Daftar berita terlampir:
* Tanaman Kapas Transgenik akan Dikembangkan
* Sulut Perangi Merkuri, Sosialisasikan Sianida
* Perang terhadap Produk Rekayasa Genetika, Haruskah?
* DPRD Setujui Tim Siluman Antilimbah
* Empat Ribu Flora dan Fauna di TNKS Bakal Punah
* Industri Kayu Makin Sulit Bersaing
Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php
TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================
Tanaman Kapas Transgenik akan Dikembangkan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1767
Menteri Pertanian Bungaran Saragih menyatakan tanaman kapas transgenik yang saat ini
hanya dibudidayakan di Sulawesi Selatan pada tiga hingga lima tahun mendatang dapat
dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia, jika benar-benar terbukti tidak memiliki
dampak negatif yang merusak lingkungan maupun merugikan petani.
"Kalau tak ada bukti bahwa kapas transgenik merusak lingkungan dan merugikan petani,
maka tidak ada alasan untuk melarang petani menanam komoditas ini, dan pemerintah akan
mengembangkannya di seluruh Indonesia," katanya ketika melakukan panen raya kapas
Bolgard di Kabupaten Bantaeng, Sulsel, kemarin, seperti dikutip Antara.
(Media Indonesia, 2001-08-27)
Sulut Perangi Merkuri, Sosialisasikan Sianida
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1777
Sulawesi Utara (Sulut) harus dilepaskan dari ancaman bayang-bayang maut racun merkuri
(logam) yang ditebar melalui pertambangan emas, baik yang bersumber dari pertambangan
resmi skala besar maupun pertambangan tanpa izin (peti) yang dikelola rakyat.
Gubernur Sulawesi Utara Adolf Jouke Sondakh mengemukakan komitmen Pemerintah Provinsi
Sulut itu ketika berbincang khusus dengan Kepala Dinas Pertambangan Ir RJ Mamesah,
Sabtu (25/8), di Manado. "Apa pun juga, rakyat khususnya generasi baru Sulut harus
terlepas dari ancaman maut racun merkuri," ujar Sondakh.
(Kompas, 2001-08-27)
Perang terhadap Produk Rekayasa Genetika, Haruskah?
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1786
PRO dan kontra tentang produk transgenik atau produk hasil rekayasa genetika masih
tetap hangat. Melihat perkembangan opini di surat kabar, mereka yang kontra terhadap
produk hasil rekayasa genetikalah yang memenangkan opini publik. Paling tidak ini yang
penulis amati dalam laporan berita atau opini di harian nasional seperti Kompas. Dari
30 artikel berbentuk laporan maupun opini yang muncul antara tahun 1999-2001 di
Kompas, hanya tujuh buah yang bernuansa netral atau pro terhadap hasil produk rekayasa
genetik. Selebihnya, sangat tendensius. Sebagian besar tulisan menyuarakan nuansa yang
sama: produk rekayasa genetika berbahaya!
Teknologi rekayasa genetika sebenarnya bukanlah hasil orisinal para ilmuwan biotek.
Dia hasil peniruan proses alamiah yang sudah ada seperti proses sintesis protein
antibodi IgG dalam sel tubuh mamalia yang merupakan salah satu bentuk pertahanan tubuh
dari serangan kuman penyakit. Beratus jenis antibodi IgG dalam tubuh mamalia dikodekan
oleh berbagai gen DNA yang merupakan hasil potong dan tempel (rekombinasi) alamiah
berbagai fragmen DNA di dalam sel.
(Kompas, 2001-08-26)
DPRD Setujui Tim Siluman Antilimbah
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1782
Kasus pencemaran lingkungan di wilayah Jatim yang dampaknya dinilai semakin parah
membuat sejumlah lembaga swadaya msyarakat (LSM) yang bergabung dalam Jaringan
Komunikasi Pengawasan dan Pemantauan Polusi Industri (JKP3I) merasa prihatin.
Untuk itu, koalisi 12 LSM yang dimotori Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) itu kemarin
(24/8) mengadu ke DPRD Jatim. Mereka meminta agar DPRD segera menyetujui pembentukan
tim siluman antilimbah. Permintan tersebut berdasarkan keinginan para anggota komisi E
(bidang kesra), belum lama ini.
Ke-12 LSM itu adalah Walhi, APCL, YPI, FPRL, Forma PHM, KIH, Formasal, Ramasti, BPM
PPL, Petani Tambak Pasuruan, Posko Hijau, Formakosas, Banir Pula (Jombang), Aliensi
Masayarakat Peduli Lingkungan Hidup, dan Persatuan Guru Tidak Tetap. Mereka diterima
anggota komisi D, Ir H Abdul Ghani, Sugianto, dan Ir H Edy Wahyudi.
(Republika, 2001-08-25)
Empat Ribu Flora dan Fauna di TNKS Bakal Punah
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1784
Jika Tambang Batubara Dibuka
Pengelola Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menyampaikan sebuah kabar: Jika
pemerintah mengizinkan dibukanya tambang batubara di TNKS, maka sebanyak 4 ribu jenis
flora dan fauna bakal punah.
Kekhawatiran itu, menurut juru bicara Pemda Sumbar Yuen Karnova, harus mendapat
perhatian serius. "Kalau salah melangkah, kita akan disorot orang," katanya kepada
Republika, di Padang, kemarin.
Cerita soal punahnya flora dan fauna di TNKS, taman yang jadi jantung dunia yang
terletak di Sumatera itu, bermula masuknya permohonan izin menambang batubara di TNKS
dari sebuah perusahaan. Perusahaan itu, PT Sariangrindo Andalas (PTSA).
(Republika, 2001-08-25)
Industri Kayu Makin Sulit Bersaing
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1788
Industri kayu nasional sulit mendiversifikasikan produknya melalui pendalaman industri
agar dapat bersaing kembali di pasar internasional karena masuk dalam negative list
perbankan nasional. Dampak dari status itu membuat mereka kesulitan memperoleh kredit.
"Kami terganjal karena industri kayu nasional masuk dalam negative list perbankan
nasional sehingga sulit memperoleh kredit," kata Ketua Umum Asosiasi Panel Kayu
Indonesia (Apkindo) Abbas Adhar di Jakarta, Jumat (24/8).
(Kompas, 2001-08-25)
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]