http://kompas.com/kompas-cetak/0104/17/IPTEK/ratu10.htm
>Selasa, 17 April 2001

Ratusan Petani Tolak Kapas Transgenik

Kompas/agus susanto 
Jakarta, Kompas 
Gara-gara kapas transgenik, dua Saragih saling berhadapan dan berbantahan. Mereka 
adalah Henry Saragih, Ketua Umum Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI), dan 
Bungaran Saragih, Menteri Pertanian. Henry Saragih menuntut agar izin pelepasan 
terbatas kapas transgenik di Sulawesi Selatan (Sulsel) dibatalkan oleh Menteri 
Pertanian, sementara Bungaran Saragih menyatakan, izin yang diberikan hanya satu tahun 
dan akan dievaluasi. 
"Kami sempat berbantahan. Menteri Bungaran Saragih menyatakan bahwa izin yang 
diberikan hanya pada kapas, bukan untuk tanaman pangan," kata Henry Saragih kepada 
Kompas, Senin (16/4) petang. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0104/17/IPTEK/terb10.htm
>Selasa, 17 April 2001

Terbaik, Keanekaan Hayati Laut di Raja Ampat

Jayapura, Kompas 
Keanekaan hayati laut di Kepulauan Raja Ampat, Sorong, Irian Jaya, dinilai terbaik di 
Indonesia, termasuk terumbu karangnya. Hasil pengidentifikasian 450 jenis karang, 950 
jenis ikan karang, dan 600 jenis moluska oleh para ahli selama dua pekan di Kepulauan 
Raja Ampat mengungkapkan, ada empat jenis ikan temuan baru dan tujuh jenis karang 
baru. 
Hal itu mengemuka dalam jumpa pers yang dipandu Manajer Program Conservation 
International (CI) Irian Jaya (Irja) Suer Suryadi di Hotel Yasmin Jayapura, Sabtu 
(14/4) lalu. Hadir sebagai pembicara Dr Gerry Allen, peneliti dan ahli ikan karang 
dari CI, Dr John Veron ahli karang dari Australia, Dr Fred Wells ahli moluska dari 
Australia, dan Dr Sheila Mckenna (Direktur Marine Rapid Assessment Program/Rapid) CI). 
CI bekerja sama dengan Universitas Papua di Manokwari mengadakan penelitian laut di 
Kepulauan Raja Ampat, khususnya menyangkut ikan, terumbu karang, ikan karang, moluska, 
dan tingkat kesehatan karang. 
John Veron menyimpulkan, laut di Kepulauan Raja Ampat adalah kawasan karang terbaik di 
Indonesia. Ia juga mengusulkan agar Raja Ampat secepat mungkin dijadikan situs warisan 
dunia untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati di sana. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0104/17/IPTEK/perl10.htm
>Selasa, 17 April 2001

Perlu Kearifan Menyikapi Produk Tanaman Transgenik

Bogor, Kompas 
Menyikapi pro-kontra terhadap kehadiran kapas transgenik di tujuh kabupaten di 
Sulawesi Selatan (Sulsel), pakar kehutanan dan lingkungan Ir Transtoto Handadhari 
berpendapat, hal itu harus dihadapi secara moderat dan tidak cepat apriori. 
"Kearifan memberikan toleransi terhadap upaya pemerintah untuk melakukan setiap 
perbaikan, perlu dikedepankan dengan tanpa mengurangi sifat kritis. Sebaliknya, 
pemerintah juga harus bijak dan terbuka dalam membuat keputusan menghadapi tantangan 
maupun pilihan masyarakat apabila program yang diluncurkan benar membahayakan 
lingkungan dan kehidupan," katanya kepada Kompas, Sabtu (14/4) lalu di Bogor. 
Transtoto mengatakan, di Indonesia bioteknologi sendiri sebenarnya masih di tingkat 
laboratorium. Oleh karena itu, penerimaan masyarakat secara riil masih belum dapat 
diukur berkaitan dengan kurang tersedianya informasi. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0104/17/IPTEK/indu34.htm
>Selasa, 17 April 2001

Industri Ukir dan Kerusakan Lingkungan 

Kompas/danu kusworo 
DALAM kurun waktu hanya delapan tahun, industri kerajinan mebel ukir di Jepara, Jawa 
Tengah, melesat sangat cepat. Ini ditandai dengan melonjaknya hasil produksi yang 
dijual kepada sekitar 40 negara di dunia.Bahkan yang paling spektakuler, ketika nilai 
tukar rupiah terhadap dollar AS anjlok hingga Rp 12.000-Rp 15.000 per dollar, pelaku 
industri kerajinan mebel ukir Jepara bagai kejatuhan emas dari langit. Jika 10 tahun 
yang lalu Anda pernah pergi ke Jepara, maka yang terlihat di sana secara umum hanyalah 
sebuah potret daerah tingkat II yang kusam. 
Maklum kabupaten yang terletak sekitar 75 kilometer tenggara Kota Semarang ini, tidak 
memiliki modal industri yang memadai. Meski di sana terdapat industri rumah tangga 
tenun troso, keramik mayong, monel (baja putih) purwogondo, dan mebel ukir tahunan 
yang cukup di kenal di Jawa Tengah dan sekitarnya. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0104/17/IPTEK/ekol35.htm
>Selasa, 17 April 2001

Ekolabel, Sandungan Ekspor Mebel Indonesia 

Kompas/danu kusworo 
PERSYARATAN sertifikat ekolabel tampaknya menjadi sandungan ekspor mebel Indonesia. 
Dari 600 eksportir yang tergabung dalam Asosiasi Mebel Indonesia (Asmindo), hanya 35 
pengusaha saja yang memiliki sertifikat ini. Selain biayanya mahal, masih banyak 
perusahaan mebel Indonesia yang belum dapat memenuhi standar sistem audit.Sertifikat 
ekolabel adalah label pada produk yang menunjukkan bahwa produk tersebut dibuat dengan 
mengindahkan kaidah-kaidah kelestarian lingkungan hidup. Sertifikat ekolabel 
diharapkan dapat membantu konsumen untuk memilih produk-produk barang yang ramah 
lingkungan. Kalau sebuah perusahaan mebel memperoleh sertifikat ekolabel, itu berarti 
produk mebel yang dikeluarkannya hanya menggunakan bahan baku kayu yang berasal dari 
unit manajemen hutan yang dikelola secara lestari. 
Ketua Asmindo M Djalal Kamal seusai acara Rembug Mebel dan Kerajinan Tangan di 
Semarang, beberapa waktu lalu, mengungkapkan, setiap tahun eksportir mebel harus 
membayar 5.000 dollar AS untuk biaya administrasi sertifikat ekolabel, ditambah dengan 
biaya per tahun sebesar 1.000 dollar. 
Sayangnya, pelaksanaan konsep ekolabel sering dinilai tidak proporsional, dan 
mengakibatkan produk yang bersertifikat ekolabel tersebut menjadi tidak kompetitif. 
"Kalau konsep ekolabel itu murni untuk pelestarian hutan, tidak ada jalan lain, 
pengusaha mebel harus memback-up. Kami sadar setiap tahun terjadi degradasi hutan 
sebesar 1,6 hektar. Itu angka yang sangat kritis. Namun sayangnya, dalam 
pelaksanaannya sering kali ada motivasi lain, dan ada unsur persaingan tidak sehat. 
Yah, kita harus fight," ujar Djalal. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0104/17/EKONOMI/inda13.htm
>Selasa, 17 April 2001

Indah Kiat dan Tjiwi Kimia Mungkin Merger

Jakarta, Kompas 
PT Indah Kiat Tbk dan PT Tjiwi Kimia Tbk dimungkinkan akan merger dalam rangka 
memperkuat bisnis pulp (bubur kertas) dan kertas perusahaan induknya, Asia Pulp and 
Paper Company (APP), yang sedang dililit utang. Selain langkah merger, Indah Kiat dan 
Tjiwi Kimia akan melakukan langkah divestasi strategis. 
"Namun demikian, rencana merger tersebut masih dalam kajian. Akan ditimbang-timbang 
apa baik dan buruknya," ujar Direktur Tjiwi Kimia Gunawan Taslim, usai ekspose publik 
di Jakarta, Senin (16/4). Ekspose publik yang dilakukan atas permintaan Bursa Efek 
Jakarta (BEJ) ini antara lain untuk menjelaskan mengenai langkah APP dan kedua anak 
perusahaan yang menunda pembayaran dan pokok utang (debt standstill) mulai Maret lalu. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0104/17/DAERAH/pete21.htm
>Selasa, 17 April 2001

Peternak Itik Alabio Dibayangi Kehancuran

Banjarmasin, Kompas 
Ratusan peternak itik alabio Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten Hulu Sungai Utara 
(HSU), Kalimantan Selatan terancam gulung tikar menyusul mahalnya harga pakan ternak 
belakangan ini. Dari sekitar 160 KK (kepala keluarga) peternak, sudah 40 persen di 
antaranya tak lagi melakukan peternakannya. Demikian juga populasinya yang semula 3,5 
juta-4 juta ekor itik per tahun, kini kurang dari 1,5 juta ekor. 
Juga produksi telur yang semula antara 100.000-150.000 butir per minggu tinggal 
separuhnya lagi. Sementara membanjirnya telur yang sama dari Pulau Jawa dengan harga 
murah memperlemah semangat peternak dalam kegiatan mereka. "Kami yakin tahun 
berikutnya peternak itik ini akan bangkrut bila pemerintah tak mampu mengatasi terus 
tingginya harga pakan," kata H Abdurahman Alwi, seorang peternak hari Senin (16/4) di 
Banjarmasin. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0104/17/DAERAH/pern24.htm
>Selasa, 17 April 2001

Pernyataan Presiden Mengecewakan Petani

Demak, Kompas 
Pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid agar petani tidak lagi menanam padi, tetapi 
beralih mengembangkan penganekaragaman tanaman, membuat kecewa petani Jawa Tengah 
(Jateng). Presiden dinilai tidak mencarikan solusi terbaik, dan tampaknya tidak begitu 
menguasai seluk-beluk masalah pertanian. 
Dalam dialog dengan petani di Masjid Agung Kabupaten Demak, Jateng, Jumat (13/4) lalu, 
Presiden menyatakan dalam satu-dua tahun mendatang sebaiknya petani-khususnya di 
Demak-tidak menanam padi banyak-banyak dalam arti memperluas tanaman padi. Presiden 
juga mengatakan, petani Demak tidak perlu menargetkan diri sebagai salah satu lumbung 
beras terkemuka di Jateng. 
Menurut Presiden, dalam satu-dua tahun mendatang bakal "banjir" beras di seluruh 
dunia, karena produksi negara penghasil beras berlebihan. Bahkan Vietnam merancang 
menanam padi satu juta hektar. "Di Amerika Serikat dan Eropa Barat, pemerintah bahkan 
membayar petani agar tidak menanam padi. Dengan kata lain, saya menganjurkan pimpinan 
daerah dan petani mulai memikirkan penganekaragaman tanaman," tegas Presiden. 

http://www.suaramerdeka.com/harian/0104/17/dar32.htm
Selasa, 17 April 2001 Jawa Tengah - Banyumas 

Nenek Moyang Sudah Kenal Bioteknologi
Prof Dr Triani

PURWOKERTO - Nenek moyang kita ternyata sudah mengenal bioteknologi. Rekayasa 
teknologi itu bermanfaat bagi umat manusia, dan penemuan embah-embah kita dulu di 
antaranya adalah tempe. ''Mereka juga sudah menemukan tape, dan orang-orang Bali sudah 
pandai membuat brem,'' kata Prof Dr Triani Hardiyati, dalam orasi ilmiah pengukuhan 
guru besar Fakultas Biologi, Unsoed Sabtu.
Dia mengatakan, nenek moyang kita telah menggunakan sistem bioteknologi untuk membuat 
atau mendapatkan sesuatu sehingga mempunyai nilai tambah. Pada hakekatnya telah lama 
dikenal dan dimanfaatkan di Indonesia, antar lain dalam pembuatan makanan dan minuman 
fermentasi tradisional seperti tempe, oncom, kecap, taoco, tuak dan brem Bali dan lain 
sebagainya.

Kirim email ke