```````````````````````
[EMAIL PROTECTED]
A r t i k e l   Lepas
^*^*^*^*^*^*^*^*^

Kemanusiaan dan Patriotisme TNI
`````````````````````````````````````````
Oleh: Augustinus S, S.H

Hari ini, tepatnya 5 Oktober 2001, TNI (dulu ABRI) merayakan hari ulang
tahunnya yang ke-56. Oleh karena itu, kesempatan ini perlu kiranya dijadikan
sebagai momen reflektif atas apa yang pernah dialami atau dilakukan oleh TNI
dulu dan sekarang.

Patriotisme TNI, bisa diartikan sebagai kesetiaan prajurit TNI dalam membela
bangsa dan tanah air. Patriotisme searas dengan nasionalisme, yaitu paham
yang menempatkan kesetiaan tertinggi kepada bangsa dan negara, menempatkan
kepentingan nasional di atas kepentingan golongan (konteks kebangsaan).

Dalam sejarah negara kita patriotisme TNI tentu dampak positipnya pernah
dirasakan oleh rakyat yakni ketika TNI (sebagai alat pertahanan negara)
berhasil menciptakan susana nasional yang stabil. Dan tentaralah yang secara
fisik turut dalam proses pembentukan atau lahirnya negara Indonesia. Setelah
negara terbentuk dan betul-betul merdeka (dari imperialisme asing),
terciptalah stabilitas nasional. Bahkan di era Orde Baru, stabilitas
nasional menjadi salah satu faktor penting sehingga keberhasilan dalam
menciptakan stabilitas ini sempat pula diagung-agungkan.

Namun, stabilitas yang tercipta ternyata mengalami gugatan atau kristik
tajam dari berbagai kalangan terutama mulai menjelang momen kejatuhan Orde
Baru (notabene era reformasi). Hal ini terjadi karena stabilisasi kehidupan
berbangsa mengalami reduksi dari falsafah mengayomi dan melindungi rakyat ke
arah ter-hegemoni-nya rakyat oleh penguasa.

Hegemoni oleh penguasa yang militeristik dinilai telah mengekang aspirasi
rakyat yang muncul, terutama di daerah-daerah. Sehingga, dengan berjubah
patriotisme tentara, aspirasi rakyat (menuntut keadilan) yang berkembang di
Aceh, Irian Jaya, dan ex-propinsi Timor-Timur langsung dihadapi dengan DOM
(Daerah Operasi Militer). Al-Khaidir, dalam bukumnya: "Aceh Bersimbah Darah"

mengungkapkan betapa ABRI dulu melakukan tindakan-tindakan yang mengerikan
terhadap rakyat Aceh. Selama DOM diberlakukan ribuan orang menjadi korban,
bahkan Timor-Timur merdeka lebih banyak berangkat dari isu Hak asasi
manusia. Selain itu, kita masih ingat kasus Tanjung Priok, kasus Trisakti,
kasus Marsinah yang melibatkan aparat, kasus penculikan para aktivis
demokrasi, dan lain sebagainya.

Persoalannya sekarang ialah, apakah demi stabilitas nasional atau demi
persatuan bangsa maka TNI boleh melakukan perbuatan yang mengorbankan rakyat
(melanggar HAM) ? Apakah demi stabilitas maka TNI harus mengekang kebebasan
rakyat untuk berekspressi dan mengeluarkan aspirasi?

Berangkat dari pemikiran Ir. Soekarno, bahwa nasionalisme kita adalah
nasionalisme kemanusiaan (nasionalisme untuk kemanusiaan), maka merupakan
suatu kesalahan yang sangat fatal bila kemanusiaan dikorbankan untuk/demi
stabilitas. Mengorbankan manusia untuk persatuan adalah tergolong fasis.
Kasus DOM di Aceh, Irian Jaya, dan Timor-Timur jelas telah mengorbankan
rakyat untuk persatuan. Dalam kasus ini, dengan dalih demi stabilitas dan
persatuan, seorang tentara menjadi sangat bangga membunuh anggota GPK
(sebuah stigma), atau bahkan menganggap pembunuhan itu sebagai prestasi
kemiliteran. DOM adalah sebuah pendekatan fasis yang sama sekali tidak layak
untuk diterapkan.

Oleh karena itu, paradigma TNI hendaklah mengacu pada pemikiran Ir. Soekarno
di atas, yaitu mengarahkan patriotisme TNI kepada kemanusiaan. Patriotisme
harus mengarah pada peningkatan harkat dan martabat manusia, bukan
sebaliknya. Tidak jamannya lagi menggunakan patriotisme untuk mengekang
bahkan mengorbankan rakyat. Lagi pula, hierarkhi dalam dasar negara kita
Pancasila dengan jelas menempatkan Kemanusiaan (sila II) di atas persatuan
(sila III). Dirgahayu Tentara Nasional Indonesia. **

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi
Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
**************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
*************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke