````````````````````````` [EMAIL PROTECTED] Dari Meja Redaksi ^*^*^*^*^*^*^*^
Salam sejahtera dalam Kasih Tuhan Yesus, Perayaan Natal sebentar lagi akan tiba. Lalu, hadiah terindah apa kira-kira yang akan kita berikan terhadap sanak famili, sahabat atau handai taulan di hari Natal ini? Parsel-kah? Pakaian-kah? Mobil-kah? Handphone-kah? Atau cukup mengirim surat dan salam saja? Atau kartu Natal dengan gambar Sinterklaus, gambar gedung gereja, gambar pohon dengan buahnya, gambar orang dengan seni yang indah, atau gambar lainnya? Apa sebenarnya maksud kita memberikan hal-hal itu kepada mereka? Supaya mereka senang? Atau sekedar turut dalam memeriahkan sekaligus menikmati Hari Natal itu? Lalu, bagaimana dengan kartu Natal yang Anda kirim tanpa memuat Oknum yang sebenarnya kita rayakan? Bagaimana dengan kartu Natal yang justru membuat Sinterklaus paling terkenal di hari Natal dibanding dengan Oknum yang lahir di kandang domba itu? Apa sebenarnya makna tersirat dalam kartu yang kita kirim tersebut? Sekedar seremonial? Pernahkah kita mengevaluasi, seberapa banyak uang dan prangko yang kita habiskan untuk mengirim parsel atau kartu yang sebenarnya tak bermakna kekal? Rindukah kita memberikan sesuatu yang bernilai kekal bagi sanak saudara dan sahabat kita? Kalau ya, ikutilah saran redaksi berikut ini: Mari kita jadikan kartu Natal sebagai media untuk memberitakan kabar suka cita dari Tuhan. Mari bercerita tentang; mengapa Yesus harus lahir di dunia, dan mengapa kita merayakannya. Bila kita sungguh-sungguh memiliki kerinduan agar sanak-saudara atau handai taulan kita semakin memahami alasan kelahiran Yesus ini, namun kesulitan menjelaskannya, mari kita pergi ke toko buku rohani. Mari kita mencari di sana beberapa buku kecil (traktat) yang mempermudah kita untuk menjelaskannya. Dengan hati yang tulus mari kita ungkapkan karya Yesus dalam hidup kita. Mari kita penuhi kartu Natal kita dengan berita pengampunan dari dosa dan berita tentang pengharapan hidup kekal yang Ia berikan pada setiap orang yang percaya padaNya. Mari kita bercerita bahwa semua manusia telah berdosa (Roma 3) dan dosa telah membuat manusia terpisah dari sumber hidup yaitu Allah yang suci dan agung itu. Dosa telah membuat manusia tidak mengenal Allah, tidak punya tujuan hidup dan tidak punya pengharapan. Bahwa keterpisahan ini mengakibatkan kebaikan dan kebenaran tidak lagi berstandar kepada apa yang dikehendaki Tuhan, melainkan menurut standar manusia yang cenderung relatif. Bahwa dosa telah mengakibatkan penolakan terhadap Tuhan. Akibat dosa yang adalah maut (Roma 6:23). Bercerita pula bahwa untuk menjembatani keterpisahan Allah dengan manusia maka diperlukan suatu tindakan penyelamatan yang berasal dari Tuhan sendiri sebagai bukti hakekat-Nya yang Mahakasih. Tindakan itu mengandung solidaritas insani, dengan maksud agar orang-orang berdosa langsung terhisab dalam suatu karya penyelamatan oleh Tuhan. Dengan karya penyelamatan itu manusia tidak lagi menanggung sendiri segala akibat dosanya. Berceritalah bahwa tindakan Tuhan itu telah terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu, yang diawali dengan kelahiranNya di dunia (Natal), lalu kita ditebus oleh kematianNya di kayu salib. Ia mati disalibkan sebagai substitusi atas keberdosaan manusia sekaligus menjembatani jurang pemisah antara Tuhan dengan manusia. Ia menderita menggatikan penghukuman yang seharusnya diterima oleh manusia berdosa. Berceritalah bahwa kuasa kebangkitan Yesus dari kematian menjadi bukti bahwa kuasa maut/kematian telah dikalahkan oleh Yesus. Dengan kuasa "hidup-Nya yang tak mungkin terbinasakan" Yesus menjadi pemberi hidup. Kematian dan kebangkitan Yesus memberi pengharapan baru bagi orang-orang berdosa. Berceritalah bahwa Ia menjadi "Roh yang menghidupkan", yang berkuasa memberi kemenangan-Nya itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Yaitu mereka yang mau menerima kemenangan Yesus itu dalam kehidupannya, sehingga ia diperdamaikan kembali dengan Tuhan yang Mahasuci. Bercerita bahwa siapa yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat hidupnya dan menerima Dia di dalam kehidupannya maka ia akan diperdamaikan dengan Allah yang kudus dan suci itu. Dalam 1 Timotius 2:5 dikatakan: "Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus". "..Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci". (1 Korintus 15:3b-4) ". Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). "Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya." (Yohanes 1:12). "...jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." (Roma 10:9) Mari bercerita bahwa menerima Kristus berarti menyerahkan seluruh totalitas hidup untuk dikuasai olehNya, baik pikiran, perasaan maupun kemauan dan menerima anugerah pengampunan dosa serta kehidupan yang kekal sebagaimana yang telah dijanjikanNya. (Menjadi hamba kebenaran dalam Kristus, bukan lagi hamba dosa). Cerita ini tidak muat di kartu Natal? Tidak perlu khawatir. Bisa kita atur sendiri sesuai dengan kapasitas kartu yang ada. Apabila hati kita rindu melakukan ini setiap hari raya Natal atau Paskah niscaya kita sudah memberikan sesuatu yang paling berharga (bersifat kekal) bagi sanak-saudara atau handai taulan kita. Sesuatu yang kita lakukan di dalam namaNya dan dengan doa yang sungguh-sungguh tidak akan sia-sia. Terpujilah Tuhan kekal selamanya. Amin. (AS/Red)
