Daftar berita terlampir: * Paradigma Hukum Pemerintah Merusak SDA * AS Ancam Melarang Impor Udang Laut Indonesia * Ketua HKTI: Masyarakat Tak Perlu Tolak Produk Transgenik * Jurus Pertamina Membirukan Langit * Polusi Udara Bisa Timbulkan Gangguan Jiwa * Teliti Dulu, Baru Sodet Kali Cisadane * Penduduk Indonesia akan Dua Kali Lipat di Tahun 2050 * 129 Ekor Penyu Disita dari Pedagang Sate Penyu * Perlu Perda soal Mutu Udara Emisi Kendaraan * Sumber Air Jamnas Mengering * Bupati di NTB agar Dorong Konservasi Rusa * Rayakan pakai bahan bakar tanpa timbel lewat Fun Bike Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di http://www.terranet.or.id/terramilis.php http://www.terranet.or.id/berita.php TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan http://www.terranet.or.id ================================================================ Paradigma Hukum Pemerintah Merusak SDA http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1085 Dari perspektif hukum dan kebijakan, kerusakan sumber daya alam (SDA) dan pencemaran lingkungan hidup yang terjadi saat ini cenderung disebabkan oleh paradigma politik hukum yang dianut pemerintah. "Secara konkret, paradigma ini dapat dilihat dari instrumen hukum yang digunakan pemerintah untuk mengatur penguasaan dan pengelolaan SDA dan lingkungan hidup," kata I Nyoman Nurjaya, anggota Tim Teknis Penyusunan RUU Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA), saat berbicara dalam Lokakarya `Pengelolaan Sungai Terpadu` di Bogor, kemarin. Jika dicermati secara kritis, katanya, maka ditemukan fakta hukum bahwa substansi produk hukum negara--dalam bentuk perundang-undangan pengelolaan SDA yang ada--cenderung bernuansa sentralistis, bersifat sektoral, bercorak represif, dan mengedepankan pendekatan sekuriti. (Media Indonesia, 2001-07-05) AS Ancam Melarang Impor Udang Laut Indonesia http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1088 Amerika Serikat (AS) mengancam akan melarang impor udang laut dari Indonesia. Ancaman itu datang, menyusul laporan dari tim USA Marine Fisheries Inspector mengenai tidak dipenuhinya keharusan menggunakan alat yang memungkinkan keluarnya penyu (turtle excluder device/TED) pada jaring atau trawl di kapal-kapal penangkap udang.Jika ancaman itu terlaksana maka Indonesia akan kehilangan pendapatan ratusan juta dollar AS. Berdasarkan data US Custom Service, ekspor udang laut Indonesia ke pasar AS tahun lalu mencapai nilai 184,294 juta dollar AS dan berada di urutan ketujuh setelah Thailand, Kanada, Mexico, India, Equador, dan Vietnam. Indonesia mendapat kesempatan hingga 10 Juli 2001 untuk menyampaikan penjelasan kepada Pemerintah AS, sebelum Kementerian Luar Negeri AS menyampaikan hasil laporan itu kepada Kongres. Apabila Kementerian Luar Negeri AS menerima laporan itu, mereka akan meminta US Custom Service untuk menolak masuknya impor udang laut dari Indonesia. Penolakan itu akan diumumkan dalam Federal Register. (Kompas, 2001-07-05) Ketua HKTI: Masyarakat Tak Perlu Tolak Produk Transgenik http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1089 Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Siswono Yudohusodo meminta masyarakat agar tidak menolak keberadaan produk pertanian hasil rekayasa genetika, atau transgenik. Karena teknologi tersebut merupakan pilihan bagi penyediaan pangan dunia di masa depan. Selama ini, kata Siswono dalam Seminar Pangan Hasil Rekayasa Genetika di Istora Senayan, Jakarta, kemarin, telah banyak produk pertanian hasil rekayasa genetika yang dikonsumsi masyarakat. Misalnya, kedelai dan jagung. Dan nyatanya tidak ada masalah. ''Jadi kita tidak perlu menolak begitu saja penemuan baru produk pertanian itu,'' tegasnya. Menurut Siswono teknologi transgenik merupakan alternatif potensial untuk membangun dunia pertanian. (Republika, 2001-07-05) Jurus Pertamina Membirukan Langit http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1091 Asap tebal di udara menjadi pemandangan sehari-hari di Ibukota Jakarta. Semua itu akibat padatnya kendaraan bermotor yang memenuhi jalanan. Bahkan, Jakarta didaulat sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia setelah Meksiko dan Bangkok. Dari data yang ada, sekitar 2,5 juta knalpot membuang 600 ton polutan timbal per tahunnya. Racun yang dikandung berupa neurotoksin yang menyerang saraf, merusak perumbuhan otak anak, mengganggu fungsi ginjal, saluran pencernaan, sistem saraf remaja, menurunkan fertilitas, dan aborsi spontan. Unsur racun tersebut satu persen masuk ke kulit, pencernaan pun menyerapnya sebanyak 14 persen, dan sisanya ke pernafasan. Akibatnya dapat dibayangkan pada biaya kesehatan, menurunnya produktivitas kerja, dan parahnya, justru menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mengatasinya, program langit biru pun dikerahkan untuk mengurangi jumlah kandungan timbel di BBM. Menteri Energi dan SDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri KLH Sony Keraf, dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menerapkan program hasil ratifikasi Konvensi Rio De Janeiro tahun 1996. (Republika, 2001-07-05) Polusi Udara Bisa Timbulkan Gangguan Jiwa http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1070 Polusi udara ternyata dapat menimbulkan gangguan jiwa, jika seseorang yang terkena polusi merasakan dirinya tidak nyaman. Direktur Kesehatan Jiwa Masyarakat Departemen Kesehatan Jonli Indria mengungkapkan hal itu dalam acara Sosialisasi Program Pemeriksaan Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor di Jakarta, kemarin. "Rasa ketidaknyamanan akibat polusi udara dapat menimbulkan stres. Jika dibiarkan berlanjut, dapat berdampak luas karena mempengaruhi kapasitas berpikir," ujarnya. (Media Indonesia, 2001-07-04) Teliti Dulu, Baru Sodet Kali Cisadane http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1071 DPRD Kota Tangerang mendesak proyek pembangunan sodetan Kali Ciliwung-Cisadane dikerjakan setelah melalui studi kelayakan yang mendalam. Bila tidak, dikhawatirkan Kota Tangerang akan tenggelam karena lokasinya berada di sekitar muara Kali Cisadane. ``Kita tidak minta janji tertulis bahwa Kota Tangerang tidak akan menerima dampak negatif dari proyek itu. Tapi, yang kita minta adalah perlunya studi kelayakan yang matang atas proyek itu,`` papar Sekretaris Fraksi PPP Busro kepada Media, Selasa (3/7) siang. (Media Indonesia, 2001-07-04) Penduduk Indonesia akan Dua Kali Lipat di Tahun 2050 http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1074 Saat ini jumlah penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 1,4 persen pertahun. ''Ceteris Paribus penduduk ini akan menjadi dua kali lipat pada tahun 2050, berarti sekitar 400 juta jiwa,'' ungkap Kepala Badan Kependudukan Nasional (BAKNAS) Rozy Munir dalam keterangan persnya yang diterima Republika kemarin. Tragisnya, sebanyak dua pertiga dari jumlah penduduk di Indonesia ada di pulau Jawa. ''Berarti pulau Jawa akan dihuni oleh sekitar 260 juta jiwa, lebih besar dari jumlah penduduk Indonesia saat ini,'' kata Rozy. Indonesia saat ini menempati posisi keempat terpadat di dunia. Jumlah penduduk dunia sendiri saat ini mencapai lebih dari 6 milyar dan diperkirakan tahun 2050 membengkak menjadi 9 milyar. (Republika, 2001-07-04) 129 Ekor Penyu Disita dari Pedagang Sate Penyu http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1075 Sejumlah 129 ekor penyu hijau (Chelonia mydas) disita oleh tim Kepolisian Daerah (Polda) Bali dari pedagang sate penyu di Gang Penyu No 5A, Jalan By Pass Ngurah Rai, Denpasar, Selasa (3/7). Penggerebekan pedagang penyu ini merupakan yang terbesar dan pertama kalinya di Bali. Dalam penggerebekan yang dipimpin oleh Kepala Bagian Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Ajun Komisaris Besar Gede Artawan SH itu juga hadir Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Agus Hariyanto MSc, serta Kepala Sub-Bagian Analisa dan Evaluasi Direktorat Serse Polda Bali Komang Suwirya. Penyu-penyu tersebut disimpan di halaman belakang di bangunan berupa bedeng, sekaligus sebagai tempat penyembelihan penyu. Panjang karapaks (kulit punggung) penyu tersebut berkisar antara 40 sentimeter hingga 1,2 meter. Semua penyu tampak tidak berdaya karena kaki/sirip depannya dilubangi dan melalui lubang itu diikat jadi satu dengan tali. (Kompas, 2001-07-04) Perlu Perda soal Mutu Udara Emisi Kendaraan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1077 Untuk menciptakan udara Jakarta yang lebih bersih dari pencemaran gas buang kendaraan bermotor, diharapkan pada tahun 2002 telah ada sebuah peraturan daerah (perda) yang mengatur baku mutu udara emisi kendaraan bermotor di DKI Jakarta. Dengan adanya payung peraturan yang lebih kuat itu diharapkan program untuk menciptakan udara bersih dapat lebih efektif dan berkelanjutan. Hal ini mengemuka dalam pertemuan yang dilakukan antara Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Aboejoewono Aboeprajitno dan Direktur Operasi Sucofindo Zafar Idham di Jakarta, Selasa (3/7). Pertemuan itu untuk memulai kerja sama dalam program pemeriksaan emisi gas buang kendaraan bermotor di Jakarta antara Bapedalda dan Sucofindo, didukung Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Ikatan Ahli Teknik Otomotif (IATO), Asosiasi Bengkel, dan Departemen Kesehatan. (Kompas, 2001-07-04) Sumber Air Jamnas Mengering http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1079 Sampai Selasa (3/7) petang, 8.693 Pramuka Penggalang dari 340 Kontingen Cabang Pramuka yang tergabung dalam 182 kontingen daerah (Konda) dari seluruh Tanah Air telah hadir untuk mengikuti Jambore Nasional 2001 yang berlangsung dari tanggal 3 sampai 12 Juli 2001. Suasana hutan wisata Baturraden (41,2 hektar) saat ini berubah wajah menjadi sebuah "Negeri Pramuka". Di areal hutan yang sangat alami berdiri tenda berwarna-warni. Setiap kapling ditempati satu perkampungan Pramuka yang ditandai dengan gapura atau pintu gerbang yang mengindikasikan asal daerah kontingen. Kontingen dari Yapen Waropen atau Lembah Baliem Provinsi Irian Jaya, misalnya, membangun gerbang khas dan rumah adat Suku Baliem yang sangat unik. (Kompas, 2001-07-04) Bupati di NTB agar Dorong Konservasi Rusa http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1064 Para bupati di Nusa Tenggara Barat (NTB) hendaknya memberi tanggapan positif terhadap adanya gagasan konservasi flora dan fauna, seperti rusa timor (Cervus timorensis). Umpamanya, tiap instansi di kabupaten didorong memelihara satu-dua ekor rusa, lalu dilepas lagi ke habitat setelah mencapai umur tertentu agar bisa hidup mandiri. Pola ini dinilai bisa menyelamatkan satwa yang populasinya terus merosot itu. "Soal lingkungan hidup, pelestarian alam, fauna dan flora sudah termasuk dalam otonomi daerah. Maka, pemerintah kabupaten agar memberi perhatian pada kelangsungan hidup rusa dan plasma nutfah lainnya," kata Lalu Sujirman, Ketua Komisi D DPRD NTB, di Mataram, Senin (2/7). (Kompas, 2001-07-03) Rayakan pakai bahan bakar tanpa timbel lewat Fun Bike http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1056 Peresmiannya pemakaian bahan bakar (premium dan premix) tanpa timbel tanggal 1 Juli 2001, dirayakan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) lewat Fun Bike dan Green Walk. Kegiatan Fun Bike dan Green Walk (Sepeda Santai dan Jalan Sehat) ini diikuti oleh lebih dari 2000 orang peserta yang mencakup masyarakat Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang diselenggarakan di Sisi Timur Silang Monas, Minggu, pukul 07:00-09:00 WIB. Acara ini dibuka Menneg Lingkungan Hidup Sonny Keraf. Menurut Ahmad Safrudin, Koordinator KPBB, kebijakan bensin tanpa timbel merupakan langkah awal dalam upaya peningkatan kualitas udara di perkotaan. "Dengan diterapkannya kebijakan bensin tanpa timbel, selain menghilangkan emisi partikel timbel, juga berpotensi menurunkan emisi HC, CO, NOx dari kendaraan bermotor hingga 90%," ujarnya. (Satunet.Com, 2001-07-01) --------------------------------------------------------------------- Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
