http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2001041000014212

Sampah DKI Jadi Uang Ratusan Miliar Rupiah
Media Indonesia - Jabotabek (10/04/2001 00:01 WIB)

JAKARTA (Media): Sampah yang baunya menyengat dan sering membuat masalah, jika diolah 
Pemda DKI, dapat berbuah uang ratusan miliar rupiah. 
Kalaupun tidak bisa dibilang sepenuhnya merupakan pemberian, setidaknya pemerintah 
Jepang melalui OECF (Overseas Economic Cooperation Fund Japan) memberikan pinjaman 
lunak sebesar 3,32 miliar Yen atau Rp 298,8 miliar dengan kurs Rp 90. 
Dana ratusan miliar rupiah itu difokuskan untuk pengelolaan tempat pembuangan akhir 
(TPA) sampah di Bantar Gebang, Bekasi. Beberapa tahun lalu, justru dari TPA Bantar 
Gebang yang didanai Jepang itu masalah-masalah lingkungan muncul. 
Seriusnya gangguan lingkungan terhadap sekitar TPA Bantar Gebang telah memaksa Pemda 
DKI mengalokasikan dana tambahan Rp 10 miliar untuk menanggulangi pencemaran. 
Hasil penelitian tim yang dipimpin Wakil Gubernur DKI bidang Pembangunan Budihardjo 
Sukmadi pada 1999 menyebutkan pencemaran limbah cair dan polusi udara di lingkungan 
permukiman TPA Bantar Gebang, akibat IPAS (instalasi pengelola air sampah) hanya 
berfungsi 30%. 
Menurut Budihardjo sebenarnya Bappedalda DKI sudah membuat IPAS. Hasil operasional 
IPAS tidak bisa maksimal karena kabelnya sering dicuri hilang. Akibatnya, IPAS tidak 
bisa dioperasikan 24 jam karena listriknya padam. 
Dampaknya, penanggulangan hanya mampu diatasi sekitar 30%. "Sisanya (70%) itulah yang 
mencemari lingkungan penduduk," jelas Budihardjo sekaligus mengakui kebenaran 
penelitian Dinas Kesehatan Bekasi itu. 
Salah satu alokasi dana bantuan OECF nanti adalah pengadaan 161 unit truk angkutan 
sampah, 140 unit kontainer dan tujuh unit kendaraan penunjang (truk tangki, pikap, dan 
vacuum tank). Hal ini menjawab keluhan Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Saksono 
Soehodo yang semula mengatakan kekurangan alat pengangkut kendaraan berat. 
Ketua Komisi D DPRD DKI Sayogo Hedrosubroto ketika ditanya soal dana pinjaman lunak 
dari Jepang tersebut malah mengaku belum tahu. "Kalau nanti ada penyimpangan kita 
tanyakan di Cipayung sajalah rapat teknis tahunan pemda dengan DPRD DKI," ujarnya. 
Ternyata persoalan sampah memang menjadi sangat pelik karena anggota Dewan sendiri 
kurang menaruh perhatian terhadap efektivitas pemakaian dana meski jumlahnya sangat 
besar yakni ratusan miliar rupiah. (Sad/J-1)

Kirim email ke