http://www.suaramerdeka.com/harian/0107/31/kot4.htm Selasa, 31 Juli 2001 Semarang & Sekitarnya Krisis sebagai Akibat Love of Power SEMARANG- Apakah sebenarnya penyebab Indonesia mengalami keterpurukan dan krisis multidimensi? Menurut pendapat Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc, semua itu akibat love of power yang jauh lebih berkembang daripada power of love. Kekuasaan karena cinta di negara kita ini membuat kepentingan pribadi dan golongan lebih ditonjolkan. Padahal, seharusnya yang diutamakan power of love atau kekuatan manusia dan tingkah laku yang didasari cinta. "Jika itu terwujud, tidak akan ada gontok-gontokan seperti yang sekarang sering terjadi di Tanah Air,'' ungkap dia di TBRS, kemarin Dia berbicara dalam seminar nasional ''Persatuan Umat dalam Perpektif Arus Pemikiran Gerakan Islam Kontemporer''. Pembicara lain Dr H Abdul Djamil MA (IAIN Walisongo), Ustad Dr Agus Nurhadi, dan Ihsan Tanjung MA (Jakarta). Agus mengatakan, hambatan yang kini dihadapi dalam pemerintahan dan kesatuan umat antara lain siklus kepemimpinan pada masa lalu terlalu lama. Lalu kurang penghargaan dan penghormatan terhadap orang-orang yang telah berjasa terhadap negara. Kaderisasi dalam politik selalu mengekor pada kekuasaan dan kurang pemahaman atas penggalian potensi-potensi sumber daya alam serta ekonomi. Kebebasan Berpikir Abdul Djamil menilai, perkembangan masa kini telah diembuskan lewat angin kebebasan dan memperoleh jaminan atas nama reformasi. ''Gerakan pemikiran Islam menjadi makin majemuk dan tidak ada lagi tindakan politis atas nama stabilitas yang berusaha membatasi dan kadang melarang.'' Umat Islam memiliki kebebasan untuk mengkaji keanekaragaman pemikiran itu. Di sinilah seringkali muncul efek samping berupa potensi konflik. Sebab, pada tataran pengikut yang awam memandang perbedaan itu sebagai garis batas yang tegas dan tidak dapat dipertemukan. ''Contohnya, jika pada masa lalu hubungan NU dan Muhammadiyah pernah mesra, lalu tegang dan kini menjadi tegang lagi. Itu akan senatiasa begitu jika tidak ada kedewasaan berpikir pada semua lapisan pendukungnya.'' Dia menilai, kesatuan umat dalam arti hitam putih akan sulit terwujud. Sebab, wacana pemikiran Islam justru berkembang demikian pesat sejalan dengan faktor alamiah manusia yang cenderung berbeda satu sama lain. Pada saat yang sama paradigma kehidupan sosial juga mengalami pergeseran yang signifikan ke arah kemajemukan. ''Jadi yang mungkin dilakukan sekarang ini, menciptakan kesatuan dalam keberagaman dan tetap berada pada ukhuwah Islamiyah sebagai unsur pengikat persaudaraan.''(D2-53j) --------------------------------------------------------------------- Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
