Daftar berita terlampir:
* Bensin Nontimbal Bisa Langsung Dipakai Semua Jenis Kendaraan (2001-06-11)
* 15 Perusahaan Janji tak Cemari Jakarta, Program Langit Biru hanya Gembar-gembor 
Semata (2001-06-11)
* Pemda Kutai Timur Tidak Akan Terbitkan Izin HPHH  (2001-06-11)
* Presiden: Kita Wajib Kembalikan Hutan (2001-06-11)
* Air Akan Jadi Sumber Konflik di Masa Depan (2001-06-11)
* Pencemaran Tanggung Jawab Bapedalda (2001-06-11)
* Dua Ekor Gajah Dievakuasi dari Sampit (2001-06-11)
* Kenaikan Harga BBM akan Kontraproduktif dengan Realisasi Bensin Tanpa Timbal 
(2001-06-11)
* Moratorium dari Emmy Hafild  (2001-06-10)
* Bapedal Hendaknya Mengontrol Kandungan Timbal Dalam Bensin (2001-06-09)
* Pemerintah Tetap Tolak Limbah Impor (2001-06-09)
* Pembentukan Sahabat Terumbu Karang Butuh Waktu Panjang (2001-06-09)
* Ekonomi Tak Harus Korbankan Lingkungan (2001-06-09)
* Belasan Perusahaan Bersedia Hindarkan Pencemaran Udara (2001-06-09)
* Sigma pacu penggunaan bahan ramah lingkungan (2001-06-08)

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Bensin Nontimbal Bisa Langsung Dipakai Semua Jenis Kendaraan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=769
Bensin nontimbal dapat langsung digunakan untuk berbagai jenis kendaraan tanpa 
memerlukan peralatan tambahan lainnya. Namun demikian, alat catalyst conventer tetap 
diusulkan untuk digunakan, terutama untuk kendaraan baru. 
Ahmad Safrudin, Koordinator Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) mengungkapkan 
hal itu, seusai acara dialog interaktif di Jakarta, akhir pekan lalu. 

"Perubahan penggunaan dari bensin bertimbal menjadi tanpa timbal tidak selalu 
memerlukan catalyst conventer. Karena, peralatan tersebut hanya efektif menurunkan 
emisi," ujarnya. 
(Media Indonesia, 2001-06-11)



15 Perusahaan Janji tak Cemari Jakarta, Program Langit Biru hanya Gembar-gembor Semata
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=770
AKHIR pekan lalu 15 perusahaan menandatangani perjanjian di depan pejabat Pemda DKI 
untuk tidak mencemari langit Jakarta dengan asap pabriknya. 
Perusahaan yang menandatangani perjanjian itu bukan perusahaan `kacangan`, seperti PT 
National Gobel, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Procter and Gambler Indonesia Tbk, 
PT Friesche Vlag Indonesia, dan PT Foremost Indonesia. 

Seperti tercantum dalam spanduk yang dipampang dalam acara tersebut, acara itu dibuat 
untuk mengingatkan orang akan Program Langit Biru yang dicanangkan Pemda DKI sejak 
1980-an. Para pejabat yang hadir antara lain Wakil Gubernur DKI Bidang Pembangunan 
Budiardjo Sukmadi dan Ketua Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) 
DKI Jakarta Aboejoewono. 
(Media Indonesia, 2001-06-11)



Pemda Kutai Timur Tidak Akan Terbitkan Izin HPHH 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=772
Pemerintah Daerah (Pemda) Kutai Timur, Kalimantan Timur, sampai kini tidak pernah 
menerbitkan izin hak pemanfaatan hasil hutan (HPHH). Untuk meningkatkan kesejahteraan 
masyarakatnya, pemda akan mengembangkan tanaman perkebunan dan pertanian dengan 
memanfaatkan lahan yang sudah ada, dan sama sekali tidak membuka hutan. 

Demikian ditegaskan Bupati Kutai Timur Awang Faroek ketika dihubungi dari Balikpapan, 
Sabtu (9/6). "Kutai Timur merupakan satu-satunya daerah di Kaltim yang tidak 
menerbitkan HPHH," ujar Awang Faroek yang memandang bahwa HPHH bisa menjadi puntu 
legalisasi pencurian kayu.
(Kompas, 2001-06-11)



Presiden: Kita Wajib Kembalikan Hutan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=773
Presiden KH Abdurrahman Wahid mengatakan, Indonesia banyak kehilangan hutan akibat 
perambahan yang tidak bertanggung jawab, baik oleh proses modernisasi maupun 
perkembangan ekonomi yang salah arah. "Kita wajib mengembali-kan hutan Indonesia yang 
telah hilang itu dengan bekerja keras, sekaligus melestarikan hutan untuk paru-paru 
dunia," ucap Kepala Negara dalam pertemuan dengan panitia dan calon peserta Jambore 
Nasional (Jamnas) 2001 di Semarang, Sabtu (9/6).Kegiatan Jamnas yang digelar di Wahana 
Wisata Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah, tanggal 3-13 Juli 2000 itu, rencananya 
diikuti 10.300 pramuka dari dalam dan luar negeri. 

Presiden mengaku tertarik dengan kerja sama antara Menteri Kehutanan dan Sekjen Pandu 
se-Dunia yang mengeluarkan semboyan "menyelamatkan hutan kita sebagai bagian dari 
gerakan kepanduan se-dunia", termasuk gerakan pramuka di Indonesia.
(Kompas, 2001-06-11)



Air Akan Jadi Sumber Konflik di Masa Depan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=775
Dengan semakin langkanya sumber daya air di berbagai daerah, terutama air bersih yang 
menjadi kebutuhan dasar manusia, pada masa depan hal ini akan menjadi sumber konflik 
di masyarakat. Itu akan dipicu dengan berlakunya otonomi daerah, yang memberi wewenang 
besar pada setiap daerah untuk mengelola sumber daya di daerahnya masing-masing. 

Untuk memperkecil kemungkinan terjadinya konflik maka langkah yang dianjurkan antara 
lain dengan menerapkan Undang-Undang (UU) Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA). 
Sayangnya, Rancangan Undang-Undang (RUU) PSDA yang ada tidak menyinggung masalah itu, 
dan tidak mencerminkan semua kepentingan yang ada.
(Kompas, 2001-06-11)



Pencemaran Tanggung Jawab Bapedalda
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=776
Pencemaran yang ditimbulkan oleh gas buangan kendaraan bermotor, sepenuhnya bukan 
tanggung jawab Balai Pengujian Kendaraan Bermotor (BPKB) sebagai institusi Dinas Lalu 
Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ). Alasannya, pihak DLLAJ hanya berwenang melakukan 
pengujian emisi sesuai aturan yang tertuang dalam Surat Menteri Lingkungan Hidup tahun 
1993. Dengan demikian, secara umum pihak Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah 
(Bapedalda) yang harus bertanggung jawab.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Jawa Timur Binsar T 
Siregar dan Kepala Sub Dinas Teknik Sarana Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) 
Jawa Timur Sudirman Lanbali ketika dikonfirmasi Kompas menyangkut tanggung jawab BPKB 
terhadap kasus pencemaran yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor, hari Sabtu (9/6), 
di Surabaya. 
(Kompas, 2001-06-11)



Dua Ekor Gajah Dievakuasi dari Sampit
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=777
Dua ekor gajah milik PT Inhutani (BUMN milik Dephut) terpaksa dievakuasi dari Sampit, 
Kalimatan Tengah ke Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Pasuruan. Evakuasi 
dilakukan untuk menyelamatkan hidup dua gajah sumatra (Elephas maximus) dari ancaman 
kerusuhan di wilayah itu. Selain itu, kedua gajah juga dinilai sudah tidak produktif 
lagi oleh pihak Inhutani, sehingga setiap hari kerjanya hanya makan tidur.

Tim penyelamat TSI-II Prigen drh Ivan Chandra, Sabtu (9/6) di Malang mengungkapkan dua 
gajah tersebut bernama Yudo (jantan) berumur 15 tahun dan Sri Rahayu (betina), 30 
tahun. Ivan yang langsung datang ke Sampit menjemput Yudo dan Sri Rahayu menuturkan 
Inhutani terpaksa memilih mengevakuasi kedua hewan berbobot empat ton. "Ancaman 
kerusuhan setiap hari membuat karyawan Inhutani trauma. Mereka tak sanggup lagi 
memelihara gajah," kata Ivan.
(Kompas, 2001-06-11)



Kenaikan Harga BBM akan Kontraproduktif dengan Realisasi Bensin Tanpa Timbal
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=798
Sarapan bersama Ahmad Safrudin

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 15 Juni 2001 mendatang akan 
kontraproduktif dengan realisasi bensin tanpa timbal yang dikampanyekan demi 
terciptanya udara bersih bebas polusi di Indonesia, ungkap Ahmad Safrudin. Pasalnya, 
masih ada sementara masyarakat menilai bahwa pemicu kenaikan tersebut salah satunya 
adalah bensin tanpa timbal itu sendiri.

Akan tetapi, bertolak dari pembicaraan yang pernah dilakukan pada Desember tahun lalu 
antara pihak pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan para stakeholders terkait, 
chief executive Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta ini mengatakan telah ada 
kesepakatan soal insentif bagi warga masyarakat untuk melakukan konversi atas bensin 
bertimbal menjadi sebaliknya. Besarannya adalah Rp 120 per liternya. Artinya, harga 
bensin tanpa timbal sedikit lebih mahal dibandingkan dengan bensin bertimbal yang pada 
waktu ditetapkan Rp 1150 per liter. "Dalam hal ini selisih tersebut menjadi beban 
subsidi pemerintah," katanya. 
(Kompas, 2001-06-11)



Moratorium dari Emmy Hafild 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=797
Emmy Hafild gerah melihat hutan yang terbakar dan tercabik-cabik ekosistemnya akibat 
dibabat secara sewenang-wenang. Karena itu, Emmy, sang aktivis lingkungan dan komandan 
Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) sibuk mengampanyekan moratorium atau jeda 
penebangan hutan. 
Ditemui Media saat pembukaan pameran lingkungan hidup Indonesia Enviexpo di Assembly 
Hall, Balai Sidang Senayan, Kamis (7/6) lalu, Emmy bersama komunitasnya, tampak sibuk 
menata stan Walhi. Setiap pengunjung yang mampir diajaknya mengisi kartu pos kampanye 
moratorium yang kelak akan disampaikan Walhi ke Departemen Kehutanan. 
(Media Indonesia, 2001-06-10)



Bapedal Hendaknya Mengontrol Kandungan Timbal Dalam Bensin
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=782
Dengan akan diberlakukannya penggunaan bensin tanpa timbal pada 1 Juli mendatang maka 
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) sebagai instansi yang berwenang 
melakukan kontrol pelaksanaan Program Penghapusan Bensin Bertimbal, hendaknya mulai 
melakukan pemeriksaan ke kilang minyak Pertamina. Hal ini untuk mengetahui kandungan 
timbal dalam bensin yang diproduksi perusahaan minyak milik pemerintah itu. 

Demikian ditegaskan Ketua Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta 
Ahmad Safrudin, yang juga Koordinator Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, dalam 
dialog interaktif di Enviexpo 2001 di Jakarta, Jumat (8/6) petang. Menurut Ahmad, 
rencananya penurunan kandungan timbal dalam bensin akan dilakukan Pertamina secara 
bertahap mulai April lalu. 
(Kompas, 2001-06-09)



Pemerintah Tetap Tolak Limbah Impor
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=783
Menteri Negara Lingkungan Hidup Sonny Keraf menegaskan, pemerintah sampai saat ini 
tetap menolak pengiriman limbah impor ke dalam negeri. Pertimbangannya, limbah-limbah 
impor itu diindikasikan mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3) yang berdampak 
negatif pada kehidupan masyarakat.Penegasan itu diutarakan Sonny Keraf kepada Kompas 
usai memberi pengarahan pada Lokakarya Nasional "Strategi Pengelolaan Keanekaragaman 
Hayati Dalam Era Otonomi Daerah" di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), 
Yogyakarta, Jumat (8/6). Penegasan tersebut berkaitan dengan penolakan para pemulung 
yang tergabung dalam Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) tentang limbah impor, yang 
disampaikan di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta pekan 
ini. 

Ia menyetujui penolakan pemulung itu. Menurut Keraf, pengiriman limbah impor telah 
menyalahi aturan dan dilakukan secara nakal oleh para pengusaha yang hanya ingin 
mengeruk keuntungan sesaat, tanpa melihat dampak lebih jauh bagi masyarakat. 
(Kompas, 2001-06-09)



Pembentukan Sahabat Terumbu Karang Butuh Waktu Panjang
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=786
Pembentukan badan Sahabat Terumbu Karang (Friends of the Reef, FoR) di Bali masih 
membutuhkan proses yang amat panjang, walaupun sekarang sudah ada lebih 30 stakeholder 
(pihak-pihak yang berkepentingan) yang mau bergabung dengan FoR. Selanjutnya, 
persoalan dana untuk konservasi juga masih membutuhkan proses untuk bisa diterapkan 
pemungutannya. 

Demikian diungkapkan Manajer Program Kebijakan dan Komunikasi, World Wildlife 
Foundation (WWF) Wallacea, Nina Dwisasanti, dalam jumpa pers hari Jumat (8/6) di Kuta, 
Bali, tentang program FoR, berupa Eksibisi dan Hiburan Musik dari 10-16 Juni 2001. 
(Kompas, 2001-06-09)



Ekonomi Tak Harus Korbankan Lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=787
Menteri Negara Lingkungan Hidup Dr Sony Keraf, yang sering dicap antiekonomi, 
menegaskan pembangunan ekonomi tidak harus mengorbankan lingkungan. Justru dari 
lingkungan alam bakal ditemukan sumber ekonomi yang dalam jangka panjang akan sangat 
berguna bagi bangsa Indonesia.

''Akhir-akhir ini berkembang pemikiran dengan pertimbangan ekonomi, lingkungan 
diabaikan,'' tandas Sony ketika berbicara dalam lokakarya ''Strategi Pengelolaan 
Sumberdaya Alam Hayati dalam Era Otonomi Daerah'', di Universitas Kristen Duta Wacana 
(UKDW), Jumat (8/6).
(Suara Merdeka, 2001-06-09)



Belasan Perusahaan Bersedia Hindarkan Pencemaran Udara
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=790
Sebanyak 15 perusahaan di Jakarta bersedia menjalankan program pengendalian pencemaran 
udara, dengan membuat berbagai sarana penunjang antipencemaran udara dan upaya 
pemenuhan baku mutu emisi. Program Langit Biru yang dicanangkan Gubernur DKI Jakarta 
dinilai kurang berhasil akibat lemahnya penegakan hukum. 

"Kesepakatan itu merupakan upaya pihaknya mengurangi pencemaran udara Jakarta yang 
termasuk tinggi di dunia," kata Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) 
DKI Aboejoewono seusai penandatanganan kesepakatan pemeliharaan udara bersih dengan 15 
perusahaan, Jumat (8/6).
(Kompas, 2001-06-09)



Sigma pacu penggunaan bahan ramah lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=765
Produsen cat PT Sigma Utama akan meningkatkan penggunaan bahan baku yang ramah 
lingkungan setelah berhasil mendapatkan sertifikasi ISO 14001 dari badan akreditasi 
KEMA. 
Direktur Utama PT Sigma Utama Achmad Rusyad mengatakan perusahaan telah bekerja keras 
untuk memperoleh sertifikasi lingkungan tersebut karena pada umumnya proses produksi 
pada industri cat sangat berkaitan dengan bahan-bahan kimia. "Kuncinya kami terus 
berupaya meningkatkan pengendalian lingkungan dalam seluruh proses produksi," 
ujar-nya. 
(Bisnis Indonesia, 2001-06-08)




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke