Daftar berita terlampir:
* Warga Tatar Sunda Sepakat Selamatkan Hutan
* Nelayan Hentikan Proyek Reklamasi Pantai 
* Kepala Wasdal Bapedalda Dikritik
* "Quo Vadis" Bapedalda?
* Berburu Hewan Langka di Pasar Ibu Kota 
* Saatnya Menuju Kesadaran Hijau 
* Eksportir Ikan Hias Keluhkan Sikap KSDA
* Penebangan Liar Harus Ditangani Kasus per Kasus
* Penanganan Pencemaran PT ITM Bisa Jadi Model


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Warga Tatar Sunda Sepakat Selamatkan Hutan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1669
Langkah positif dilakukan masyarakat adat Tatar Sunda yang memproklamirkan 
penyelamatan hutan secara menyeluruh. Selama tiga tahun, masyarakat Sunda berjanji 
tidak melakukan penebangan pohon di hutan, sebaliknya hutan gundul akan ditanami 
kembali dan kepada perusak hutan akan dikenai sanksi adat yang berat.Pernyataan 25 
tokoh adat Sunda disampaikan kepada Ketua DPRD Jawa Barat Eka Santosa yang meneruskan 
kepada wartawan, Senin (20/8). Menurut Eka, pernyataan tokoh adat mewakili masyarakat 
Jawa Barat, cukup melegakan di tengah isu penjarahan atas hutan lindung dan hutan 
ekonomi belakangan ini. 

Di antara 25 tokoh masyarakat adat yang menyatakan sikapnya antara lain Dedi Setiadi 
dari Adat Dukuh, K Subarman (Cigugur), Ateng (Kampung Naga), P Djatikusumah Gumirat 
Barnaalam (Adat Karuhun Sunda), Askar Martanegara (Masyarakat Lebak Gede), dan 
Yudistira (PB Paguyuban Sunda). 
(Kompas, 2001-08-21)



Nelayan Hentikan Proyek Reklamasi Pantai 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1672
Puluhan keluarga nelayan yang dimukimkan ke tempat lain, Senin (20/8), mematok dan 
memagar lahan eks tempat mereka dulu memarkir perahu, yang kini direklamasi untuk 
pembangunan rumah toko Bandar, Balikpapan. Alasannya, pengembang PT Daksa Kalimantan 
Putra yang membangun rumah toko itu belum membayar ganti rugi atas perairan lahan 
parkir nelayan tersebut.

Saat pematokan berlangsung, dua kendaraan proyek yang sedang meratakan tanah reklamasi 
tetap dioperasikan, sedangkan sejumlah pekerja di ruko juga tetap bekerja seperti 
biasa. "Kami memang tidak mengganggu para pekerja. Kami hanya minta supaya tanah kami 
yang belum dibayar itu tidak diuruk dulu," kata H Bola, salah satu nelayan yang kini 
bermukim di Pantai Manggar, Balikpapan Timur.
(Kompas, 2001-08-21)



Kepala Wasdal Bapedalda Dikritik
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1681
Gubernur Jawa Timur Imam Utomo didesak agar segera mencopot Kepala Pengawasan dan 
Pengendalian (Wasdal) Bapedalda Jatim Antoro Hendra Sanjaya. Karena selama ini Bidang 
Wasdal dalam menangani masalah pencemaran daerah aliran sungai (DAS) Brantas, selalu 
berpihak kepada pelaku pencemaran.
Demikian pernyataan lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang lingkungan masing-masing 
Prigi Arisandi, Direktur Ecoton (Pemerhati Lingkungan Lahan Basah), dan Posko Ijo, 
Mulya Bakti, Koordinator Monitoring Posko Ijo, Koordinator Kampanye Jaringan Kali 
Surabaya (JALA) di Surabaya, Sabtu (18/8). 
(Kompas, 2001-08-20)



"Quo Vadis" Bapedalda?
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1683
APAKAH Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) masih diperlukan? 
Pertanyaan di atas dilontarkan oleh salah satu anggota Komisi D DPRD Jawa Timur 
(Jatim) saat dengar pendapat dengan Bapedalda Jatim tanggal 12 Agustus 2001. Dalam 
beberapa kali pertemuan dengan LSM, Bapedalda Jatim juga sering dikritik 
habis-habisan, malah dituntut untuk dibubarkan. Namun, yang menjadi masalah, mengapa 
kritik-kritik tersebut dilontarkan tanpa melihat akar terjadinya kasus-kasus 
lingkungan di Jatim?
(Kompas, 2001-08-20)



Berburu Hewan Langka di Pasar Ibu Kota 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1687
Satwa langka tidak hanya diburu untuk dijadikan koleksi, tetapi sejumlah restoran juga 
menyediakan hidangan dari satwa yang dilindungi. 
SEORANG pembaca Media Indonesia menceritakan, dia dan keluarga pernah bertemu 
seseorang yang menawarkan seekor orang utan di seputar Masjid Sunda Kelapa, Jakarta 
Pusat. Pembaca ini mengungkapkan tentang perasaannya yang tersentuh, bahkan dia 
mengaku ibunya yang aktivis lingkungan hidup itu langsung menangis. 

Bisa jadi, yang dikemukakankan pembaca tersebut ada benarnya. Tengok saja pusat 
perdagangan hewan Pasar Pramuka, Jakarta Timur, atau Pasar Burung Barito, Jakarta 
Selatan. Perdagangan satwa-satwa langka di tempat ini bahkan lebih keji dibandingkan 
transaksi di dekat masjid tadi. 
(Media Indonesia, 2001-08-19)



Saatnya Menuju Kesadaran Hijau 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1688
DI tengah krisis multi-dimensi yang melanda negeri ini, hikmah yang dapat diambil 
adalah mulai bermunculannya kesadaran atas keadaan lingkungan di seputar kita. Sadar 
berarti mengakui dan memahami kesalahan yang telah dilakukan, dan (seharusnya) mulai 
menapaki cara berkehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
Isu untuk menghadirkan lingkungan binaan sebagai tempat yang baik bagi semua makhluk 
hidup mulai semakin mencuat belakangan ini di beberapa belahan dunia, terutama di 
Asia. Di Barat, bahkan isu ini mulai dipadukan dengan teologi yang populer disebut 
eco-theology (kesadaran teologis-spiritual). Isu ini bahkan berkembang menjadi isu 
politik dalam melihat sisi pentingnya ekologi dan lingkungan (green politics, penulis 
Sukidi-2000) dalam upaya menuju kemaslahatan bersama.
(Kompas, 2001-08-19)



Eksportir Ikan Hias Keluhkan Sikap KSDA
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1691
Eksportir anggota Asosiasi Pengusaha Ikan Hias (APIH) mengeluhkan sikap petugas 
Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA), Departemen Kehutanan. Sejumlah ekspor dan 
pengiriman ikan hias untuk pameran di luar negeri batal terlaksana dan bahkan hewan 
itu mati. Padahal, nilai ekspor komoditas yang seharusnya didorong pengembangannya ini 
mencapai 15 juta dollar AS per tahun.

"Kami mengeluhkan petugas yang tidak bisa menjalankan tugas sebagai mana mestinya," 
kata Ketua APIH Ken Tjandra kepada wartawan di Jakarta, Kamis (16/8). Akan tetapi, 
pihak KSDA belum dapat dikonfirmasi soal ini.
(Kompas, 2001-08-18)



Penebangan Liar Harus Ditangani Kasus per Kasus
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1694
Praktik penebangan liar atau illegal logging dapat terus berlangsung karena ada tiga 
pihak yang terkait, yaitu pelaku di lapangan, penadah kayu curian, dan oknum aparat 
yang melindungi. Dalam kaitan itu, pena-
nganan hukum terhadap ketiganya tidak bisa disamakan, artinya mereka harus diproses 
satu per satu atau kasus per kasus.

Demikian pendapat Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Dampak 
Lingkungan (Bapedal) Nabiel Makarim dalam dialog interaktif Pengarusutamaan Lingkungan 
Hidup ke dalam Politik Pembangunan Indonesia, di Jakarta, Kamis (16/8) malam. 
(Kompas, 2001-08-18)



Penanganan Pencemaran PT ITM Bisa Jadi Model
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1695
Keseriusan polisi mengusut kasus pencemaran PT Inti Teksturindo Megah (ITM)-yang telah 
mengakibatkan terjadinya korban luka bakar di kalangan masyarakat-di Cicalengka, 
Kabupaten Bandung, ditanggapi positif oleh pengamat lingkungan di Jawa Barat. Menurut 
Daud Silalahi, Guru Besar Hukum Lingkungan Hidup Universitas Padjadjaran, cara 
penanganan kasus PT ITM bisa menjadi model pengusutan kasus yang sama di kemudian 
hari. 

Silalahi yang diminta tanggapannya, Jumat (17/8), mengatakan, kasus lingkungan selama 
ini jarang diusut apalagi sampai menahan pelakunya. Kebanyakan kasus kandas di tingkat 
bawah. 
(Kompas, 2001-08-18)




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke