```````````````````````````````
[EMAIL PROTECTED]
Hot Spot: 3/1/2002
^*^*^*^*^*^*^*^*^*^
DOKTER AS USUL JUAL BELI
ORGAN TUBUH DILEGALKAN
````````````````````````````````````````````
(www.glorianet.org )
GloriaNet - Saat ini AS kekurangan organ tubuh manusia. Akibatnya banyak
warganya meninggal karena tidak bisa memperoleh organ yang dibutuhkan.
Demikian ungkap Satunet belum lama ini.
California Transplant Donor Network, sebuah jaringan yang mengkoordinasikan
kegiatan pencangkokan organ manusia, melaporkan di AS terdapat kekurangan
75.000 organ manusia tiap tahun. Kira-kira 6.000 pasien meninggal tiap tahun
karena tidak bisa mendapatkan suku cadang tubuh yang diperlukan.
Kalau saja lebih banyak orang mau menjadi donor organ, kemungkinan keadaan
defisit itu akan bisa diatasi. Tapi justru di sinilah letak persoalannya.
Cukup banyak orang, karena alasan kepercayaan atau 'keprihatinan kosmetik',
tidak mau atau sungkan menyumbang organ atau bagian-bagian tubuhnya setelah
mereka meninggal.
Menurut mereka, kalau organ itu diambil, bagaimana mereka bisa hidup di alam
yang lain nanti? Atau apa kata keluarga dan sanak saudara mereka kalau
melihat jenazahnya tidak lengkap? Persoalan yang sama juga terdapat di Cina,
negara paling besar jumlah penduduknya di dunia.
Sehingga sumber organ cangkokan terbesar adalah dari orang-orang yang baru
saja menjalani hukuman mati, demikian VoA, baru-baru ini.
Kendala lain yang dihadapi para dokter dan pasien Cina yang membutuhkan
organ cangkok adalah peraturan pemerintah yang mengatakan seorang calon
donor baru bisa dinyatakan mati kalau jantungnya berhenti bekerja.
Tapi di AS dan di 13 negara lainnya, seseorang bisa dinyatakan mati kalau
otaknya tidak lagi berfungsi, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut braid
dead. Seorang donor yang dinyatakan brain dead bisa diambil organ tubuhnya
yang masih baik untuk dicangkokkan kepada orang lain.
Tapi kendati ada peraturan itu, jumlah organ tubuh yang diperlukan terus
saja tidak cukup, antara lain karena banyak calon donor khawatir organ tubuh
mereka akan diambil sebelum mereka mati sungguhan.
Untuk mengatasi soal itu, seorang dokter AS mengusulkan supaya diadakan jual
beli organ. Menurut dr Arthur Caplan, Kepala Bagian Bioetika pada
Universitas Pennsylvania di Philadelphia, masyarakat AS sudah terbiasa
dengan sistem pasar terbuka dan paham betul akan prinsip hukum permintaan
dan penawaran.
Kalau suatu barang jumlahnya terbatas, sedangkan permintaan banyak, maka
harganya akan naik. Karena orang akan bersaing untuk mendapatkannya. Dan
kalau harganya cukup tinggi, kekuatan pasar akan menyediakan barang yang
diperlukan selama ada permintaan.
Tapi selama tidak ada peraturan yang mengizinkan jual beli organ manusia,
sulit menciptakan persediaan yang cukup bagi suku cadang manusia itu.
Kecuali mungkin nanti, kalau riset penggunaan stem sel sudah lebih maju.
Para pakar berharap bisa membuat organ tubuh yang diperlukan lewat sistem
kloning. Sehingga bagian tubuh itu bisa dicangkokkan dengan mudah dan tidak
ditolak oleh tubuh resipien, karena dibuat dengan menggunakan susunan DNA
yang sama.
Kira-kira 25% operasi cangkok organ di AS, organnya diambil dari donor
hidup. Menurut para pakar, seorang donor yang sehat bisa menyumbang satu
ginjal, satu paru-paru, sebagian liver atau hati, atau sebagian kelenjar
pankreasnya untuk dicangkokkan kepada orang lain.
Ongkos operasi dan penyembuhan seorang donor biasanya ditanggung perusahaan
asuransi, termasuk ongkos penyembuhan, pengobatan, dan pemeriksaan selama
satu tahun setelah dia menyumbangkan organ tubuhnya. (GCM/*)
http://www.glorianet.org/berita/b2010.html