Daftar berita terlampir:
* Ada Sampah, Ada Sariban (2001-06-22)
* Belum Berhasil, Kampanye Antitebangan Liar  (2001-06-22)
* Indramayu Langka Minyak Tanah, Kayu Bakar Mengasapi Dapur lagi (2001-06-22)
* Kalau Hijau Mau Berkicau, "Wow"!  (2001-06-22)
* Bioregion akan Dimasukkan ke UUPSDA (2001-06-21)
* Teknologi Berkelanjutan Belum Diperhatikan (2001-06-21)
* SDA Terancam Punah  (2001-06-21)
* Konsep `Bioregion` sudah Mendesak untuk Diterapkan (2001-06-20)
* Keanekaragaman Hayati Irian Jaya Dapat Dijadikan Sumber PAD (2001-06-20)
* Kelestarian Hutan Menurut Orang Baduy  (2001-06-20)
* Peluang Dan Karir Di Bidang Lingkungan Hidup  (2001-06-20)
* Informasi yang salah menutupi kejahatan lingkungan (2001-06-06)
* Gerakan lingkungan di Indonesia hanya pelengkap (2001-06-05)
* Walhi: Freeport lakukan manipulasi informasi (2001-06-05)
* Denmark sediakan sistem informasi limbah kapal (2001-06-04)
* S'pura siapkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan (2001-05-31)
* Kebijakan publik UE harus lebih efektif demi lingkungan (2001-05-31)

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Ada Sampah, Ada Sariban
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=945
Aku wong cilik, senengku resik-resik. Supaya lingkungan hidup rumah tanggaku resik tur 
becik. (Aku orang kecil, senangnya bersih-bersih. Agar lingkungan hidup rumah tanggaku 
bersih juga baik)

Begitu bunyi tulisan yang tersurat pada sampul buku 'sakti' yang selalu dibawa Sariban 
(58) kemanapun pergi. Buku tersebut berisi pengakuan dari pedagang pasar, ketua RT, 
juga demonstran, yang menyatakan bahwa Sariban telah mendatanginya. Lebih dari seratus 
nama dari berbagai kalangan yang tercantum dalam buku kumal itu.
(Republika, 2001-06-22)



Belum Berhasil, Kampanye Antitebangan Liar 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=949
Praktik tebangan liar (illegal logging) yang mengakibatkan rusaknya hutan alam tropis 
sampai kini masih tetap marak. Kampanye antitebangan liar yang tengah dilancarkan 
Departemen Kehutanan tampaknya tidak menyebabkan praktik itu berkurang. Bahkan ada 
kecenderungan bahwa kemelut politik saat ini justru digunakan para penebang liar 
sebagai peluang untuk melakukan tindakan anarkis, dengan terus merusak hutan.

"Apa pun motif dan alasannya, seharusnya tebangan liar bisa dihentikan, jika semua 
pihak menginginkan kelestarian hutan di masa depan demi anak dan cucu kita sendiri," 
kata Transtoto Handadhari, pengamat ekonomi kehutanan/lingkungan, di Banjarmasin Rabu 
(20/6) lalu.
(Kompas, 2001-06-22)



Indramayu Langka Minyak Tanah, Kayu Bakar Mengasapi Dapur lagi
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=950
Akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kelangkaan minyak tanah mulai merambah 
wilayah Indramayu. Ketiadaan pasok minyak tanah mengakibatkan asap dapur banyak ibu 
rumah lebih tebal karena mereka kembali menggunakan kayu bakar.

Kelangkaan minyak tanah mulai terasa sejak kenaikan harga BBM akhir pekan lalu. 
Sebelumnya, meski jumlahnya sangat minim, namun masih ada stok minyak tanah di 
warung-warung atau agen walaupun dijual dengan harga tinggi, namun kini minyak tanah 
mulai menghilang di hampir seluruh wilayah Indramayu.
(Republika, 2001-06-22)



Kalau Hijau Mau Berkicau, "Wow"! 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=951
SEBAGIAN orang Jakarta rupanya benar-benar rindu "hijau". Peserta acara pengamatan 
burung (birdwatching) di Krida Loka, tetangganya Gelora Bung Karno, Senayan, Minggu 17 
Juni 2001, rata-rata menyatakan sulitnya menemukan kawasan hijau, juga masih berkicau. 
"Apalagi yang masih bersih dan aman," begitu katanya.Kebetulan pada acara itu, hadir 
beberapa tokoh yang kerjaannya akrab dengan soal "hijau dan berkicau" ini. Mereka 
antara lain Menteri Negara Lingkungan Hidup Sonny A Keraf beserta deputinya, kemudian 
Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Dephut Wahjudi Wardojo beserta 
direkturnya, juga Kepala Bapedalda DKI Jakarta Aboejoewono, rata-rata membenarkan 
keluhan itu.
Sonny Keraf yang datang bersama putra-putrinya, setelah berkeliling mengeker burung 
dengan teropong, serta sempat ikut tes kebugaran jalan cepat Klub Aerobik PKO Dr 
Sadoso, mengaku surprised melihat kawanan burung betet di pohon mahoni. "Mengapa sisa 
hutan kota di Gelora Bung Karno, ti-dak diperluas dan ditata sesuai asas konservasi 
yang pas. Kami akan ajukan kepada Ibu Wapres Megawati Soekarnoputri, agar di Senayan 
masih tersisa lahan untuk Hutan Kota Bung Karno," ujarnya.
(Kompas, 2001-06-22)



Bioregion akan Dimasukkan ke UUPSDA
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=930
Konsep bioregion akan dimasukkan dalam materi Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya 
Alam (UUPSDA). 
Deputi III Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Hariadi Kartodihardjo 
mengungkapkan hal itu di Jakarta, kemarin. 

``Konsep tersebut mengacu pada pendekatan karateristik sumber daya alam. Sehingga 
diharapkan akan mampu memecahkan persoalan lingkungan yang ada,`` ujarnya. 

Menurut Hariadi, hingga saat ini persoalan lingkungan tidak seluruhnya dapat teratasi 
dengan baik. Hal itu, lanjut dia, disebabkan sudut pandang mengenai sumber daya alam 
tersebut selalu dinilai berdasarkan komoditas masing-masing, seperti kayu, ikan, atau 
mineral yang dihasilkan. Akibatnya, kebijakan tiap-tiap instansi yang menangani juga 
cenderung berbeda-beda. ``Perbedaan tersebut yang menghambat penyelesaian masalah 
lingkungan,`` ujarnya. 
(Media Indonesia, 2001-06-21)



Teknologi Berkelanjutan Belum Diperhatikan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=935
Belum ada satu industri pun di Indonesia yang memperhatikan konsep teknologi 
berkelanjutan. Padahal, andaikan industri-industri itu melaksanakannya akan banyak 
penghematan ongkos produksi yang diperoleh. Yang penting dengan konsep ini dampak 
negatif terhadap lingkungan dapat dihindarkan.

Hal ini diungkapkan Ir Prasetyo Sunaryo MSP, peneliti Teknologi Lingkungan dan 
Pembangunan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Padahal di Eropa, jelas 
Prasetyo dalam Seminar Menyongsong Perkembangan 10 Tahun KTT Bumi, Peran Penguasaan 
Teknologi Lingkungan/ di Jakarta, Selasa, konsep ini sangat diperhatikan.
(Republika, 2001-06-21)



SDA Terancam Punah 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=940
Sumber daya alam (SDA) Indonesia saat ini terancam punah akibat sistem pengelolaan 
yang tidak lestari dan berkelanjutan. Karena itu, untuk masa mendatang konsep 
pengelolaan SDA harus diubah dari sistem administrasi yang selama ini diterapkan ke 
perspektif yang bersifat bioregion. 

Demikian pernyataan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) yang disampaikan Humas 
Walhi He-ning Parlan kepada Pembaruan, di Jakarta, Rabu (20/6). 

Sementara itu, pada diskusi yang digelar Departe-men Kehutanan dan Inhutani I, di 
Jakarta, Rabu (20/6), sejumlah pengurus LSM dan anggota DPRD Kaltim mengkritik cara 
pengelolaan sejumlah perusahaan kehutanan (HPH/HTI) dan perkayuan yang hanya 
mengeksploitasi sumber daya hutan.
(Suara Pembaruan, 2001-06-21)



Konsep `Bioregion` sudah Mendesak untuk Diterapkan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=905
Konsep bioregion sudah sangat mendesak untuk diterapkan di Indonesia. Sistem 
pengelolaan sumber daya berlandaskan prinsip ekologi ini diharapkan mampu menjaga 
keanekaragaman hayati di tiap-tiap wilayah, sekaligus mencegah konflik 
antarmasyarakat. 
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Indonesia Emmy Hafidz mengungkapkan hal itu di 
sela-sela workshop bioregion, kemarin, di Jakarta. 

"Jika dilakukan pendekatan secara sepotong-sepotong seperti saat ini melalui pembagian 
wilayah administratif, ataupun penerapan otoda, maka semakin akan mempercepat 
kepunahannya," ujarnya. 
(Media Indonesia, 2001-06-20)



Keanekaragaman Hayati Irian Jaya Dapat Dijadikan Sumber PAD
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=909
Sejumlah besar keanekaragaman hayati di Irian Jaya (Irja) dapat dibudidayakan menjadi 
sumber pendapatan asli daerah (PAD). Untuk itu, diakui bahwa memang dibutuhkan tenaga 
ahli. Pembudidayaan keanekaragaman hayati dinilai juga mampu menekan sistem penebangan 
kayu secara besar-besaran di daerah timur Indonesia tersebut.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Kantor Wilayah (Kanwil) Kehutanan Irja Ir 
Herman Prayitno mengemukakan hal tersebut di Jayapura, Selasa (19/6). Hutan, 
tambahnya, masih dipahami sebagian besar pejabat di daerah tersebut sebagai penghasil 
kayu log. Pemahaman mengenai keanekaragaman hayati masih sangat minim.
(Kompas, 2001-06-20)



Kelestarian Hutan Menurut Orang Baduy 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=919
"Pun Sapun,
Sapun ka Luluhuran, tabe ka handapeunnana
Kami amit mipit pikir, Kula menta jaga raksa
Rek nyacahankeun, anu dicacahankeun
Para Karolot sakabeh, geunna kami ieuh
Neda ditangtayung dipayung, neda dipanjang hampura
Ku para Karolot sakabeh
Pun Sapun!" 

Syahdan, dalam keheningan alam Kanekes, berujarlah para Baris Kolot Padaleman dan 
Kaluaran (Baduy Jero dan Baduy Luar), bahwa sejak karuhun pertama mereka: Adam Tunggal 
diciptakeun Maha Kersa, setelah diciptakannya bumi dan langit, mereka memeluk sebuah 
agama yang dinamai "Sunda Wiwitan". Agama yang diturunkan Sang Hyang Tunggal bagi 
orang Baduy tersebut bertempat di Kanekes. 
(SundaNet.Com, 2001-06-20)



Peluang Dan Karir Di Bidang Lingkungan Hidup 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=920
Direktori Pendidikan dan Bisnis Lingkungan Hidup 

Tantangan terbesar pada abad 21 tidak lain adalah pemulihan hancurnya lingkungan hidup 
di seluruh dunia. Kondisi sungai, hutan, laut dan perkotaan di tanah air Indonesia 
bisa dijadikan cermin keadaan makro maupun mikro. Di mata bisnis hal ini jelas peluang 
yang besar. Sedangkan bagi insan-insan progresif, yang selalu berusaha membangun karir 
maupun bisnis, para sarjana, cendekiawan dan generasi muda, kondisi ini jelas membuka 
peluang untuk mengembangkan keahlian dan keterampilan. Singkatnya, apa saja yang dapat 
dilakukan oleh pengusaha, cendekiawan dan aktivis lingkungan di Indonesia? 
(SundaNet.Com, 2001-06-20)



Informasi yang salah menutupi kejahatan lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=889
Pihak yang melakukan kegiatan yang berdampak terhadap lingkungan masih menggunakan 
pendekatan public relations yang canggih untuk menyebarluaskan informasi yang tidak 
benar dan menyesatkan.

Demikian menurut Walhi dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia dengan tema 
'Masyarakat Bebas Mengakses Informasi,' dalam siaran pers, Rabu.

Hal itu tidak saja menyesatkan publik atau mengurangi kehati-hatian dini masyarakat 
yang potensial terkena dampak lingkungan. Tapi juga telah menutupi berbagai kejahatan 
lingkungan yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar, seperti Newmont, Freeport, dan 
Indah Kiat.
(Satunet.Com, 2001-06-06)



Gerakan lingkungan di Indonesia hanya pelengkap
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=890
Gerakan lingkungan hidup di Indonesia hingga kini masih dalam tataran pelengkap 
program pembangunan yang dirancang untuk memberikan warna seolah-olah peduli terhadap 
keberlanjutan lingkungan hidup. 

Demikian pernyataan Walhi Jakarta dalam rangka Hari Lingkungan Hidup se-Dunia (HLHD) 5 
Juni.

Gerakan lingkungan hidup pada awal hingga akhir dekade 80-an, lanjutnya, terbungkus 
dalam pengembangan kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan hidup. Namun 
belakangan terbukti hal itu tidak mampu memberikan perubahan terhadap kebijakan 
pembangunan yang berorientasi pada pelestarian dan bahkan di beberapa wilayah sangat 
merusak dan menghancurkan lingkungan. 
(Satunet.Com, 2001-06-05)



Walhi: Freeport lakukan manipulasi informasi
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=891
Manipulasi informasi yang menyesatkan yang dilakukan PT Freeport Indonesia Co 
menyebabkan hak-hak publik untuk menerima informasi yang benar tidak terjadi.

Hal ini diungkapkan anggota Walhi Suwiryo Ismail di PN Jakarta Selatan, Selasa. 
Seharusnya hari ini berlangsung sidang gugatan Walhi terhadap Freeport, namun 
perusahaan ini tidak bisa hadir dengan alasan banyak kegiatan dalam rangka Hari 
Lingkungan Hidup se-Dunia (5 Juni).

Walhi menggugat PT Freeport karena tidak menjaga dan memelihata kelestarian lingkungan 
serta sengaja menutup-nutupi informasi yang benar terhadap longsornya tumpukan batuan 
limbah di Danau Wanagon di lokasi Freeport, Irian Jaya dan buruknya pengelolaan 
lingkungan hidup.
(Satunet.Com, 2001-06-05)



Denmark sediakan sistem informasi limbah kapal
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=892
Pemerintah Denmark menyediakan sistem informasi data yang memungkinkan kapal membuang 
limbah sesuai dengan aturan keamanan lingkungan.

Badan Perlindungan Lingkungan Denmark dan konsultan Carl Bro mengembangkan sebuah 
sistem informasi data yang berguna bagi kapal untuk mengindentifikasi fasilitas 
penampungan limbah di seluruh pelabuhan di negara tersebut. Bank data menawarkan akses 
informasi yang mudah dan cepat terhadap berbagai fasilitas pelabuhan untuk menampung 
residu minyak, sampah, limbah kimia, dan limbah lainnya.

Bank data berbahasa Inggris itu menyediakan informasi pelabuhan di Denmark yang dapat 
menerima jenis limbah khusus, jumlah yang bisa ditampung, dan berapa biayanya. 
Kapal-kapal yang sedang berlayar di perairan Denmark dapat menyimak informasi tersebut 
melalui akses internet. Jika kapal tersebut tidak memiliki akses internet, maka dapat 
mengetahuinya melalui perusahaan pelayaran.
(Satunet.Com, 2001-06-04)



S'pura siapkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=893
Pemerintah Singapura akan mengucurkan ratusan juta dolar untuk membuat negara-kota itu 
bersih dengan mengembangkan mobil berikut sumber energi bebas polusi. 

Menurut Direktur Teknik Badan Pembangunan Ekonomi Singapura [SEDB], Chua Taik Him, 
Kamis, dana tersebut akan digunakanuntuk membangung infrastruktur, melaksanakan riset 
dan pengembangan energi alternatif seperti halnya bahan bakar hidrogen untuk mobil. 

Dia menjelaskan, Singapura setelah menandatangani LoI dengan DaimlerChrysler, pabrik 
mobil patungan Jerman-AS, untuk melakukan percobaan penggunaan bahan bakar yang ramah 
lingkungan untuk mobil produk mereka. 
(Satunet.Com, 2001-05-31)



Kebijakan publik UE harus lebih efektif demi lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=894
Kebijakan publik harus lebih efektif dalam mempengaruhi skala pertumbuhan serta 
keterlibatan pola produksi dan konsumsi jika Eropa ingin menuju pembangunan 
berkelanjutan dan lingkungan.

Ini merupakan pesan inti dari laporan Environmental Signals 2001 yang diterbitkan 
Badan Lingkungan Eropa (EEA), Selasa.

"Laporan memperlihatkan masalah lingkungan yang sulit diatasi --termasuk efek rumah 
kaca, tekanan bagi lahan dan sumber daya air, polusi nitrat, dan bertambahnya limbah-- 
menjadi bagian dari Eropa," ungkap Domingo Jim�nez-Beltr�n, Direktur Eksekutif EEA 
seperti dilaporkan ENS.
(Satunet.Com, 2001-05-31)




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke