Daftar berita terlampir: * Konservasi Taman Nasional untuk Pengurangan Utang * Bisikan agar Kita Menjaga Kelestarian Alam * Jadi Pemulung di Atap Bumi Karo Simalem * Tragedi Banjir dan Kelangkaan Manajemen Hijau * Warga Dayak di Kalimantan Selatan Tak Merasa Memiliki Hutan * Pelabelan Kendaraan akan Tekan Emisi * Pengelolaan 'Tailing' Perlu Segera Diatur * Rakyat Pantas Dapat Bagian 8 Persen Penjualan Kayu HTI
Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di http://www.terranet.or.id/terramilis.php http://www.terranet.or.id/berita.php TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan http://www.terranet.or.id ================================================================ Konservasi Taman Nasional untuk Pengurangan Utang http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2591 Tiga taman nasional ditawarkan untuk program pengurangan utang dengan imbalan konservasi. Ketiga taman nasional tersebut telah memenuhi empat syarat, yaitu tersedia program pengamanan taman nasional, ada program pengembangan masyarakat (community development programme), ada program peningkatan manajemen taman nasional, dan ada manajemen yang permanen. Taman nasional dimaksud adalah Taman Nasional Ujungkulon, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan Taman Nasional Rolelindu. Hal tersebut disampaikan Menteri Kehutanan M Prakosa, di sela-sela kunjungannya ke Bengkulu, Selasa lalu, untuk meninjau persiapan acara Puncak Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional (PPKAN) ke-41 yang dibuka Rabu (14/11). (Kompas, 2001-11-16) Bisikan agar Kita Menjaga Kelestarian Alam http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2592 SELAMA abad ke-20 peringatan tentang nasib orangutan paling sedikit diserukan tiga kali. Dalam setiap peringatan ini ada tindakan yang diambil oleh kalangan internasional yang khawatir akan banyaknya orangutan yang ditangkap untuk diekspor atau diselundupkan ke luar Indonesia. Hampir tidak ada orang yang secara serius memperhatikan distribusi orangutan dan kurangnya tindakan-tindakan perlindungan. Sudah sejak zaman kolonial orangutan perlahan-lahan terus menghilang, bersamaan dengan hilangnya tutupan hutan di semua wilayah yang merupakan habitatnya. (Kompas, 2001-11-16) Jadi Pemulung di Atap Bumi Karo Simalem http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2593 BECAUSE it's there. Itulah jawaban almarhum George F Mallory, seorang pendaki kawakan asal Inggris, ketika suatu ketika dirinya ditanya buat apa naik gunung. Sedikit nakal, oleh kami anggota Kompas USU it tersebut kami terjemahkan sebagai "sampah". Karena itulah, beberapa waktu yang lalu kami naik ke gunung, jadi pemulung dadakan mengusung turun sampah-sampah anorganik yang berserakan di sepanjang jalur pendakian Gunung Sibayak, Tanah Karo Simalem, Sumatera Utara. Tentu kami tak sedikit pun bermaksud merendahkan nilai filosofis yang diburu oleh para petualang, khususnya pendaki gunung sekaliber almarhum Mallory. Tidak juga bermimpi menyejajarkan tingkat kesulitan pendakian Himalaya, sebagai akhir sekaligus awal dari unlimitted adventure-nya si doi, dengan pendakian ke puncak Sibayak yang hanya berketinggian sekitar 2.050 mdpl (meter di atas permukaan laut). "Kita hanya berusaha mewujudkan bukti keprihatinan kita akan kebersihan dan keasrian gunung ini, yang ternyata justru dirusak oleh penikmatnya," begitu papar Bimasta Salvatore, koordinator hajatan ini kepada sejumlah relawan yang diundang. (Kompas, 2001-11-16) Tragedi Banjir dan Kelangkaan Manajemen Hijau http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2594 We are behaving like unwelcome guests on the earth. Our profit making activities inflict loses of which we may not be immediately aware. We use profits for ourselves, but the loses we pass on to the next generation Q. Beatric, 1988 Peringatan Beatric itu sedang kita rasakan. Kita, anak-anak dan cucu-cucu kita, kini sedang dirundung masalah besar akibat kerusakan alam, khususnya kehancuran hutan dengan atangnya banjir di berbagai daerah. Tak hanya di Jawa, banjir juga terjadi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, bahkan Papua. Hutan kita yang "mengendalikan banjir" secara sangat menakjubkan selama lebih seperempat abad telah dijarah habis-habisan oleh pengusaha HPH yang serakah tanpa mempedulikan kelestariannya sehingga berakibat sangat fatal. Generasi sekarang kini sedang menerima bencana akibat keserakahan itu. Sungguh, betapa jahatnya pengusaha dan oknum-oknum pemerintah yang mendorong terjadinya kerusakan hutan yang sangat parah tadi. (Republika, 2001-11-16) Warga Dayak di Kalimantan Selatan Tak Merasa Memiliki Hutan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2585 GALIMUN (73) langsung mengerutkan dahi ketika diungkap kembali kejadian yang menimpanya tahun 1971. Tokoh adat Dayak, Kepala Padang dan Ketua Pembina/ Penasihat Balai Adat Dayak se-Dusun Ramang, Kampung Ramang, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), saat itu tengah bersembunyi di balik sebuah gunung. Polisi akan menangkapnya dengan sangkaan mengajak masyarakat memprotes kehadiran sebuah perusahaan HPH (hak pengusahaan hutan) di wilayahnya. Kakek 19 cucu ini dituduh menghasut masyarakat dan menghalang-halangi pembangunan. (Kompas, 2001-11-15) Pelabelan Kendaraan akan Tekan Emisi http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2587 Pencemaran udara di kota-kota metropolitan Jakarta dan Surabaya, serta kota-kota besar lainnya di Indonesia terus meningkat akibat peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Karena itu, perlu upaya menekan emisi gas rumah kaca dari kendaraan, yang bisa dilakukan dengan banyak cara. Di antaranya adalah menerapkan sistem perpajakan dan pelabelan kendaraan. Demikian Direktur Eksekutif Pelangi, Agus P Sari dan Pimpinan Tim GTZ Surabaya Urban Transportation Program, Karl Fjellstrom, dalam acara "Preparing Cities for Climate Action First National Workshop," di Jakarta, Selasa (13/11) lalu. (Kompas, 2001-11-15) Pengelolaan 'Tailing' Perlu Segera Diatur http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2598 Pemerintah dan DPR perlu segera membuat peraturan mengenai pengelolaan tailing (sisa proses pengolahan mineral berupa pasir). Hal itu untuk mencegah atau mengakhiri perbedaan pendapat di kalangan para ahli pertambangan dengan aktivis lingkungan, sekaligus sebagai pedoman dalam mengelola tailing. (Media Indonesia, 2001-11-15) Rakyat Pantas Dapat Bagian 8 Persen Penjualan Kayu HTI http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2590 Pemerintah harus mempercepat pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang kini baru terealisir 23,5 persen atau seluas 1,8 juta hektare. Sebab HTI yang kini menjadi prioritas Departemen Kehutanan untuk mensuplai 70 persen bahan baku industri di masa datang, dapat menjadi penyelamat hutan alam di Indonesia. Rakyat yang terlibat di dalam pembangunan itu dinilai pantas mendapatkan bagian 5-8 persen dari penjualan kayu. Demikian ditegaskan oleh pengamat kehutanan Titus Sarijanto, di Jakarta, Selasa (13/11) dan ketua Forest Watch Indonesia (FWI), Togu Manurung, kepada SH beberapa waktu lalu. Sementara itu, menurut data dari Departemen Kehutanan yang dihimpun SH, hutan Indonesia diperkirakan seluas 122,3 juta hektare. Sekitar 33,5 juta hektare merupakan hutan lindung dan 20,5 juta hektare adalah hutan konservasi yang tidak bisa diutak-atik. Sementara 58,3 juta hektare adalah hutan produksi yang terdiri dari hutan produktif (dikelola oleh perusahaan yang memiliki konsesi Hak Pengusahaan Hutan atau HPH) dan non produktif (diurus oleh perusahaan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri atau HPHTI) (Sinar Harapan, 2001-11-14) --------------------------------------------------------------------- Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
