http://suarapembaruan.com/News/2001/08/19/Buku/bk02/bk02.htm

Saatnya Ekonomi Memihak Kita 

Judul: Masih Adakah Harapan bagi Kaum Miskin? 
Penulis: Amartya Sen
Penerbit :Mizan, 2001
Tebal : xxxi + 139 halaman

agaimana masa depan perekonomian kita, agaknya kini akan menjadi isu sentral di negeri 
ini selepas pelantikan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden ke-5 RI menggantikan KH 
Abdurrahman Wahid. Harapan itu tidak berlebihan sebab naiknya Megawati ke puncak kursi 
RI-1 ternyata direspons positif oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

Di samping itu, masyarakat juga berharap agar Megawati beserta tim ekonominya bergerak 
cepat menyelamatkan perekonomian rakyat yang makin sekarat.

Buku Masih Adakah Harapan bagi Kaum Maskin? ini agaknya menjadi penting untuk dibaca 
bila kita bermaksud menata perekonomian nasional. Adalah Amartya Sen, penulis buku 
ini, yang oleh harian prestigious The Economist disebut sebagai salah seorang pelopor 
sejati ekonomi modern. Dia menciptakan cabang baru ilmu ini yang mungkin suatu hari 
merombak total arus utama ilmu ekonomi.

Sen bukan saja kondang sebagai pakar di bidang ekonomi, tetapi sekaligus filsuf moral 
yang dalam setiap pikiran dan tindakannya selalu bermuara pada kebaikan. Oleh karena 
itu, nilai plus buku ini jelas terletak pada faktor penulis. Dengan mengombinasikan 
kedua kepiawaian itu, Sen akhirnya berhasil merumuskan teori-teori ekonomi 
kesejahteraan (welfare economics).

Jika ditelusuri ke belakang, sebenarnya Amartya Sen terpengaruh oleh filsuf 
Aristoteles yang menggagas bahwa ekonomi harus menyejahterakan rumah tangga. Akhirnya, 
kegiatan ekonomi untuk membangun kegiatan warga negara (polis) bukan menyejahterakan 
orang per orang. Dari awal karyanya, Nicomachean Ethics, Aristoteles mengaitkan subjek 
ilmu ekonomi dengan tujuan-tujuan manusia, merujuk pada perhatiannya terhadap kekayaan.

Setelah membaca buku ini, meletakkan harapan membaiknya perekonomian nasional di 
pundak Presiden Megawati menjadi masuk akal, mengingat gagasan yang sama sebenarnya 
juga pernah hadir di Indonesia lewat diri Soekarno pada 1932. Ketika itu, di harian 
Fikiran Rakyat, Soekarno pernah menulis ketimpangan struktur perekonomian yang 20 
persen dikuasai oleh kaum borjuis dan 80 persen oleh kaum proletar (nelayan, petani, 
buruh). Karena yang 20 persen itu telah mandiri, tidak perlu diperhatikan. Itulah yang 
kemudian oleh Soekarno diwujudkan dalam Rencana Pembangunan Nasional Berencana atau 
oleh Orde Baru diadopsi menjadi Repelita.

Tidak heran bila dalam �Kata Pengantar� edisi Indonesia, Prof M Dawam Rahadjo 
mengatakan bahwa pemikiran Sen cenderung sejalan dengan pemikiran tokoh-tokoh 
nasional, seperti Mubyarto, Sri Edi Swasono, dan Sritua Arief. Jika kita membaca 
pemikiran Sen, perkembangan pikiran kita di Indonesia bisa dicegah untuk tidak 
��kebablasan��, lanjut Dawam Rahadjo. 

Sementara, John M Letiche dalam �Kata Pengantar� edisi aslinya (On Ethics and 
Economics) menyebut buku ini sebagai ��kotak harta karun�� bagi ekonom, filsuf, dan 
ilmuwan yang tertarik kepada hubungan antara ilmu ekonomi dan filsafat moral atau 
etika. Sen mengkritik perkembangan ilmu ekonomi modern yang cenderung mengabaikan 
pendekatan etika dalam berbagai teori dan kajian ekonomi. Menurut dia, salah satu 
kelemahan utama teori ekonomi masa kini adalah terciptanya jarak yang serius antara 
ekonomi dan etika. Pengabaian pertimbangan etika yang kompleks itu tentu akan 
mempengaruhi perilaku manusia dalam banyak kajian ekonomi. Secara substansial, sifat 
ilmu ekonomi modern telah dimiskinkan oleh melebarnya jarak antara ilmu ekonomi dan 
etika. 

Buku yang pembahasannya terbagi dalam tiga bagian ini merupakan hasil suntingan 
bahan-bahan kuliah yang disampaikan Sen di University of California, Berkeley, pada 
tahun 1986. Bagian pertama membahas perilaku ekonomi dan sentimen-sentimen moral, 
bagian kedua mengulas penilaian-penilaian ekonomi dam filsafat moral, dan bagian 
ketiga berbicara mengenai kebebasan dan konsekuensi. 

Buku ini perlu mendapat perhatian kita di Indonesia yang telah mengalami akibat-akibat 
fatal proses ekonomi yang jauh dari pertimbangan moral dan etika � sesuatu yang 
barangkali sempat terabaikan selama ini. 

A ARIOBIMO 


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke