Daftar berita terlampir:
* Soal Perusakan Taman Nasional di Kalbar, Masyarakat Dunia Sangat Gemas 
* Label Pangan Organic Tak Ada Pemasaran Terganggu 
* Sentra Mebel Mireng Tak Terpaku pada Jati
* "Edelweiss Ikut Hangus..."
* Kampanye Hutan Lindung Lewat Konser 
* Teknologi Budidaya Kerapu, Tak Perlu Rusak Ekosistem Untuk �Santap Malam�
* Kondisi Hutan Indonesia Jadi Sorotan PBB 
* Stop Perusakan Lingkungan Hidup, Krisis Air Mengancam  


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Soal Perusakan Taman Nasional di Kalbar, Masyarakat Dunia Sangat Gemas 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1807
Kalangan ilmuwan yang menekuni flora dan fauna dari berbagai negara Asia, Amerika, dan 
Eropa, sangat prihatin terhadap penebangan kayu secara besar-besaran di dalam Taman 
Nasional Gunung Palung (TNGP) dan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) di Kalimantan 
Barat (Kalbar). Mereka sangat berharap Pemerintah Indonesia dan berbagai pihak terkait 
di Kalbar segera mengatasi masalah itu.

Demikian Prof Dr Herujono Hadisuparto MSc, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas 
Tanjungpura, kepada Kompas di Pontianak, Senin (27/8). Menurut Herujono, kedua taman 
nasional itu memiliki ribuan jenis flora dan fauna langka di dunia. Maka, dengan 
maraknya aksi pembabatan kayu dikhawatirkan ikut merusak, menghancurkan, serta 
memusnahkan keanekaragaman hayati yang tumbuh dan berkembang di dua tanam nasional 
tersebut.
(Kompas, 2001-08-28)



Label Pangan Organic Tak Ada Pemasaran Terganggu 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1813
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB F.G 
Winarno menenggarai pemasaran produk pertanian Indonesia di pasar dunia bakal 
terganggu. Pasalnya hampir semua produk tersebut belum memperoleh label pangan 
organic. Padahal pangsa pasar pangan organic di pasar internasional dalam sepuluh 
tahun yang akan datang bisa mencapai 100 miliar dolar AS pertahun. 

''Kalau kita tidak cepat-cepat memberikan lebel pangan organic terhadap produk 
pertanian, kita tidak bisa merebut pasar internasional. Karena besar kemungkinan tidak 
akan diterima konsumen negara lain,'' kata Winarno akhir pekan lalu. 

Pangan organic tersebut meliputi produk mentah, setengah jadi, pangan jadi, mulai dari 
produksi pertanian, penanganan, proses pengolahan dan distribusinya. Disebut organic 
bila sudah memenuhi kaidah Codex Alimentarius Commission (CAC) dan International 
Federation Organic Agriculture Movement (IFOAM). CAC merupakan organisasi yang 
dibentuk oleh WHO/FAO, yang mengatur perdagangan pangan dan standar keamanan pangan 
dunia. 
(Republika, 2001-08-28)



Sentra Mebel Mireng Tak Terpaku pada Jati
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1815
Belum stabilnya permintaan pasar ekspor dan domestik akan mebel berbahan kayu jati 
tidak membuat pengusaha mebel di Kabupaten Klaten Jawa Tengah (Jateng) patah arang. 
Saat ini, mereka menyiasati pasar dengan membuat perabotan dari kayu nonjati, misalnya 
mahoni, akasia, dan sengon.
Fenomena itu terlihat di sentra industri mebel Mireng, Kecamatan Trucuk, Kabupaten 
Klaten (Jateng). "Memangnya, mebel itu harus identik dengan jati. Buktinya, dengan 
bahan lain pun kita tetap bisa eksis, meski pasarnya hanya berkutat dalam negeri," 
ujar Junaidi (40-an), salah satu dari pengusaha mebel di Mireng, Senin (27/8). Hal 
senada dikemukakan, Sumaryono (41). 
(Kompas, 2001-08-28)



"Edelweiss Ikut Hangus..."
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1822
MUHERI, Kadus Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja merasa heran. Ketika ribuan 
orang melakukan pendakian untuk memperingati 17 Agustus lalu tidak terjadi insiden. 
Mereka sudah dijejali pesan-pesan untuk mengutamakan keselamatan hutan. 

Namun ketika 140 polisi melakukan pendakian malah terjadi kebakaran. ''Untungnya yang 
terbakar itu sebelah kiri jalur pendakian, yang kanan belum. Coba kalau kanan-kiri 
terbakar, polisi-polisi itu pasti terjebak di puncak,'' ujar Muheri yang dikenal pula 
sebagai juru kunci gunung itu.

Dari pos pendakian Bambangan siang kemarin nampak bekas areal kebakaran menghitam. 
Tetapi sudah tidak lagi terlihat asap tebal maupun kobaran api di situ.
(Suara Merdeka, 2001-08-28)



Kampanye Hutan Lindung Lewat Konser 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1818
Orkes kamar alat gesek Capella Amadeus menggelar konser kampanye untuk pelestarian 
hutan, bertema �Untuk Pelestarian Hutan Lindung Sungai Wain�. Konser yang merupakan 
bagian dari kegiatan tahunan Capella Amadeus itu akan digelar Rabu (29/8) pukul 19.30 
WIB di Balairung Gedung Sapta Pesona, Jakarta. 

Pimpinan Capella Amadeus, Grace Sudargo pada konprensi pers, Rabu (22/8) di Galeri 
Cemara 6, Jakarta Pusat mengatakan, konser kali ini merupakan bagian dari kampanye 
untuk menyelamatkan hutan Sungai Wain yang terancam oleh pembangunan.�Kami ingin ikut 
mengkampanyekan upaya pelestarian hutan lindung Sungai Wain yang terancam musnah,� 
katanya.
(Suara Pembaruan, 2001-08-27)



Teknologi Budidaya Kerapu, Tak Perlu Rusak Ekosistem Untuk �Santap Malam�
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1825
Pada pesta-pesta besar, sampanye dan kaviar dihidangkan bukan untuk sekedar 
dikonsumsi, namun lebih ditekankan pada nilai prestise yang dikandungnya. Demikian 
pula ikan kerapu (grouper) jenis kerapu bebek (Chromileptes altivelis) dan kerapu 
napoleon (Chromileptes undulatus) yang berharga ratusan dolar Ameri-ka per kg. Jenis 
ikan hemaprodit (berkelamin ganda) yang hidup di terumbu karang ini banyak dikonsumsi 
manusia dan memiliki pasaran cukup baik di Asia. 

Karena rasa dagingnya yang enak dan mengandung kepercayaan tersendiri di kalangan 
penggemarnya maka ikan kerapu jenis bebek dan napoleon semakin melambung saja harga 
jualnya.
�Jenis bebek yang populer dengan sebutan Grace Kelly bisa seharga US$ 90.000 sampai 
US$ 150.000/Kg, sedangkan jenis napoleon di Hongkong bisa US$180.000/Kg,� ungkap 
Ir.Iding Chaidir,Msc.
(Sinar Harapan, 2001-08-27)



Kondisi Hutan Indonesia Jadi Sorotan PBB 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1827
PENEBANGAN liar, perburuan satwa, pencurian kayu masih merajalela walau sejak lama 
pemerintah dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pemerhati lingkungan 
�berkoar-koar� untuk melestarikan hutan.

Kondisi hutan Indonesia saat ini menjadi sorotan Per-serikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 
Bersama dengan Rusia, Kanada, Brazil, Amerika Seri-kat, India, Kongo, Cina, Meksiko, 
Peru, Kolombia, Bolivia, Venezuela, Australia dan Papua New Guinea, Indonesia termasuk 
negara di mana lebih dari 80 persen hutannya membutuhkan perlindungan khusus. Banyak 
hutan di negara-negara itu yang rusak akibat tindakan manusia.
(Sinar Harapan, 2001-08-27)



Stop Perusakan Lingkungan Hidup, Krisis Air Mengancam  
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1828
CURAH hujan di Indonesia mulai tidak teratur beberapa tahun belakangan ini. Musim 
hujan yang biasanya dimulai sekitar Agustus, belum juga terlihat tanda-tandanya. Bumi 
terasa kian panas. Dan air bersih yang dulu bisa didapat dengan mudah, kini makin 
mahal harganya.

Di belahan bumi lain, enam negara Afrika sedang berupaya mengatasi kekeringan. Danau 
Chad terbukti telah menyusut hingga 95 persen dalam 38 tahun terahir. Dua dari tiga 
kota di Cina juga tengah menghadapi kekurangan air. Di Iran, 60 persen penduduk 
pedesaan kesulitan air hingga harus bermigrasi ke kota. Sementara lautan Aral di Asia 
mengalami penurunan permukaan air sebesar 16 meter.
(Sinar Harapan, 2001-08-20)




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke