http://www.suarapembaruan.com/News/2001/08/09/Editor/ed03/ed03.htm

Lingkungan Hidup: Soko Guru Pembangunan Ekonomi 

Otto Soemarwoto


ingkungan hidup selalu dipertentangkan dengan ekonomi. Meskipun Menteri Lingkungan 
Hidup dengan gigihnya berusaha untuk mengubah persepsi itu, namun pada kenyataannya 
dalam masyarakat dan kalangan pemerintah dikotomi ekonomi atau lingkungan hidup 
berlanjut. Karena pembangunan ekonomi diprioritaskan, pertimbangan ekonomi selalu 
mengalahkan lingkungan hidup. Meskipun gaung pertimbangan lingkungan hidup sangat 
kuat, namun gaung itu hanyalah bersifat verbal. 

Dalam kenyataannya lingkungan hidup menempati posisi yang sangat marjinal. Dalih yang 
umum dikemukakan ialah bahwa pembangunan ramah lingkungan adalah mahal. Karena kita 
masih melarat, kita belum mampu melaksanakannya. Bahkan banyak yang berpendapat tidak 
apalah lingkungan hidup rusak dulu. Nanti setelah kita mampu, kerusakan lingkungan 
hidup itu kita perbaiki. Akibatnya terjadilah kerusakan lingkungan hidup yang amat 
parah.

Hutan yang sangat luas mengalami kerusakan yang berat. Luas hutan pun menyusut dengan 
drastis. Bank Dunia, FAO dan badan lain memperkirakan laju deforestasi lebih dari 
sejuta hektare per tahun. Hutan pun menjadi sangat rentan untuk kebakaran. Setiap 
musim kemarau terjadi kebakaran hutan. Luas kebakaran memuncak pada tahun El Nino. 
Kerugikan kebakaran dalam tahun El Nino 1997 diperkirakan sebesar Rp 6 triliun sampai 
Rp 9 triliun.

Kerusakan hutan berakibat naiknya laju erosi, banjir, tanah longsor dan kekurangan 
air. Bank Dunia memperkirakan kerugian erosi di Jawa berkisar antara 250 juta dolar AS 
sampai 400 juta dolar AS per tahun. Banjir dan tanah longsor telah menjadi kejadian 
rutin setiap musim hujan. Kejadian yang terakhir ialah banjir dan longsor di Nias yang 
menelan korban 102 orang meninggal dan 192 orang hilang serta masih dicari hingga kini 
(Suara Pembaruan, 8 Agustus 2001). Kekurangan air berulang secara rutin dalam musim 
kemarau yang menyebabkan meningkatnya penyakit muntah berak dan kegagalan panen. Jelas 
banjir, tanah longsor dan kekurangan air telah menyengsarakan rakyat, terutama rakyat 
kecil.


Pencemaran Berat

Di banyak tempat air pun mengalami pencemaran yang berat. Misalnya, Citarum mulai dari 
Bandung sampai muaranya dan Ciliwung mulai dari Bogor sampai Jakarta. Di Jakarta saja 
berdasarkan data statistik 1990 kerugian pencemaran air ditaksir oleh Bank Dunia 
sekitar 300 juta dolar AS. Sanitasi lingkungan pada umumnya tingkatnya juga sangat 
rendah sehingga ledakan penyakit demam berdarah dan muntah-berak sering terjadi di 
banyak tempat. Bahkan malaria pun menunjukkan gejala meluas kembali. 

Udara juga tidak luput dari pencemaran yang berat. Menurut Bank Dunia biaya kesehatan 
karena pencemaran udara di Jakarta adalah sekitar 200 juta dolar AS. Laut pun tidak 
terkecuali dari kerusakan yaitu hutan bakaunya, pantainya, terumbu karangnya dan 
airnya. 

Teluk Jakarta, misalnya, tercemar berat sehingga ikan, kerang dan hasil laut lainnya 
juga tercemar, antara lain, oleh logam berat. Banyak pantai mengalami abrasi, misalnya 
sepanjang pantai utara Jawa, Bali dan Sumatra Barat. Tanah di Jakarta dan Semarang 
mengalami keamblesan sehingga mengancam keamanan gedung dan memperparah masalah banjir 
dan rob. Miliaran rupiah diperlukan untuk menanggulangi abrasi, banjir dan rob. 
Kerusakan juga terjadi karena pembangunan pariwisata yang tidak ramah lingkungan. 
Misalnya, pantai Kuta di Bali. Nilai wisata banyak daerah merosot, misalnya, Puncak, 
Lembang, Bedugul dan Kintamani.

Menurut Bank Dunia biaya kesehatan karena pencemaran udara di Jakarta adalah sekitar 
US$200 juta 

Contoh-contoh di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pembangunan yang tidak ramah 
lingkungan adalah mahal. Bandingkan besarnya kerugian oleh pencemaran udara, air dan 
erosi seperti tersebut di atas dengan dana IMF sebesar 400 juta dolar AS yang tidak 
kunjung dikucurkan. Apalagi kerusakan lingkungan hidup menunjukkan kecenderungan yang 
meningkat sehingga biaya kerusakan lingkungan hidup makin meningkat pula. Karena itu 
justru karena masih melarat, kita sebenarnya tidak mampu melakukan pembangunan yang 
tidak ramah lingkungan hidup. 

Dengan demikian paradigma pembangunan kita harus diubah dari tidak ramah lingkungan 
menjadi ramah lingkungan. Pertanyaannya apakah kita mampu?

Teori ekonomi memang menyatakan bahwa internalisasi biaya lingkungan hidup adalah 
mahal. Tetapi akhir-akhir ini banyak contoh menunjukkan, internalisasi biaya 
lingkungan hidup justru meningkatkan profit. Bahkan dalilnya telah berbalik: 
Barangsiapa bersikap anti-lingkungan hidup akan kalah dalam persaingan dagang dan akan 
tersisihkan. Kuncinya ialah eko-efisiensi. 

Dasar pemikirannya ialah bahwa bahan dan energi yang tidak tergunakan dalam proses 
produksi akan terbuang dan menjadi limbah. Dengan meningkatkan efisiensi makin banyak 
bahan dan energi yang tergunakan dalam proses produksi sehingga makin sedikit yang 
terbuang. Dari segi ekonomi ini berarti bahwa peningkatan efisiensi akan mengurangi 
bahan dan energi yang dibutuhkan sehingga biaya produksinya turun dan potensi 
profitnya naik. Dari segi lingkungan hidup berarti makin sedikit bahan dan energi yang 
terbuang sehingga makin sedikit limbah yang terbentuk dan potensi dampak lingkungannya 
menurun. 

Karena itu kata eko dalam istilah eko-efisiensi mempunyai arti eko-nomi maupun 
eko-logi. Tampaklah internalisasi lingkungan hidup justru menguntungkan. Tampak pula 
barangsiapa tidak memperhatikan eko-efisiensi akan kalah bersaing karena biaya 
produksinya lebih tinggi dan biaya lingkungan hidupnya pun lebih tinggi, yaitu biaya 
pengolahan limbahnya lebih tinggi daripada yang ramah lingkungan dengan mempraktikkan 
eko-efisiensi.


Perbaikan Pengelolaan

Teknologi eko-efisiensi bervariasi dari yang sangat sederhana dan murah sampai pada 
yang sangat canggih dan mahal. Teknologi yang sederhana dan murah dikiaskan sebagai 
��buah tergantung rendah�� (low-hanging fruits). Seyogianya semua organisasi, baik 
yang nonkomersial, misalnya kantor pemerintah, universitas dan LSM, maupun yang 
komersial mengidentifikasi buah tergantung rendah dalam organisasinya. Terutama usaha 
kecil dan menengah (UKM) karena modalnya yang terbatas, memerlukan buah tergantung 
rendah eko-efisiensi. 

Perbaikan pengelolaan rumah tangga merupakan langkah pertama. Misalnya, menghindari 
tercecernya bahan baku dan minyak; menyimpan bahan sehingga tidak mengalami kerusakan 
karena atap gudang yang bocor; pengadministrasian bahan dengan baik sehingga bahan 
tidak rusak karena kedaluwarsa; menakar penggunaan bahan dengan baik sesuai dengan 
kebutuhan. Di hotel kunci kamar dapat digunakan sebagai master switch lampu di kamar. 
Jika tamu keluar kamar dan mencabut kuncinya dari sebuah kotak kecil di samping pintu, 
lampu otomatis mati. Jadi tamu tidak akan pernah lupa mematikan lampu di kamarnya pada 
waktu dia meninggalkannya. Hasilnya, energi lampu yang mubazir dikurangi dan dengan 
itu biaya operasi hotel menurun.

Transpor kita adalah contoh lain yang dapat ditingkatkan eko-efisiennya. Mobil adalah 
alat transpor yang sangat berguna. Sayangnya mobil digunakan dengan sangat tidak 
efisien, antara lain, hanya mengangkut seorang penumpang. Data statistik menunjukkan, 
sejumlah besar KK bertempat tinggal kurang dari 1-2 km dari toko/pasar, 
sekolah/universitas, tempat ibadah dan tempat rekreasi. Tetapi tempat itu penuh dengan 
parkiran mobil. Jadi ada indikasi kuat bahwa banyak sekali perjalanan dengan mobil 
adalah untuk jarak yang pendek. Perjalanan demikian tidaklah efisien. 

Eko-efisiensi dapat ditingkatkan dengan menggariskan kebijakan transpor terpadu, yaitu 
kendaraan bermotor untuk jarak jauh dan beban berat, sepeda untuk jarak pendek sampai 
5 kilometer dan berjalan kaki untuk jarak sangat pendek sampai 1 kilometer. Berjalan 
kaki diberi insentif dengan pembangunan trotoar dan sepeda dengan jalur sepeda yang 
aman dan nyaman serta penyeberangan jalan yang mudah dan aman. Pengurangan penggunaan 
mobil dan penambahan berjalan kaki dan sepeda mengurangi biaya pemeliharaan jalan 
serta kebutuhan pelebaran dan pembangunan jalan baru.

Bank Dunia melaporkan, sigi sekitar 70 industri menunjukkan bahwa tanpa investasi 
tambahan, energi dapat dihemat dengan 8 persen. Dengan investasi yang amat ringan 
energi dapat dihemat lagi dengan 15 persen sehingga total energi yang dapat dihemat 
adalah 23 persen. Penghematan itu setara dengan 2,5 juta barrel-oil-equivalent per 
tahun.

Pada tingkat internasional efisiensi penggunaan energi kita adalah rendah. Kebutuhan 
energi kita per GNP 1 dolar AS adalah 24 MJ (megajoules), sedangkan, misalnya, Amerika 
Serikat 16 MJ, Belanda 13 MJ dan Jepang 6. Jadi untuk menghasilkan GNP 1 dolar AS kita 
menggunakan energi empat kali lebih banyak daripada Jepang! Lagi pula antara tahun 
1973-1993 penggunaan energi kita per GNP 1 dolar AS tumbuh dengan 46 persen, sedangkan 
di Amerika Serikat tumbuh dengan -28, Belanda -4 dan Jepang -30. 

Dengan lain perkataan di negara-negara itu penggunaan energi makin efisien, tetapi 
kita makin boros. Karena energi memegang peranan yang sangat berarti dalam sistem 
ekonomi, pemborosan energi merupakan salah satu faktor penting rendahnya daya saing 
kita dalam perdagangan internasional.

Beberapa contoh singkat di atas menunjukkan betapa perlunya usaha untuk meningkatkan 
eko-efisiensi pembangunan kita. Dengan peningkatan eko-efisiensi penggunaan bahan dan 
energi per unit produk berkurang dan pencemaran pun berkurang. Bagi pemerintah ini 
berarti anggaran belanja untuk subsidi BBM berkurang. Demikian pula anggaran belanja 
untuk kesehatan karena dampak pencemaran. Penurunan kualitas sumber daya manusia 
karena pencemaran lingkungan pun berkurang. 

Jelaslah tidak ada konflik antara ekonomi dan ekologi. Bahkan keduanya saling 
bersinergi. Pembangunan ramah lingkungan berdasar eko-efisiensi membuat pembangunan 
ekonomi lebih murah. Kita mencapai dua tujuan sekaligus: meningkatkan kinerja ekonomi 
dan ekologi pembangunan kita. Jelaslah, lingkungan hidup adalah soko guru pembangunan 
ekonomi. Semoga Menteri Lingkungan Hidup dalam kabinet yang akan datang memperhatikan 
ini. u


Penulis adalah Guru Besar Emeritus Universitas Padjadjaran Bandung, Anggota Kehormatan 
AIPI, tinggal di Bandung. 


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke