Original Message ---From: Sulis'tp <[EMAIL PROTECTED]>;To: 
<[EMAIL PROTECTED]>;Sent: Wednesday, May 16, 2001 12:40 PM;
Subject: [iluni-world] Yosepha: Saya Panah Freeport Demi Kebenaran


Yosepha: "Saya Panah Freeport Demi Kebenaran"  Indonesia nyaris kehilangan panutan 
(living example).
Maklum, Gus Dur, Megawati, Akbar Tanjung dan Amien Rais kerjanya beradu berebut 
kekuasaan di atas penderitaan rakyat. Rakyat Papua
pun dalam situasi bingung : terjadi silang pendapat yang mempertanyakan 
kredibilibilitas beberapa di antara pemimpin perjuangan
Papua. Benarkah perjuangannya demi kepentingan rakyat banyak, atau menggunakan rakyat 
banyak demi kepentingan pribadinya?
Tiba-tiba dunia digemparkan. Harian New York Times edisi 24 April 2001 memuat iklan 
tentang 7 tokoh dunia yang masing-masing
mewakili benua Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia sebagai penerima hadiah Goldman 
Environmental Prize 2001. Seperti enam
Goliath, mengelilingi satu Daud, ada kelihatan satu  Mama Kariting dan Hitam di antara 
mereka. Dia berbadan pendek, tapi paling
menyolok. Dia menjadi  salah satu sumbangan terbaik dari Papua untuk dunia.
Tapi aneh bin ajaib. Indonesia tidak berterima kasih. Mama Yosepha yang mengibarkan 
nama Indonesia bahkan Asia di pentas
internasional itu pulang tanpa sambutan. Diam-diam. Di manakah Tuan Sony Keraf 
(Menteri Lingkungan Hidup) dan Tuan Jaap Salosa
(Gubernur Papua) berada? Mungkin dorang anggap Yosepha perempuan Papua  terkebelakang, 
tidak berpendidikan akademis formal, mungkin
primitif .
Moralnya kelihatan. Rupanya mereka terlanjur menganggap perempuan Papua ini bodoh dan 
terkebelakang. Nyatanya, dalam kebodohan dan
keterbelakangannya, tidak tanggung-tanggung, figur itu menampar telak muka sebuah 
mafia internasional yang dengan kelimpahan uangnya
dia telah membeli  kelompok  intelektual paling pintar di Indonesia, di Amerika bahkan 
di dunia. Figur itu muncul dari
kesederhanaannya dan membawa keteladanan yang meruntuhkan keangkuhan.   Dialah Mama 
Yosepha Alomang, perempuan Papua dari suku
Amungme. Dia muncul dari lautan tangis anak Papua akibat kehadiran PT Freeport di 
Timika sejak tahun 1967.
Kepada sesama Papua dari kampung-kampung di Biak, pada tanggal 9 Mei 2001 Mama Yosepha 
bercerita. " Dahulu kala, alam di kampung
kami bersih. Gunung bersih, air bersih, hutan bersih. Mama-Mama bikin kebun dan 
menyanyi,  selalu lihat gunung hijau. Kali jernih
sampai bisa lihat ikan dan karaka main bebas di dalam air.  Lalu Freeport datang, ada 
25 negara makan di dalam Freeport. Mereka
bikin rusak air, bikin rusak hutan, bikin rusak gunung, bikin rusak sagu, bikin rusak 
ikan dan karaka. Freport juga bikin rusak
manusia. Semua dimasukkan ke dalam pipa kemudian dialirkan ke Amerika."
Saya menangis, orang kampung saya menangis. Tangisan saya menjadi tangisan seluruh 
Papua. Kesakitan saya menjadi kesakitan seluruh
Papua.  Tahun 1974, saya mulai berjuang. Saya lawan Freeport sebab mereka bikin rusak. 
Saya tanya : "kenapa kamu bikin rusak?"
Freeport bilang, "tanah ini milik negara. Kami sudah beli dari negara".  Saya tanya : 
"sejak kapan negara bikin tanah, air, ikan dan
karaka lalu kasih saya sehingga dia boleh ambil seenaknya?" Ini Tuhan yang bikin dan 
kasih saya. Saya seorang perempuan, orang
Freeport lahir dari perempuan, tentara lahir dari perempuan, negara juga lahir dari 
perempuan. Dan saya tidak takut kepada Freeport,
saya tidak takut kepada tentara atau negara, mereka juga lahir dari perempuan saja mo! 
Saya hanya takut kepada TUHAN!" Lalu  saya
angkat panah perjuangan melawan Freeport.
Bagi Mama Yosepha, kalau laki-laki sudah tinggalkan anak panahnya maka terpaksa 
perempuan harus jadi laki-laki dan angkat anak panah
perjuangan. Dan itulah yang dia alami. Dahulu, Amungme punya dua pemimpin. Satu adalah 
laki-laki bernama Thom Beanal, satu lagi
adalah perempuan itulah Mama Yosepha. Tapi Freeport sudah ambil Thom Beanal dan 
memasukkan Bapa Thom dalam pipa sama-sama dengan
hasil kekayaan alam dari Timika untuk dikirim ke Amerika.
Sekarang Mama Yosepha angkat Thom punya anak panah lalu memanah Freeport. Mama Yosepha 
berjuang tanpa mengenal menyerah, lima kali
masuk penjara. Satu kali disiksa dalam kontainer. Apakah Mama berhenti? Tidak.
"Perjuangan saya pertama-tama adalah karena kebenaran. Kedua adalah karena keberanian. 
Saya tidak pernah bisa dibeli dengan uang.
Waktu mau terima penghargaan Goldman Environmental Prize 2001, Freeport bilang sudah 
beli saya dengan US $ 248.000. Tapi saya tanya
: uang itu ada di mana? Siapa makan itu uang? Perjuangan
Mama Yosepha tidak bisa dibeli dengan uang. Karena Mama Yosepha berjuang bukan untuk 
uang, bukan untuk pangkat tapi untuk kebenaran
dan untuk angkat harga diri manusia."
Bagi Mama Yosepha, perjuangannya melawan Freeport adalah salah satu bagian dari 
perjuangan seluruh Papua melawan ketidak-adilan.
Hak-hak orang Papua sudah dijual.   Banyak orang Papua sudah dijual dan mati.
Dan sekarang orang Papua mau berjuang untuk dapat kembali haknya. Karena itu, Mama 
Yosepha menyerukan agar perjuangan menegakkan
kebenaran ini dijauhkan dari sifat kejar uang dan pangkat.
"Kalau perjuangan orang Papua, dan bahkan manusia di seluruh dunia untuk mengakat 
kebenaran didasari dengan kepentingan mencari uang
dan pangkat, maka perjuangan akan sia-sia. Kita bukan berjuang tapi baku jual!"
Mama Yosepha mengakhiri pidatonya dengan bahasa filosofis khas orang gunung. 
"Perjuangan saya mengalir seperti air dari gunung,
tidak berhenti. Kau tidak bisa stop saya dengan uang atau pangkat, sebab saya berjuang 
untuk kebenaran. Harkat dan martabat orang
Papua itu yang Mama Yosepha perjuangkan. Dan saya tidak takut dengan Freeport, tentara 
atau negara. Saya hanya takut TUHAN, sebab
saya berdiri di atas gereja. Gereja adalah saya dan saya adalah gereja!"  Itulah 
pengakuan Mama Yosepha Alomang.
Salut kepada Mama Yosepha. Selayaknya pejuang intelektual (Papua) menurunkan 
keangkuhan hatinya lalu belajar berjuang dari
keteladanan perjuangan Mama Yosepha. Yosepha adalah teladan yang hidup.
Yosef/ipo)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Lenyapnya perikemanusiaan dalam kegalauan sosial yang busuk, berarti pula tipisnya 
kepribadian, bukan saja sebagai bangsa,  tetapi
juga sebagai individu.
Dan bangsa atau nasion yang begitu mudah menanggalkan perikemanusiaan  dengan 
sendirinya mudah pula tersasar dalam perkembangan
sejarah.
Pramoedya Ananta Toer dalam Hoakiau di Indonesia, 1960
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
From: <[EMAIL PROTECTED]>;


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke