Daftar berita terlampir: * 'Jadikan Indonesia Pusat Agribisnis Biofarmaka' * Pemkot Pertahankan TPA demi Retribusi * Perlu Pemetaan Potensi Karst Maros-Pangkep * Pengendalian Hama secara Biologi Kurang Peminat * Setiap Orang Wajib Tanam 100 Pohon * Pemda Provinsi Bengkulu Tidak Mampu Tertibkan "Sawmill" Liar * Pameran Pertanian Ramah Lingkungan di Unida Bogor * Berantas Kemiskinan dengan Pemulihan Lingkungan dan Pemberdayaan Perempuan * Industri Kayu Boleh Manfaatkan Ramin Sampai 31 Desember 2001 * LoI IMF Rusak Hutan Indonesia
Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di http://www.terranet.or.id/terramilis.php http://www.terranet.or.id/berita.php TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan http://www.terranet.or.id ================================================================ 'Jadikan Indonesia Pusat Agribisnis Biofarmaka' http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2573 Indonesia, dengan keanekarahaman hayati yang dimilikinya, seharusnya menjadi pusat agribisnis biofarmaka. "Indonesia sangat kaya akan spesies yang memiliki fungsi biofarmaka. Yakni, tumbuhan, hewan maupun mikroba yang memiliki potensi sebagai obat dan makanan kesehatan baik untuk manusia, hewan maupun tanaman," ujar Menteri Pertanian Bungaran Saragih kemarin di Jakarta. Dia menambahkan, Indonesia sangat kaya biota bahan obat-obatan tradisonal, bahan kosmetika alami dan bahan pemelihara kesehatan. "Sudah seharusnya kita dapat memanfaatkan kekayaan alamiah tersebut untuk pertumbuhan ekonomi nasional," kata Bungaran ketika membuka Lokakarya & Pameran Pengembangan Agribisnis Berbasis Biofarmaka di Auditorium Departemen Pertanian. (Republika, 2001-11-14) Pemkot Pertahankan TPA demi Retribusi http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2580 Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mempertahankan mekanisme penimbunan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, hanya demi mempertahankan perolehan dana masyarakat dari retribusi. Pemkot tidak mau berusaha memberi layanan publik secara lebih baik, sehingga saat ini paradigma pembuangan sampah tidak mau diubah menjadi pengolahan sampah. "Paradigma pembuangan sampah di Surabaya tidak diubah menjadi pengolahan sampah. Ini menunjukkan Pemkot Surabaya ingin tetap mempertahankan proyek perolehan dana dari sana," kata pengamat politik Hermawan Sulistyo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta kepada Kompas, ketika ia hadir sebagai pembicara di suatu seminar di Surabaya, Selasa (13/11). (Kompas, 2001-11-14) Perlu Pemetaan Potensi Karst Maros-Pangkep http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2567 Keinginan menjadikan karst Maros-Pangkep menjadi warisan alam dunia (world heritage) harus disambut baik. Meski demikian, usulan tersebut harus disertai pemetaan potensi untuk menekan potensi salah satu kepentingan menghilangkan kepentingan lainnya. Dengan demikian, termasuk dalam pertimbangan ini, kepentingan konservasi dan preservasi tidak lantas mematikan kegiatan ekonomis lain yang telah berlangsung, seperti penambangan marmer dan kapur untuk bahan baku semen, serta pertanian. Hal itu disampaikan oleh Direktur Kawasan Konservasi, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Widodo S Ramono dalam simposium "Menuju Perlindungan dan Pemanfaatan Karst Maros-Pangkep di Era Otonomi Daerah" yang diselenggarakan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Regional III di Makassar, Senin (12/11) pagi. (Kompas, 2001-11-13) Pengendalian Hama secara Biologi Kurang Peminat http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2568 KATANYA efektif? Kenapa ulatnya enggak mati? Pembasmi macam apa ini," kisah Dr Sudharto Ps, menirukan ucapan petani kelapa sawit yang melihat daya kerja "jus ulat" pembunuh Setothosea asigna hasil temuannya. Pembasmi ulat temuan Sudharto yang dipaparkan dalam "Ekspose Hasil-hasil Peneliti-an PPKS", di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada pertengahan Oktober 2001 memang tidak membunuh ulat api jenis S asigna dengan seketika. Ia baru menampakkan hasil berupa matinya ulat-ulat pemakan daun sawit tersebut setelah 15 hari penyemprotan. (Kompas, 2001-11-13) Setiap Orang Wajib Tanam 100 Pohon http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2569 Setiap penduduk Indonesia diwajibkan menanam 100 pohon di atas lahan kosong, lahan kritis, dan di sisi kiri-kanan jalan serta sekitar sungai. Upaya itu ditempuh Departemen Kehutanan untuk mengembalikan kondisi hutan Indonesia yang terus mengalami kerusakan akibat penebangan liar. Hal ini dikemukakan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) Prof Dr Ir Suhardi di Jakarta, Senin (12/11). (Kompas, 2001-11-13) Pemda Provinsi Bengkulu Tidak Mampu Tertibkan "Sawmill" Liar http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2581 Pemda Provinsi Bengkulu tidak mampu menertibkan ratusan industri penggergajian (sawmill - Red) liar yang hingga hari ini terus beroperasi dan makin merusak kawasan hutan di Bengkulu. Hal itu terungkap dalam perbincangan dengan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu Hidayat Syahid dan berdasarkan pemantauan Pembaruan di kawasan hutan di Bengkulu, akhir pekan lalu. Hidayat mengakui, pihaknya sulit memberantas sawmill liar karena mereka selalu menghilang saat hendak dioperasikan. Kesulitan lainnya adalah terbatasnya personel di lapangan. Saat ini, dia hanya memiliki karyawan 100 orang sementara luas hutan di Bengkulu yang harus dijaga seluas 920 .000 hektare (ha). (Suara Pembaruan, 2001-11-13) Pameran Pertanian Ramah Lingkungan di Unida Bogor http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2574 Puluhan Pemda dan perguruan tinggi di Indonesia dipastkan mengikuti pameran besar 'Agribo Expo 2001' dan seminar produk pertanian ramah lingkungan. Pameran yang diselenggarakan di kampus Universitas Djuanda (unida), Ciawi Bogor ini didukung leh Deptan, Yayasan Pengembangan Agribisni serta Pemda Kabupaten Bogor. Ketua Penyelenggara 'Agribo Expo 2001' Ir Apendi Arsyad MSi mengatakan, diperkirakan pameran dan seminar ini akan dikunjungi oleh puluhan ribu pengunjung yang berasal dari kalangan mahasiswa, pedagang grosir, pengecer, wisatawan, pengusaha agribisnis dan para pembeli. (Republika, 2001-11-10) Berantas Kemiskinan dengan Pemulihan Lingkungan dan Pemberdayaan Perempuan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2560 Kemiskinan di dunia tak dapat diberantas tanpa memulihkan kerusakan lingkungan. Sementara pemberdayaan perempuan dapat memperlambat pertambahan penduduk dan membantu menyeimbangkan kebutuhan manusia dengan kelestarian lingkungan. Hal itu mengemuka dalam Laporan "Keadaan Penduduk Dunia 2001" (The State of World Population 2001) terbitan Dana Kependudukan PBB (UNFPA) yang dipresentasikan Kepala Perwakilan UNFPA Indonesia Nesim Tumkaya PhD kepada wartawan, Rabu (7/11).Menurut laporan itu, kegiatan manusia memberi gambaran yang memprihatinkan. Jumlah penduduk dunia berlipat dua kali sejak tahun 1960 menjadi 6,1 milyar saat ini. Selanjutnya, akan bertambah 50 persen menjadi 9,3 milyar di tahun 2050. (Kompas, 2001-11-08) Industri Kayu Boleh Manfaatkan Ramin Sampai 31 Desember 2001 http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2563 Para pengusaha industri perkayuan di Banjarmasin menyambut gembira keputusan terakhir Menteri Kehutanan Mohammad Prakosa yang mengizinkan mereka kembali memanfaatkan kayu ramin, baik untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. "Kami lega. Bisa bernapas walau hanya sampai Desember 2001," kata Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia Kalimantan Selatan, Dehen Binti di Banjarmasin, Selasa (6/11). Menurut Dehen, Menteri Kehutanan Mohammad Prakosa melalui SK Nomor 1613/Kpts-II/2001 kembali membolehkan industri perkayuan memanfaatkan kayu ramin, baik untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor sampai 31 Desember 2001. Sebelumnya, Menhut telah melarang pemanfaatan kayu ramin terhitung sejak Juni 2001. Keputusan terakhir Menhut itu, menurut Dehen, merupakan respon positif dari Menhut atas banyaknya keluhan para pengusaha industri yang disampaikan saat Kongres Kehutanan Indonesia (KKI) ke III pada 25 Oktober di Jakarta. (Kompas, 2001-11-07) LoI IMF Rusak Hutan Indonesia http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2564 Letter of intent (LoI) yang diajukan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang disepakati Pemerintah Indonesia ternyata tidak selalu berdampak positif. Di sektor kehutanan, LoI IMF meningkatkan penebangan liar hingga 16,4 juta meter kubik tahun 1998 dan 20,2 juta meter kubik tahun 1999. Selama empat tahun terakhir ekspor kayu gelondongan memang meningkat pesat sejak dikeluarkannya kembali kebijakan ekspor komoditas tersebut, sesuai ketetapan LoI IMF 1998. Di sektor perkebunan, liberalisasi industri kelapa sawit menyebabkan makin tingginya konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit. Sampai Juni 2001, areal hutan yang telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit mencapai 2,7 juta hektar atau sekitar 80 persen dari areal kebun kelapa sawit swasta besar. Ekspansi ini justru semakin intensif saat krisis ekonomi dan telah mencapai 2,2 juta hektar atau hampir 90 persen dari total pertambahan secara keseluruhan. (Kompas, 2001-11-07) --------------------------------------------------------------------- Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
