Ass.w.w
Mas Agung yang baik,
Anda tidak sekedar mengusir sepi ketika sahabat-sahabat kita sedang
beristighatsah di Senayan. Inilah yang kadang-kadang merisaukan saya. Apa
memang perlu ada semacam "agama baru" yang Anda sebut environmentalisme
itu? Visi dan misi LEAD misalnya, saya kira berakar pada pemikiran atau
filsafat lingkungan. Sayangnya, kita belum mampu untuk memberikan ruh pada
gerakan lingkungan yang mungkin bisa berakar pada agama kita
masing-masing. Dalam Islam misalnya, belum banyak yang mampu mengelaborasi
implikasi ayat " wa laa tufsidu fi al-ardh," (dan janganlah berbuat
kerusakan di bumi) dan kaitannya dengan kegiatan kita sehari-hari. Kita
bisa menggalakkan pelestarian lingkungan melalui pesantren misalnya, tetapi
beberapa waktu yang lalu kita menyaksikan penebangan pohon-pohon sebagai
pelampiasan kemarahan.
Salam,
Hadimulyo
LEAD Cohort 1
----------
From: Agung Setiya Budhi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [envorum] Mengusir sepi
Date: Sunday, April 29, 2001 10:05 AM
Dear all ethicists,
Pengelolaan lingkungan selama ini, yang lebih banyak terfokus pada tata
lahir, ternyata masih jauh dari harapan, kalau tidak mau dikatakan sebagai
kegagalan. Padahal sudah banyak sekali perangkat pengelolaan yang digelar,
mulai dari teknologi lingkungan, ekonomi lingkungan, hukum lingkungan,
kesehatan lingkungan, sistem manajemen lingkungan, organisasi lingkungan
dlsb. Sudah banyak pula perangkat-perangkat tersebut berpedoman dan
mengikuti standard, bahkan standard international yang berlaku, semisal SML
ISO 14001, ekolabel, teknologi proven dlsb.
Apa sebenarnya yang menyebabkan hal ini? Apa sebenarnya root cause masalah
ini? Ibarat dalam agama, sudah banyak perangkat pelaksanaan agama, sudah
lengkap syariat dan tutunan ajarannya, sudah baku dan standard
pedoman-pedoman pelaksanaannya, namun demikian tidak semua orang,
barangkali malah sebagian besar orang, tergolong saleh dan berperilaku
sesuai dengan ajaran agama dalam 24 jam kehidupan sehari-harinya.
Barangkali, tidak banyak perdebatan, untuk menjawab fenomena keber-agama-an
seseorang tersebut, orang akan bilang yang paling utama dan menjadi
penyebab utama adalah keimanan. Keimanan menjadi driving force yang selalu
membakar dan menyemangati setiap langkah amal perbuatan. Tanpa keimanan,
amal akan terasa hampa dan superficial sekedarnya saja, asal sudah
dikerjakan, sudah gugur kewajiban. Sehingga sebagai akibatnya ajaran agama
tidak membekas dalam diri individu. Karena itulah. para penda'wah agama
senantiasa mengingatkan umatnya untuk selalu meningkatkan derajat keimanan
dan kesalehannya.
Apakah bisa di-analogi-kan antara pengelolaan lingkungan dengan pelaksanaan
ajaran agama?
Sekedar hipotesis, yang barangkali masih debatable, boleh dijawab : ya.
Hipotesis lebih dalam lagi mengibaratkan/meng-analogi-kan ligkungan sebagai
"agama". Sehingga kaidah-kaidah yang berlaku dalam agama bisa
di-analogi-kan juga dalam lingkungan. Lingkungan dengan segala syariatnya
seperti perangkat-perangkat lingkungan diatas, masih membutuhkan unsur
penting dan utama yaitu keimanan atau spiritual lingkungan atau bahasa
inggrisnya "environmentalism". Barangkali ini yang belum banyak dikupas
oleh para penda'wah lingkungan. Sehingga yang berjalan selama ini bagaikan
raga tanpa jiwa, atau bagaikan mayat hidup tanpa ruh.
Apakah memang demikian? Bagaimana menurut anda? Bukankah praktek
pengelolaan lingkungan yang ada memang berjalan superficial ala kadarnya,
asal menggugurkan kewajiban saja? Atau barangkali masih ada yang
kucing-kucingan dengan perangkat hukum? Sehingga biar tampak cantik dari
luar walaupun penuh bopeng dari dalam, biar bisa melamar dan menyunting
Sertifikat ISO 14001?
Kami persilakan para rekan aktivis untuk berkomentar. Kami menunggu second
opinion anda-anda sekalian. Untuk mengisi dan memakmurkan "masjid"
mailing-list yang sepi ini.
Salam,
Agung Setiya Budhi.- 61112
----------