Saya memiliki bebrapa buku environmental dalam hubungan dengan research and development....jika ada yang berminat bisa kontak nanti saya akan kirimkan judul-judulnya........... trims > > Da: TerraMilis <[EMAIL PROTECTED]> > Data: 28/08/2001 04:33 > A: [EMAIL PROTECTED] > Oggetto: [envorum] Kliping kebijakan - 28/Aug/01 > > Daftar berita terlampir: > > * Soal Perusakan Taman Nasional di Kalbar, Masyarakat Dunia Sangat Gemas > > * Label Pangan Organic Tak Ada Pemasaran Terganggu > > * Sentra Mebel Mireng Tak Terpaku pada Jati > > * "Edelweiss Ikut Hangus..." > > * Kampanye Hutan Lindung Lewat Konser > > * Teknologi Budidaya Kerapu, Tak Perlu Rusak Ekosistem Untuk ”Santap >Malam” > > * Kondisi Hutan Indonesia Jadi Sorotan PBB > > * Stop Perusakan Lingkungan Hidup, Krisis Air Mengancam > > > > > Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di > http://www.terranet.or.id/terramilis.php > http://www.terranet.or.id/berita.php > > TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan > > http://www.terranet.or.id > > ================================================================ > > > > > > > > Soal Perusakan Taman Nasional di Kalbar, Masyarakat Dunia Sangat Gemas > > http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1807 > > Kalangan ilmuwan yang menekuni flora dan fauna dari berbagai negara Asia, Amerika, >dan Eropa, sangat prihatin terhadap penebangan kayu secara besar-besaran di dalam >Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) dan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) di >Kalimantan Barat (Kalbar). Mereka sangat berharap Pemerintah Indonesia dan berbagai >pihak terkait di Kalbar segera mengatasi masalah itu. > > > > Demikian Prof Dr Herujono Hadisuparto MSc, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas >Tanjungpura, kepada Kompas di Pontianak, Senin (27/8). Menurut Herujono, kedua taman >nasional itu memiliki ribuan jenis flora dan fauna langka di dunia. Maka, dengan >maraknya aksi pembabatan kayu dikhawatirkan ikut merusak, menghancurkan, serta >memusnahkan keanekaragaman hayati yang tumbuh dan berkembang di dua tanam nasional >tersebut. > > (Kompas, 2001-08-28) > > > > > > > > Label Pangan Organic Tak Ada Pemasaran Terganggu > > http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1813 > > Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB F.G > > Winarno menenggarai pemasaran produk pertanian Indonesia di pasar dunia bakal >terganggu. Pasalnya hampir semua produk tersebut belum memperoleh label pangan >organic. Padahal pangsa pasar pangan organic di pasar internasional dalam sepuluh >tahun yang akan datang bisa mencapai 100 miliar dolar AS pertahun. > > > > ''Kalau kita tidak cepat-cepat memberikan lebel pangan organic terhadap produk >pertanian, kita tidak bisa merebut pasar internasional. Karena besar kemungkinan >tidak akan diterima konsumen negara lain,'' kata Winarno akhir pekan lalu. > > > > Pangan organic tersebut meliputi produk mentah, setengah jadi, pangan jadi, mulai >dari produksi pertanian, penanganan, proses pengolahan dan distribusinya. Disebut >organic bila sudah memenuhi kaidah Codex Alimentarius Commission (CAC) dan >International Federation Organic Agriculture Movement (IFOAM). CAC merupakan >organisasi yang dibentuk oleh WHO/FAO, yang mengatur perdagangan pangan dan standar >keamanan pangan dunia. > > (Republika, 2001-08-28) > > > > > > > > Sentra Mebel Mireng Tak Terpaku pada Jati > > http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1815 > > Belum stabilnya permintaan pasar ekspor dan domestik akan mebel berbahan kayu jati >tidak membuat pengusaha mebel di Kabupaten Klaten Jawa Tengah (Jateng) patah arang. >Saat ini, mereka menyiasati pasar dengan membuat perabotan dari kayu nonjati, >misalnya mahoni, akasia, dan sengon. > > Fenomena itu terlihat di sentra industri mebel Mireng, Kecamatan Trucuk, Kabupaten >Klaten (Jateng). "Memangnya, mebel itu harus identik dengan jati. Buktinya, dengan >bahan lain pun kita tetap bisa eksis, meski pasarnya hanya berkutat dalam negeri," >ujar Junaidi (40-an), salah satu dari pengusaha mebel di Mireng, Senin (27/8). Hal >senada dikemukakan, Sumaryono (41). > > (Kompas, 2001-08-28) > > > > > > > > "Edelweiss Ikut Hangus..." > > http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1822 > > MUHERI, Kadus Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja merasa heran. Ketika >ribuan orang melakukan pendakian untuk memperingati 17 Agustus lalu tidak terjadi >insiden. Mereka sudah dijejali pesan-pesan untuk mengutamakan keselamatan hutan. > > > > Namun ketika 140 polisi melakukan pendakian malah terjadi kebakaran. ''Untungnya >yang terbakar itu sebelah kiri jalur pendakian, yang kanan belum. Coba kalau >kanan-kiri terbakar, polisi-polisi itu pasti terjebak di puncak,'' ujar Muheri yang >dikenal pula sebagai juru kunci gunung itu. > > > > Dari pos pendakian Bambangan siang kemarin nampak bekas areal kebakaran menghitam. >Tetapi sudah tidak lagi terlihat asap tebal maupun kobaran api di situ. > > (Suara Merdeka, 2001-08-28) > > > > > > > > Kampanye Hutan Lindung Lewat Konser > > http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1818 > > Orkes kamar alat gesek Capella Amadeus menggelar konser kampanye untuk pelestarian >hutan, bertema ”Untuk Pelestarian Hutan Lindung Sungai Wain”. Konser yang >merupakan bagian dari kegiatan tahunan Capella Amadeus itu akan digelar Rabu (29/8) >pukul 19.30 WIB di Balairung Gedung Sapta Pesona, Jakarta. > > > > Pimpinan Capella Amadeus, Grace Sudargo pada konprensi pers, Rabu (22/8) di Galeri >Cemara 6, Jakarta Pusat mengatakan, konser kali ini merupakan bagian dari kampanye >untuk menyelamatkan hutan Sungai Wain yang terancam oleh pembangunan.”Kami >ingin ikut mengkampanyekan upaya pelestarian hutan lindung Sungai Wain yang terancam >musnah,” katanya. > > (Suara Pembaruan, 2001-08-27) > > > > > > > > Teknologi Budidaya Kerapu, Tak Perlu Rusak Ekosistem Untuk ”Santap Malam” > > http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1825 > > Pada pesta-pesta besar, sampanye dan kaviar dihidangkan bukan untuk sekedar >dikonsumsi, namun lebih ditekankan pada nilai prestise yang dikandungnya. Demikian >pula ikan kerapu (grouper) jenis kerapu bebek (Chromileptes altivelis) dan kerapu >napoleon (Chromileptes undulatus) yang berharga ratusan dolar Ameri-ka per kg. Jenis >ikan hemaprodit (berkelamin ganda) yang hidup di terumbu karang ini banyak dikonsumsi >manusia dan memiliki pasaran cukup baik di Asia. > > > > Karena rasa dagingnya yang enak dan mengandung kepercayaan tersendiri di kalangan >penggemarnya maka ikan kerapu jenis bebek dan napoleon semakin melambung saja harga >jualnya. > > ”Jenis bebek yang populer dengan sebutan Grace Kelly bisa seharga US$ 90.000 >sampai US$ 150.000/Kg, sedangkan jenis napoleon di Hongkong bisa >US$180.000/Kg,” ungkap Ir.Iding Chaidir,Msc. > > (Sinar Harapan, 2001-08-27) > > > > > > > > Kondisi Hutan Indonesia Jadi Sorotan PBB > > http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1827 > > PENEBANGAN liar, perburuan satwa, pencurian kayu masih merajalela walau sejak lama >pemerintah dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pemerhati lingkungan >”berkoar-koar” untuk melestarikan hutan. > > > > Kondisi hutan Indonesia saat ini menjadi sorotan Per-serikatan Bangsa-Bangsa (PBB). >Bersama dengan Rusia, Kanada, Brazil, Amerika Seri-kat, India, Kongo, Cina, Meksiko, >Peru, Kolombia, Bolivia, Venezuela, Australia dan Papua New Guinea, Indonesia >termasuk negara di mana lebih dari 80 persen hutannya membutuhkan perlindungan >khusus. Banyak hutan di negara-negara itu yang rusak akibat tindakan manusia. > > (Sinar Harapan, 2001-08-27) > > > > > > > > Stop Perusakan Lingkungan Hidup, Krisis Air Mengancam > > http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1828 > > CURAH hujan di Indonesia mulai tidak teratur beberapa tahun belakangan ini. Musim >hujan yang biasanya dimulai sekitar Agustus, belum juga terlihat tanda-tandanya. Bumi >terasa kian panas. Dan air bersih yang dulu bisa didapat dengan mudah, kini makin >mahal harganya. > > > > Di belahan bumi lain, enam negara Afrika sedang berupaya mengatasi kekeringan. Danau >Chad terbukti telah menyusut hingga 95 persen dalam 38 tahun terahir. Dua dari tiga >kota di Cina juga tengah menghadapi kekurangan air. Di Iran, 60 persen penduduk >pedesaan kesulitan air hingga harus bermigrasi ke kota. Sementara lautan Aral di Asia >mengalami penurunan permukaan air sebesar 16 meter. > > (Sinar Harapan, 2001-08-20) > > > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] > Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] > Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected] > > --------------------------------------------------------------------- Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
