nggak usah nunggu sampai kumplit tau semuanya juga nggak
apa-apa. Sambil jalan juga nanti ketemu apa yang dimaksud sama Kang
Rohajie. 

Memang paling asyik itu gawe barengnya sama pemulung dan bandar-bandar
lapak. Jadi kalau rekan Windu ngomong soal kaum pemodal/investor, ya..ada
lebih ada kurangnya juga. Saya kira buat anda-anda yang concern sama soal
gelombang privatisasi dan pemberdayaan masyarakat miskin kota, hal ini
justru bisa jadi cambuk dan tantangan untuk men-counter isu pemodal/
investor itu. Bingungin ya? Tapi dipikir-pikir dulu aja lah ya, sambil
diikuti trend di kota and kemana arahnya. Masa sih untuk ngangkutin sampah
dari rumah kita ke TPS lalu ke TPA saja perlu perusahaan asing atau pemodal
kuat dari Jkt? Masa orang lokal nggak bisa?   

Itu dulu ah..takut kebablasan. Salam balik buat kang RT.

Salam,
Yuyun Ilham
  
> Menangani sampah perlu penguasaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dari
> sampah itu berasal, baru kita dapat menyusun langkah-langkah pengelolaannya.
> 
> Ingin tahu lebih jauh tanya ke pemulung, salam buat ibu Yuyun Ilham.
> 
> Salam,
> 
> Rohadji trie
> pemulung apa aja yang halal didaur ulang
> 
> 
> From: Muhammad Windu Suhartomo <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Sunday, March 11, 2001 3:16 PM
> Subject: [envorum] sampah punya siapa mbak yuyun?
> > --mbakyuyun, gima sih kalau mau nagani sampah yang baik dan benar, aku
> minta informasinya dong. masalahnya dimanado, tempat saya tinggal sampah
> kota bukan sedikit dan selalu jadi masalah. padahal katanya itu sampah bisa
> di daur ulang supaya ada gunanya iyo kan ?
> > malah sekarang ada pihak swasta (investor/kaum pemodal)
> > yang mau beli itu sampah, mau diolah. Kalau sudah begitu kan kasian itu
> tukang pemulung sampah dan buruh sampah, mau makan apa mereka nanti. Kok
> tega-teganya(rakus)itu orang-orang kaya, ngrebut jatahnya orang-orang
> pemulung. Sayangnya juga ini  para pemulung nggak tahu and nggak ada modal
> untuk mendaur ulang sampah supaya punya daya jual yang bagus. Oke deh mbak
> sekian dulu keluhannya, eh minta informasinya mbak ya? bolehkan .....
> >
> >
> > On Sat, 10 Mar 2001 18:02:56   Yuyun Ilham wrote:
> > >Rekan-rekan,
> > >
> > >Saya kira tawaran dari Kang Eri untuk membuka milis polusi di envorum
> akan
> > >baik untuk mewadahi kontak-tukar-pikiran mengenai isu sampah kota.
> > >
> > >Sementara ini saya belum bisa bicara banyak dulu. Saya ingin tau cerita
> > >rekan-rekan yang lain, selain cerita bung Jass di Makasar dan rekan-rekan
> > >di Bandung.
> > >
> > >Kang Eri, gimana caranya memulai milis polusi? Tolong diinformasiken dulu
> > >dong.
> > >
> > >Salam,
> > >Yuyun Ilham
> > >
> > >NB: Saya Ibu dari 2 putri. Jadi bukan Bung atau Pak...:-)
> > >
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
> 




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke