Daftar berita terlampir:
* Otonomi Daerah Penyelamat Lingkungan, Asal 
* Dituntut, Kesadaran untuk Selamatkan Kawasan Konservasi
* Hutan di Jabar belum Perlu Sertifikat Karbon
* Dibutuhkan Platform Pembangunan Ekonomi yang Berpihak ke Laut 
* Tragis, Nasib Stasiun Penelitian TNGL 
* Penebangan Kayu Ilegal Makin Merajalela
* Pembangunan Kehutanan Belum Sentuh Kebutuhan Masyarakat
* Paradigma Atur-Diri-Sendiri Tumbuhkan Sikap Ramah Lingkungan
* Tinjomoyo, dari Kebun Binatang ke "Kebun Mainan" 
* Untuk Alih Profesi, Nelayan pemakai Bom di Muna Minta Bantuan
* Perjalanan panjang Protokol Kyoto
* Perlindungan HaKI Untuk Industri Bambu


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Otonomi Daerah Penyelamat Lingkungan, Asal 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1467
Ada cerita menarik tentang pembangunan Jetty (penahan gelombang) di Muara Dadap 
Indramayu Jawa Barat kira-kira 16 tahun yang lalu. Mulanya pembangunan penahan 
berbentuk angka sebelas ini bertujuan baik. Yakni, agar perahu-perahu nelayan yang 
akan melaut bisa 'lepas landas' tanpa dihalang oleh pendangkalan sedimen.

Setahun dua, belum terlihat adanya dampak negatif dari pembangunan ini. Namun setelah 
memasuki tahun ketiga, gejala alam mulai menampakkan buah kerusakan lingkungan. Aliran 
air menyusuri pantai yang datang dari satu sisi menyebabkan sedimen menumpuk di sisi 
yang berlawanan. Sementara di sisi yang satunya terjadi abrasi.
(Republika, 2001-07-30)



Dituntut, Kesadaran untuk Selamatkan Kawasan Konservasi
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1472
Lembaga swadaya masyarakat (LSM) di bidang kehutanan, lingkungan, dan konservasi di 
Jambi berharap agar Presiden Megawati Soekarnoputri serta Wakil Presiden Hamzah Haz 
dan kabinetnya-khususnya Menteri Kehutanan-menyadari betul soal pentingnya 
penyelamatan kawasan konservasi dari kerusakan yang selama ini diabaikan. Saat ini 
hampir semua hutan lindung dan taman nasional di Indonesia porak-poranda dijarah oleh 
pelaku illegal logging (penebangan liar) dan perambah hutan. 

Penyelamatan kawasan konservasi ini, khusunya hutan lindung, taman nasional, hutan 
suaka, dan taman hutan raya, demikian LSM, haruslah dilakukan secara sungguh-sungguh, 
tegas, dan tanpa pandang bulu. "Hukum harus ditegakkan. Sekaranglah waktunya bagi 
pemerintah, sebelum malapetaka yang mahadahsyat dan tidak terhindarkan berupa bencana 
alam banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan kabut asap menimpa Indonesia dengan 
korban tiada terhingga," tutur Koordinator Program LSM Warung Informasi dan Konservasi 
(Warsi) Jambi Rudy Syaf kepada Kompas, Sabtu (28/7), di Jambi.
(Kompas, 2001-07-30)



Hutan di Jabar belum Perlu Sertifikat Karbon
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1474
Usul pembuatan sertifikat karbon untuk hutan di Jabar dari Pakar Lingkungan Unpad, 
Otto Soemarwoto, belum direspon positif. Pihak Perhutani Unit III sendiri, menyatakan 
bahwa sertifikasi itu belum diperlukan untuk hutan-hutan di Jabar. Perhutani khawatir, 
pembuatan sertifikat karbon hanya akan membuat hutan di Jabar dirusak pihak asing.

"Perhutani belum begitu tertarik. Proyek sertifikasi ini masuk dalam rencana jangka 
panjang. Selain itu juga pihak Perhutani masih meragukan kesungguhan pihak asing dalam 
memberikan sertifikasi ini," kata Humas Perhutani Unit III Jabar, Komara di Bandung 
pekan lalu. Mungkin saja, kata Komara, sertifikasi itu mulanya dilakukan dengan baik. 
Tapi, menurutnya, tak tertutup kemungkinan di masa mendatang proses tersebut justru 
membebani hutan-hutan di Jabar.
(Republika, 2001-07-30)



Dibutuhkan Platform Pembangunan Ekonomi yang Berpihak ke Laut 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1475
BANYAK orang bicara bahwa sumber daya pesisir dan laut Indonesia sangat kaya dan 
beragam, sehingga merupakan potensi besar dalam pembangunan ekonomi. Akan tetapi, apa 
yang terjadi selama ini, sumbangannya hanya 20 persen terhadap PDB. Bahkan ada kesan 
pesisir dan laut hanya merupakan "keranjang sampah". Upaya menjadikan perikanan dan 
kelautan sebagai lokomotif pembangunan ekonomi bukan sekadar mimpi. Namun dibutuhkan 
platform besar pembangunan ekonomi yang berpihak ke laut, utamanya perikanan.SUMBER 
daya pesisir dan laut ada yang dapat diperbarui seperti sumber daya perikanan 
(perikanan tangkap, budi daya), mangrove, energi gelombang, pasang surut, angin dan 
Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC). Ada pula yang tidak dapat diperbarui seperti 
sumber daya minyak dan gas bumi dan berbagai jenis mineral. Selain dua jenis sumber 
daya itu, juga terdapat berbagai macam jasa lingkungan kelautan yang dapat 
dikembangkan untuk pembangunan ekonomi nasional seperti pariwisata bahari, industri 
maritim, jasa angkutan, dan sebagainya. 
(Kompas, 2001-07-30)



Tragis, Nasib Stasiun Penelitian TNGL 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1478
DARI empat stasiun penelitian yang dikelola Unit Manajemen Leuser (UML) di Taman 
Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Provinsi Sumatera Utara-Aceh yaitu Ketambe, Suaq 
Belimbing, Bengkung, dan Soraya, saat ini hanya tinggal Ketambe saja yang masih 
bertahan. Stasiun Penelitian Soraya telah dibakar oleh pihak-pihak yang tidak jelas, 
stasiun penelitian Bengkung kondisi keamanannya sangat buruk, sedangkan Suaq Belimbing 
dengan alasan keamanan akhirnya dialihkan hanya menjadi pos monitoring.Selain keempat 
stasiun penelitian tersebut, sebenarnya masih ada dua pos monitoring yaitu Agusan dan 
Gunung Air. Namun, pos monitoring Gunung Air pun telah dibakar orang sehingga tidak 
bisa dipergunakan lagi. 
(Kompas, 2001-07-30)



Penebangan Kayu Ilegal Makin Merajalela
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1485
Aksi penebangan kayu secara ilegal belakangan ini semakin merajalela, bahkan telah 
merambah hingga ke kawasan hutan lindung dan taman nasional. Selain digunakan untuk 
bahan baku industri perkayuan di Tanah Air, kayu ilegal ini juga diselundupkan ke 
Sarawak, Malaysia, melalui jalur darat dan laut.Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan 
Barat (Kalbar) Ir M Arman Malolongan ketika dikonfirmasi Kompas di Pontianak, Sabtu 
(28/7) malam, membenarkan maraknya penebangan kayu secara ilegal tersebut. Ia 
mengakui, negara telah menderita kerugian yang begitu besar karena dari aktivitas itu 
tak terpungut Dana Reboisasi, Provisi Sumber Daya Hutan, dan pajak ekspor. 

Meski demikian, Arman tak bersedia menyebutkan total kerugian negara di Kalbar. Akan 
tetapi, seorang pejabat Pemerintah Daerah (Pemda) Kalbar yang tak mau ditulis namanya 
mengatakan bahwa berdasarkan perhitungan sementara, total kerugian dari penebangan 
kayu ilegal di Kalbar ditaksir kurang lebih Rp 15 milyar per bulan.
(Kompas, 2001-07-30)



Pembangunan Kehutanan Belum Sentuh Kebutuhan Masyarakat
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1486
Paradigma pengelolaan hutan yang selama ini berorientasi pada hasil kayu, sedangkan 
peran negara sangat dominan, berangsur-angsur harus diubah. Dengan demikian, 
pengelolaan hutan lebih berorientasi pada pengelolaan sumber daya hutan yang berbasis 
masyarakat desa hutan.

''Itu penting, karena hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang tak bisa 
dipisahkan dari kehidupan masyarakat dalam kesatuan ekosistem. Masyarakat bergantung 
pada hutan dan hutan menyatu sebagai sebuah ekosistem bersama masyarakat,'' kata Drs 
FX Tridjoko Margono.
(Suara Merdeka, 2001-07-30)



Paradigma Atur-Diri-Sendiri Tumbuhkan Sikap Ramah Lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1454
Krisis lingkungan yang telah memakan korban jiwa dan kerugian harta benda sangat 
tinggi di negara ini, sampai sekarang belum disadari oleh sebagian besar masyarakat. 
Penanggulangan dampak kerusakan lingkungan hidup, seperti kekurangan air pada musim 
kemarau dan banjir pada musim hujan, selama ini bersifat ad hoc serta hanya pada 
gejala dan akibatnya, bukan penyebabnya.

Selama ini sikap dan kelakuan warga terhadap lingkungan hidup sangat didominasi oleh 
pertimbangan ekonomi, yang mendorong eksploitasi lebih, tanpa diikuti perlindungan 
lingkungan yang memadai. Sikap itu juga dipengaruhi oleh kurangnya penghargaan tentang 
fungsi ekologi lingkungan hidup yang memberikan layanan pada manusia. 
(Kompas, 2001-07-27)



Tinjomoyo, dari Kebun Binatang ke "Kebun Mainan" 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1458
Wah, saya tertipu datang ke sini. Maksud saya ingin mengajak anak-anak rekreasi sambil 
melihat binatang. Lha, ini yang mau dilihat apanya?" kata Ny Dewi (35) kesal.
Dewi semula berniat membawa putri kecilnya, Nana (3), untuk berekreasi ke Taman 
Margaraya alias Kebun Binatang (KB) Tinjomoyo, Semarang hari minggu awal bulan ini. Ia 
bersama suami, Anto (36), Nana dan pengasuh anaknya, Santi (18) tak menyangka kalau 
Tinjomoyo tak seperti layaknya kebun binatang seperti KB Ragunan di Jakarta atau KB 
Gembiraloka Yogyakarta. 
(Kompas, 2001-07-27)



Untuk Alih Profesi, Nelayan pemakai Bom di Muna Minta Bantuan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1459
Para nelayan yang selama ini menangkap ikan dengan menggunakan bom dan pukat harimau 
di Kabupaten Muna, Sultra, mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah setempat. 
Mereka ingin bisa bisa beralih profesi ke usaha penangkapan ikan dengan cara yang 
ramah lingkungan.

"Sebagian besar nelayan penangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak dan pukat 
harimau di Muna mulai sadar akan dampak penggunaan alat yang membahayakan keselamatan 
jiwa manusia dan lingkungan itu," kata petugas Penyidik PNS Dinas Perikanan Muna, La 
Ode Ramlan, di Kendari, Rabu.
(Republika, 2001-07-27)



Perjalanan panjang Protokol Kyoto
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1487
Pembahasan teknis sebagai hasil kesepakatan Konferensi Para Pihak (COP) ke-6 bagian II 
yang membahas Protokol Kyoto berakhir Jumat (27/7), di Bonn, Jerman.


Sekadar mengingat kembali perjuangan sehingga lahir Protokol tersebut, berikut 
kronologis yang disusun Yayasan Pelangi yang mengikuti masalah tersebut dari awal.
(SatuNet.Com, 2001-07-27)



Perlindungan HaKI Untuk Industri Bambu
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1455
Amerika, meski tidak dikenal keanekaragaman bambunya namun saat ini mengoleksi tak 
kurang dari 150 paten berkenaan dengan bambu. Sebaliknya, Indonesia sebagai negara 
yang kaya akan keanekaragaman bambu baru memiliki satu paten yang berkenaan dengan 
cara pembelahan bambu agar tidak pecah. 

Kondisi ini tentu menyedihkan, mengingat jenis bambu yang bernilai eknomis tinggi, 80% 
telah diteliti secara ilmiah. Dan dari kenyataan yang ada kita juga melihat bahwa 
unsur HaKI (Hak Kekayaan Intelektual) sama sekali belum dipandang sebagai seuatu yang 
penting dalam mengembangkan industri bambu di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari 
kajian konsep �Strategi Nasional dan Rancang Tindak Pelestarian Bambu dan 
Pemanfaatannya secara berkelanjutan di Indonesia� yang disusun pada tahun 1998. 
(Berita Iptek, 2001-07-25)




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke