http://www.indomedia.com/bpost/082001/25/opini/opini1.htm

Beda Mengajar Dan Mencerdaskan
Oleh Ismed Setia Bakti, MPHR

MENGAPA penduduk Kalimantan Selatan lebih memilih pergi ke Pulau Jawa untuk mengikuti 
pendidikan di tingkat universitas. Apa yang menjadi alasan mereka untuk memilih 
universitas di sana dan ada apa dengan universitas di daerah Kalimantan Selatan. 

Salah satu alasan nampaknya adalah masalah kualitas. Orang menginginkan kualitas yang 
setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki baik kemampuan yang 
bersifat finansial maupun kemampuan potensial untuk mendapatkan pendidikan yang lebih 
baik. 

Jika demikian berarti sudah terjadi gap antara kemajuan manusia/masyarakat Kalimantan 
Selatan dengan kemajuan kualitas pendidikan di daerah ini. Setidaknya telah terbentuk 
anggapan (image) bahwa pendidikan di Pulau Jawa dapat lebih memberikan kepuasan 
kualitas dari pada mengikuti pendidikan di daerah sendiri. Apakah gejala ini juga 
menandakan berlakunya istilah "halaman orang lain selalu lebih hijau dan indah dari 
pada halaman rumah sendiri" walahualam.

Memang untuk mengetahui lebih tepatnya kondisi ini dapat dilakukan melalui penelitian 
sehingga mengetahui faktor yang mempengaruhi kecenderungan-kecenderungan tersebut di 
atas. Tapi penelitian tersebut jelas memerlukan biaya, waktu yang tidak sedikit, dan 
hasilnya belum tentu menjadi perhatian serius dalam rangka perbaikan. 

Tulisan sederhana ini mungkin dapat memberikan gambaran untuk dijadikan pertimbangan 
bagi pihak-pihak yang berkompeten dalam bidang pendidikan tinggi di Kalimantan 
Selatan. Sebab problem ini sangat vital (crucial), bagaimana kita dapat melakukan 
percepatan (accelaration) peningkatan Sumber Daya Manusia. Sementara ini terkesan 
�mesin produksi pengolah SDM� di Kalsel (bidang pendidikan), tidak memiliki daya saing 
secara nasional.

****

Nampaknya kekuasaan tak terbatas dari seorang dosen/pengajar merupakan warisan sikap 
feodalisme. Ciri-cirinya antara lain: dosen merasa yang paling hebat/super di hadapan 
murid/mahasiswanya, tidak mau menerima kritik tajam, bisa dendam karena merasa 
dipermalukan jika tidak dapat menjawab pertanyaan seorang mahasiswa. Memang persentasi 
dosen/pengajar yang demikian sudah agak berkurang dibandingkan era tahun 80 an. Waktu 
itu ada anggapan "hati-hati dengan dosen A bisa menekan nilai ujian jadi rendah karena 
pengaruh "hallo effect". 

Benar-benar semua nasib akademis mahasiswa ditentukan oleh seorang dosen.

Satu hal yang sekarang masih ngetrend di kalangan universitas kita, yaitu ditetapkan 
peraturan batas persentasi kehadiran yang �harus� dipenuhi oleh mahasiswa, jika tidak 
terpenuhi mahasiswa akan kehilangan kesempatan ikut ujian/tidak diperbolehkan ujian. 
Ini sebenarnya wujud dari sebuah kegagalan penyelenggaraan kelas. Kenapa sifat 
otoriter selalu merupakan andalan dalam penyelesaian masalah. Padahal jika kita lihat 
hakekat dari proses belajar yang baik adalah mutlak atas persetujuan (agreement) kedua 
belah pihak, yaitu pihak yang akan memberikan materi pelajaran dan pihak yang menerima 
transformasi ilmu pengetahuan yaitu mahasiswa. Jika kehadiran seorang mahasiswa adalah 
merupakan kewajiban, itu adalah bukan berarti merupakan sebuah persetujuan dari 
mahasiswa untuk menerima transformasi ilmu pengetahuan pada saat itu.

Contoh yang paling mudah adalah seorang istri yang melayani suami hanya karena 
kewajiban, tidak lain hanya kehidupan seksual untuk kenikmatan sepihak. Sementara yang 
didapat oleh istri tidak lain hanyalah pelepasan kewajiban. Dari contoh di atas 
dapatkah kita melihat sisi harmonisasinya, tercapaikah tujuan yang sebenarnya yaitu 
kebahagian suami istri. Begitu juga dalam proses belajar dan mengajar persetujuan 
kedua belah pihak memegang peranan sangat penting agar tercapai tujuan yang sebenarnya 
diharapkan.

Rasanya malu jika kita berbicara di hadapan orang-orang yang sebenarnya tidak 
memerlukan kita pada saat itu, yaitu posisinya terpaksa karena takut tidak 
diperkenankan ikut ujian. Sebenarnya ada berbagai upaya yang diperlukan agar dapat 
merubah pengwajiban menjadi kebutuhan sebagai suatu yang mutlak dalam proses 
pendidikan. Bagaimana caranya? Kita �harus� dapat membuat materi yang kita sampaikan 
memiliki nilai jual yang tinggi di mata mahasiswa. Sama prinsipnya pada saat kita 
memperkenalkan suatu produk pertama kalinya kepada konsumen ini adalah masa yang 
paling menentukan (determinant) apakah produk kita diminati oleh masyarakat atau 
tidak. Jadi kuliah perdana adalah masa yang paling menentukan untuk menjual materi 
perkuliahan kepada mahasiswa agar dapat harga tinggi. Jika pendahuluannya sudah tidak 
menarik, mahasiswa akan lemah perhatiannya kepada materi yang diberikan, jika minatnya 
sudah rendah, apapun yang dilakukan akan setengah hati dan terpaksa, tak lebih adalah 
beban bukan kegembiraan mendapatkan ilmu pengetahuan.

Penjelasan-penjelasan yang sangat monoton, begitu perkenalan pertama mata kuliah tidak 
menarik, jalan selanjutnya adalah monoton. Pada sifat monoton terkandung makna seorang 
dosen hanya punya kewajiban untuk menyampaikan materi kepada mahasiswa. Banyak faktor 
yang mengakibatkan mengapa seorang dosen bertindak demikian antara lain, dia memang 
berprofesi sebagai dosen yang mau tidak mau harus menyampaikan materi yang telah 
ditentukan, sehingga muaranya adalah kewajiban. Pelaksanaannya pun akhirnya adalah 
penunaian kewajiban. Di sini terjadi hubungan antara majikan dan pekerja.

Masalah besar yaitu kemampuan pengembangan sistem proses belajar dan mengajar yang 
minim, akibatnya proses belajar mengajar dilihat hanya secara sangat sederhana yaitu 
menyampaikan materi sepihak (one-way) tidak ada embel-embel lain. Untuk menjadikan 
hubungan yang sinergis dalam proses belajar mengajar tidak cukup hanya dengan satu 
kata "Ada pertanyaankah", ini benar-benar cara tradisional yang tidak pernah berhasil 
menggali perkembangan potensi mahasiswa, sebab mengerti tidak mengerti jawabanya sudah 
dapat dipastikan "Tidak!" atau diam tanpa respon.

�Dosen sibuk� biasanya dianggap sebagai dosen yang berkualitas. Tapi coba simak lebih 
jauh bagaimana dampaknya terhadap kemajuan mahasiswanya. Mengajar jadi sekadarnya, 
tidak mau direpotkan, karena ada pekerjaan lain yang lebih mendatangkan hasil.

Adanya anggapan yang salah tentang teknik penyampaian materi terhadap tingkat 
universitas/mahasiswa. Mahasiswa dianggap sudah mandiri secara akademis, akibatnya 
materi disampaikan sekadarnya. Padahal mereka sangat memerlukan banyak hal. Itulah 
sebabnya adanya penyelenggaraan kelas dalam proses belajar. Pengertian mandiri 
akademis untuk seorang mahasiswa adalah dalam rangka pengembangan lebih jauh dari 
konsep, teori atau pengembangan aplikasi yang didapat di dalam kelas. Bukan mereka 
disuruh belajar sendiri dengan bantuan yang sangat minim dari seorang pengajar.

Nampaknya kelihatan sepele masalah penilaian prestasi yang dicapai oleh mahasiswa. 
Alasan utama dosen tidak mau direpotkan sehingga mengakibatkan banyak ketidakadilan 
yang terjadi dalam penilaian. Memang repot untuk memberikan penilaian seobjektif 
mungkin, seperti memberikan bobot soal sesuai dengan tingkat kesulitan, kemudian 
melakukan koreksi dengan menetapkan bobot yang dicapai dari hasil jawaban mahasiswa. 
Selanjutnya hal yang paling penting dalam sistem penilaian adalah mengembalikan lembar 
jawaban yang sudah dinilai kepada mahasiswa sebagai feed-back bagi mereka untuk 
mengetahui kelemahan-kelemahan yang harus mereka perbaiki untuk masa yang akan datang. 
Bahkan pengembalian lembar jawaban adalah merupakan media yang paling effektif untuk 
membangun komunikasi ilmiah dengan para mahasiswa.

Kita sudah sering dan biasa mendengar/membaca berita tentang ABG yang menjerit 
histeris ketika melihat konser idolanya seperti Westlife, NSYNC dan lain-lain. Seorang 
dosen juga dapat menjadi idola bagi para mahasiswa. Berdasarkan dari hasil polling 
terhadap 451 mahasiswa di Surabaya sebagai responden, mengindikasikan bahwa kriteria 
yang paling utama dari tipe dosen idola adalah memiliki hubungan baik dengan mahasiswa 
(akrab). Memang jika tidak ada suatu gap yang terjadi antara mahasiswa dengan dosen, 
maka kecenderungan kelas akan menjadi hidup. Mahasiswa tidak akan takut atau riskan 
untuk mengeluarkan pendapat, aspirasi ilmiahnya bahkan berupa saran. Kunci sebenarnya; 
mereka dihargai keberadaannya ini adalah suatu wujud dari kebutuhan akan aktualisasi 
diri mereka (self-actualization). Prinsipnya; tidak ada pertanyaan yang bodoh, tidak 
ada pertanyaan yang konyol, semua pertanyaan adalah critical point. Dampaknya terhadap 
prestasi belajar mahasiswa atas keberadaan dari dosen idola, sebagian besar responden 
menyatakan meningkatkan prestasi mereka. 

Sekarang jelas perbedaan antara mengajar dan mencerdaskan, dan proses transformasi 
ilmu pengetahuan dalam rangka peningkatan Sumber Daya Manusia diakui tidak semudah 
yang diucapkan.

Drs Ismed Setia Bakti, MPHR, Dosen SDM Uvaya Banjarmasin


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke