````````````````````````` H O T S P O T [EMAIL PROTECTED] ^*^*^*^*^*^*^*^*
Polri Belum Siap Berkomentar Hambali Terkait Tragedi WTC? ``````````````````````````````````````` Reporter : Lukmanul Hakim detikcom - Jakarta, Polisi Malaysia makin dekat pada kesimpulan bahwa Hambali, warga Indonesia, adalah pimpinan sel teroris di Singapura dan Malaysia. Ia diketahui pernah bertemu dengan pembajak dan pembom Gedung WTC New York. Seperti dikutip Straits Times, Sabtu (2/2/2002), penyidik telah memeriksa 23 anggota Jemaah Islamiah (JI) yang telah ditangkap. Kesaksian mayoritas cenderung mengungkap bahwa otak di balik organisasi itu adalah Hambali yang datang ke Malaysia sejak tahun 1985. Hambali termasuk orang yang disebut-sebut selama 3 tahun belakangan ini kerap bertemu dengan orang dari jaringan Al Qaeda. Termasuk diantaranya, Ramzi Yousef dan Wali Khan Amin Shah, 2 orang yang dituduh AS terlibat perencanaan pemboman Gedung WTC tahun 1993. Dua orang itu diduga kurir dana bagi organisasi yang dibentuk Hambali. Indikasi keterlibatan Hambali makin kuat ketika polisi menggerek rumah Ramzi Yousef tahun 1995 di Manila. Disitu diketemukan sebuah foto diri Hambali. Hambali juga membuat jejak keterkaitan dengan Tragedi WTC, 11 September 2001. Sumber di kepolisian menyebut Hambali bersama seorang anggota JI yang telah ditangkap, Yazid Sufatt pernah bertemu dengan 2 orang pembajak Tragedi 11 September WTC/Pentagon. Pertemuan terjadi Januari 2000 di apartemen milik Yazid di Kuala Lumpur. 2 Pembajak WTC itu adalah Khalid al-Midhar and Nawaf al-Hazmi yang akhirnya tewas dalam aksi pembajakan di Pentagon. Yazid sendiri belakangan diminta oleh AS untuk diekstradisi ke negara Paman Sam tersebut. Lantas dimanakah keberadaan Hambali saat ini? Jawaban yang satu ini cukup sulit. Beberapa pihak menyebut Hambali ada di Indonesia, namun ada juga dugaan ia lari ke Timur Tengah. Yang pasti, soal Hambali ini, Mabes Polri memilih bungkam. Kabahumas Polri Irjen Saleh Saaf dan Sekretaris NCB Interpol Irjen Dadang Garnida belum bersedia memberikan komentar ketika dihubungi detikcom. (tbs) www.detik.com
