```````````````````````````` [EMAIL PROTECTED] REFLEKSI PASKAH ^*^*^*^*^*^*^*^*^*
"Status Berdosa dan Status Diselamatkan" ```````````````````````````````````````````````````` Ketika pilihan kehendak bebas Adam dan Hawa jatuh dari titik batas antara taat kepada Allah dengan taat pada iblis (manusia pertama jatuh dalam dosa), maka sejak itu pula status manusia pindah dari status kekudusan dan 'realm' kesucian Allah ke status keberdosaan. Manusia pun mengalami kerusakan dalam hal hubungannya dengan Allah (terpisah dengan Allah yang adalah Kudus dan Suci). Kini, setelah terpisah dari Allah yang Maha Suci, manusia berada dalam 'realm keberdosaan' yang bisa digambarkan sebagai berikut: Kualitas dosa <---o ---> kualitas hidup kudus (realm keberdosaan) <--o--> (realm kekudusan) (kehendak iblis) <---o---> (kehendak Allah) (Kegelapan) <---o---> (Terang Allah) (status berdosa) <---o--> (status diselamatkan) Kesempatan manusia pertama untuk lolos ujian dalam rangka meningkatkan kualitasnya di hadapan Allah sebagai mahluk berbudi pekerti (memiliki pilihan antara jalan Allah atau jalan iblis) ternyata gagal karena lebih memilih godaan setan ketimbang otoritas Allah. Manusia itu gagal karena dalam ujian itu dia tidak lagi theosentris tapi mengarah pada egosentris yang membawa pada malapetaka. Ibarat seorang sarjana yang gagal meningkatkan kualitasnya dalam karena pertimbangan moralnya memilih jalan kecurangan ketimbang jalan kejujuran (walaupun ia akhirnya lulus dan bergelar). Apalagi seandainya kecurangannya diketahui orang atau institusinya maka hancurlah segala upaya dia selama menempuh studi. Terhadap Adam dan Hawa, tidak lagi 'seandainya diketahui' tetapi memang Allah tahu tentang ketidaktaatannya itu yakni dengan memilih jalan iblis, sehingga otomatis hancurlah persekutuan manusia itu dengan Allah yang Maha Suci. Betapa indahnya seandainya manusia itu mampu berjalan selama proses hidupnya dengan tetap memelihara kekudusannya di hadapan Allah walaupun melewati cobaan/godaan iblis, cobaan yang diijinkan oleh Allah terjadi untuk menguji manusia itu guna meningkatkan kualitas hidupnya di hadapan Allah. Demikianlah pohon dan diijinkannya iblis masuk di Taman Eden sebenarnya bagian paling indah dari seluruh kisah kejadian manusia, karena hal ini menunjukkan betapa penghargaan Tuhan atas budi pekerti manusia, yaitu kebebasan untuk memilih." (Andrew Song/1968). Namun, penghargaan itu tidak diperjuangkan oleh manusia itu untuk lolos dari ujian yang diijinkan oleh Tuhan itu. "....maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam..." (Roma 5:14) "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak." (Roma 3:10) "Sebab upah dosa ialah maut..." (Roma 6: 23) Jadi, persoalan paling mendasar manusia ialah bagaimana mengangkat manusia itu dari status keberdosaan itu ke status kekudusan yang dikehendaki oleh Allah, atau mengangkatnya kembali untuk memulai hidup baru di dalam Tuhan. Apakah manusia itu sanggup berpindah sendiri menuju hidup baru di dalam Tuhan? Mungkinkah dua "realm" yang berbeda itu bisa menyatu? Mungkinkah manusia berdosa itu bersekutu dengan Allah yang Maha Suci? Mungkinkah kegelapan bisa menyatu dengan terang? Jawabannya ialah: manusia berdosa tidak sanggup menyelamatkan dirinya, tidak mungkin mempertemukan/ mempersekutukan dirinya dengan Allah yang Maha Suci. Agama, filsafat, teknologi, science, dsb tidak akan bisa menyelamatkan manusia tersebut karena hal-hal itu semua masih dilakukannya dalam wilayah keberdosaan atau kondisi manusia berdosa. Oleh karena itulah Kristus (terang Allah) datang menyinyari kegelapan itu. Kristus, yang tanpa cacat itu, datang melewati titik batas (melewati titik nol) antara Allah yang Maha Kudus dengan kondisi manusia berdosa. Manusia tidak mungkin sanggup melewati titik batas itu menuju Allah, tetapi Allah sendirilah yang datang menuju dunia berdosa itu. Dia yang tak berdosa memberi cahaya kehidupan dan menarik manusia itu menuju Allah. Dia rela dituduh berdosa, dihakimi, menderita hingga disalibkan dan mati sebagai tonggak penyelamatan manusia. "Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia." (Roma 6:8) Siapa yang datang dan berserah kepada Terang yang datang itu akan diselamatkan, akan diangkat kembali dari status keberdosaan menjadi status diselamatkan. Dalam status diselamatkan itu, ia akan memulai hidup baru di dalam Kristus menuju proses peningkatan kualitas yang dikehendaki oleh Dia yang menyelamatkannya. "Selamat Hari Paskah", Tuhan Yesus Sang Penebus memberkati kita semua. Amin. (Augustinus S)
