Daftar berita terlampir:
* Mapala Se-Indonesia Minta Presiden Cabut HPHH
* Pelestarian Lingkungan Sarat Ketidakpastian
* Bioteknologi Harus Mampu Sejahterakan Petani dan Nelayan
* Kembalikan Ruang Publik pada Publik 
* Edukasi Publik Perlu agar Hasil Bioteknologi Bisa Dimanfaatkan
* Jepang Bantu 46,5 Miliar Yen Proyek Pengembangan SDA
* Bapedal luncurkan situs APEC Virtual Centre


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Mapala Se-Indonesia Minta Presiden Cabut HPHH
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2409
Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) se-Indonesia akan meminta kepada presiden agar 
mencabut peraturan tentang izin Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) dan sejenisnya yang 
belakangan banyak dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten di Indonesia. Pemberian izin 
tersebut dinilai hanya memperparah kerusakan lingkungan seperti yang terjadi di 
Kalimantan Timur.

Ketua Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Imapa) Universitas Mulawarman, Leonardo 
Simanjuntak di Samarinda, Senin (22/10), menyatakan, tuntutan tersebut merupakan 
bagian dari resolusi yang dihasilkan pertemuan 159 Mapala se-Indonesia dalam Temu 
Wicara dan Kenal Medan (TWKM) ke-XIII yang berlangsung di Samarinda, 10-20 Oktober 
2001. 
(Kompas, 2001-10-24)



Pelestarian Lingkungan Sarat Ketidakpastian
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2414
Pelestarian lingkungan hidup tidak hanya dinamis dan kompleks, tetapi juga sarat 
dengan ketidakpastian. Karena itu, pelestarian lingkungan hidup memerlukan 
keterlibatan berbagai pihak untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan kerusakan 
lingkungan. 

Demikian diungkapkan Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Dampak 
Lingkungan Nabiel Makarim, sebagai pembicara kunci dalam seminar nasional keselamatan, 
kesehatan, dan lingkungan, Selasa (23/10) di Jakarta.
(Kompas, 2001-10-24)



Bioteknologi Harus Mampu Sejahterakan Petani dan Nelayan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2418
Presiden Megawati Soekarnoputri berharap perkembangan bioteknologi yang ada sekarang 
ini diarahkan bagi kesejahteraan petani dan nelayan. Hal ini didasari kenyataan bahwa 
sampai saat ini kondisi dua bagian besar masyarakat ini masih dalam tingkat 
memprihatinkan.

Harapan ini disampaikan Megawati saat membuka Konfrensi Bioteknologi II di Yogyakarta, 
Selasa (23/9). "Setelah sekian puluh tahun ibarat selalu menjadi pusat perhatian dalam 
pembangunan, dua kelompok besar ini ternyata belum juga bisa keluar dari kesulitan 
hidup mereka," kata presiden.
(Republika, 2001-10-24)



Kembalikan Ruang Publik pada Publik 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2419
PENGGUNAAN ruang publik kawasan terbuka hijau Taman Silang Monas, untuk tempat pameran 
"Expo Otonomi Indonesia 2001", 20-28 Oktober 2001, menjadi kontroversial. Meskipun 
disadari penggunaannya melanggar peraturan dengan pelarangan mendirikan bangunan di 
sekitar kawasan tersebut, Gubernur DKI Jakarta tetap memperbolehkan PT Samudra Nira 
Praga mendirikan bangunan pameran.
Masyarakat bisa melihat kembali, bagaimana kebijakan Gubernur DKI Jakarta itu 
menerapkan standar ganda dan diskriminatif terhadap warganya. Penerapan standar ganda 
ini berarti tidak mendidik warganya. Juga adanya tindakan diskriminatif dengan hanya 
memfasilitasi pengusaha yang notabene berorientasi bisnis, ketimbang memfasilitasi 
pedagang kaki lima yang memang lebih membutuhkan fasilitas tersebut.
(Kompas, 2001-10-24)



Edukasi Publik Perlu agar Hasil Bioteknologi Bisa Dimanfaatkan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2403
ADANYA pendapat yang kontroversial tentang hasil rekayasa genetik seperti bioteknologi 
(pangan) terutama disebabkan kurangnya edukasi publik tentang manfaatnya. Bagi yang 
tidak setuju, hasil itu dianggap sesuatu yang artifisial sehingga diperkirakan 
berbahaya. Padahal, pendapat yang kontroversial seperti itu seharusnya disikapi lebih 
rasional. 

Hal itu merupakan rangkuman pembicaraan terbatas beberapa ahli bioteknologi dari 
Institut Pertanian Bogor (IPB), antara lain Dr Ir Antonius Suwanto MSc, Prof Dr Ir 
Maggy T Suhartono, Prof Dr Ir Betty Sri Laksmi Jenie, Prof Dr Bibiana W Lay MSc, dan 
Drs Ir S Wenuganen MSc pekan lalu. Pembicaraan itu diadakan sebagai persiapan 
pendirian Fakultas Biologi dengan Program Studi Bioteknologi, Universitas Katolik Atma 
Jaya, Jakarta. 
(Suara Pembaruan, 2001-10-23)



Jepang Bantu 46,5 Miliar Yen Proyek Pengembangan SDA
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2420
Pemerintah Jepang memberikan bantuan senilai 46,5 miliar Yen untuk pengembangan Sumber 
Daya Air (SDA) di Indonesia, khususnya di wilayah tengah dan timur Indonesia. Bantuan 
tersebut akan dikucurkan dalam jangka waktu enam tahun terhitung mulai 2001 hingga 
2007. Demikian dikemukakan Pelaksana Tugas Dirjen SDA Depkimpraswil, Hari Sidharta di 
Jakarta, Senin (22/10).

Menurut Hari, proyek pengembangan SDA tersebut di antaranya berupa pengembangan 
irigasi di delapan provinsi di wilayah timur Indonesia. Khusus untuk pengembangan 
irigasi dialokasikan sebesar 29 miliar Yen yakni Small Schale Irrigation Managemen 
Project (SSIMP) tahap IV.
(Sinar Harapan, 2001-10-23)



Bapedal luncurkan situs APEC Virtual Centre
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2400
Badan Pengendali Dampak Lingkungan (Bapedal) di Jakarta, Senin, meluncurkan situs APEC 
Virtual Centre sebagai jaringan kerja sama via internet di bidang teknologi pencemaran 
lingkungan. 

Deputi II Bapedal Isa Karmisa, saat peluncuran, mengatakan pembangunan situs tersebut 
didasarkan pada adanya kebutuhan para pengambil keputusan atas informasi semua aspek 
lingkungan dalam rangka pembangunan berkelanjutan. 
(SatuNet.Com, 2001-10-22)




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke