|
~~~~~~~~~~~~~~
E s k o l N e t
~~~~~~~~~~~~~~
Kongres Agama-agama Se-Asia
Pencarian Spiritualitas dan Komitmen Bersama Oleh A. Salman Habeahan Kongres Agama-agama Se-Asia di Yogyakarta, 24–28 Juni 2002, dengan tema: ” Reconcilier” merupakan kelanjutan dari tema-tema assembly sebelumnya yang menekankan pentingnya usaha perdamaian di Asia dan peran agama di dalamnya. Agama-agama di Asia yakin bahwa perdamaian tidak akan langgeng di Asia jika tidak mempunyai dasar yang kokoh dalam tradisi-tradisi agama yang berkembang di Asia. Oleh karena itu, usaha untuk memupuk kultur perdamaian di kawasan Asia perlu dikembangkan lebih jauh dari perspektif agama dan spiritualitas agama-agama di Asia, khususnya di Indonesia. Berbicara tentang spiritualitas agama-agama di Asia, kita dihadapkan pada sebuah pluralisme spiritualitas. Dalam konteks Indonesia, kita semua mengetahui bahwa Indonesia adalah bangsa yang plural, yang terdiri atas suku, bahasa, dan tradisi yang berbeda serta agama dan spiritualitas yang berbeda pula. Di kalangan Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha pun ada pluralisme dari sisi spiritualitas atau religiositas. Karena itu, pluralisme juga mengandung kerawanan yang negatif sekaligus juga merupakan potensi yang positif. Kalau umat beragama itu tidak berada dalam kondisi rukun, akan terjadi kerawanan yang bisa berakibat fatal. Demikian juga jika terjadi pertentangan antarsuku, kelompok, ras, dan golongan, akan terjadi kerawanan yang sangat memprihatinkan yang berdampak pada pertentangan bahkan sampai pada perang antarumat beragama, antarsuku. Jika demikian, menjadi sangat urgen common sense bersama atau etika bersama dalam mengembangkan spiritualitas agama-agama di Asia khususnya dalam menciptakan perdamaian. Dialog Spiritualitas ---------------------------
Globalisasi dan pluralisme dapat merupakan tantangan berat bagi umat beragama dan kepercayaan yang harus diatasi sekaligus bisa menjadi peluang ke arah pencerahan peran kehidupan beragama dalam misi perdamaian. Dialog spirtualitas lintas agama dapat menjadi sebuah model untuk menggali tradisi spiritualitas agama-agama di Asia. Sebagai contoh, pertemuan/dialog pemuka agama Katolik dan Buddha di Vihara Buddha Fo Kuang Shan di Kaoshing, Taiwan, dengan tema; ”Budhisme dan Kekristenan: Titik Temuan dan Perbedaan”, yang diselenggarakan pada tanggal 31 Juli-4 Agustus 1995. Dalam pertemuan tersebut hadir masing-masing sepuluh orang pakar agama Buddha dan sepuluh pakar agama Katolik dari Jepang, Taiwan, Srilanka, Thailand, Amerika Serikat, dan Italia. Pertemuan tersebut dilakukan dalam suasana doa, penghayatan semangat pertapaan, keramah-tamahan yang melimpah, dan keheningan yang mendalam di tempat tersebut. Di samping itu mereka tinggal di Biara Buddhis Fo Kuang Shan yang menyediakan diri untuk bekerja sama, sehingga langkah-langkah dapat diambil dengan lancar. Dalam permenungan bersama para tokoh agama dari Katolik dan Buddha tersebut sampai pada sebuah kesadaran bahwa baik ajaran Buddha maupun Kristen mengakui bahwa umat manusia di dalam beberapa hal memiliki cacat juga, memiliki kemungkinan untuk berubah secara positif. Pengalaman manusiawi tersebut diuji oleh pengikut Buddha dan menyampaikan analisis yang tepat serta cara bertindak yang membawa ke arah pembebasan. Analisis tradisional pengikut Buddha menyediakan daya karma yang berakar pada ketidaksabaran dan kelekatan pada diri seseorang sebagai sebab penderitaan yang mendalam dan bijaksana sebagai sarana melawan keadaan itu. Tradisi Kristen mengajarkan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan citra dan gambar Allah. Dan sebagai manusia ia mengalami keterbatasan bukan hanya karena keadaan kita sebagai ciptaan, tetapi juga sebagai akibat dari dosa asal. Warisan ini mengakibatkan keterbatasan yang berupa keteledoran, nafsu, keterasingan dari diri sendiri, dari sesama dan Tuhan, bahkan mengakibatkan maut. Dalam inti sejarah keselamatan manusia terletaklah misteri Paskah penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang mengubah keadaan manusia secara defenitif ketika manusia ambil bagian di dalam kehidupan rahmat ilahi. Dalam masing-masing tradisinya, baik Buddha dab Kristen menawarkan cita-cita yang jelas mengenai kesempurnaan manusia. Bagi pengikut Buddha, cita-cita itu merupakan keseimbangan yang lembut, bebas, murni dan tak berat sebelah antara kebijaksanaan dan ketertiban penuh kasih pada dunia. Dan umat Kristen terpanggil untuk menemukan kesempurnaan dalam persatuan dengan Allah yang terwujud di dalam kasih akan Allah dan kasih akan sesama manusia. Pergumulan rohani tokoh Buddha dan Kristen selama beberapa hari juga mengakui bahwa mereka sedang mengadakan pertemuan di dalam sebuah dunia yang dirobek oleh perpecahan dan percekcokan, kemiskinan dan ketidakadilan, kekerasan dan perang, pengikisan nilai-nilai rohani dan kehancuran alam. Mereka menekankan kembali perlunya agama-agama untuk memajukan baik pemabaharuan pribadi maupun sosial menuju terebntuknya dunia yang semakin damai. Akhirnya disadari bahwa dialog yang benar dan mendalam dapat menguatkan rangsangan kreatif untuk perjuangan bersama di dalam persahabatan antarumat beragama, menggali nilai-nilai spiritualitas agama-agama untuk membangun persaudaraan universal umat beragama di dunia. Usaha kedua kelompok tokoh agama tersebut di atas (Buddha dan Kristen) merupakan salah satu contoh sederhana bagaimana usaha sekelompok umat beragama untuk mencari spiritualitas yang berakar dalam tradisi agama masing-masing (lebih bersifat orthodoksi) namun bisa menjadi pedoman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh kebangkitan ”Spiritualitas Baru” juga dikisahkan dalam novel ”The Celestine Prophecy” karangan James Redfield yang mengisahkan manuskrip yang berwawasan spiritual baru, berwawasan kosmologi baru. Wawasan spiritual ini diceriterakan dengan gaya petualangan—ibarat drama-drama horor—yang berlangsung di Peru. Tulisan James Renfield menawarkan sembilan wawasan yang isinya mengajak pembaca mulai menyadari bahwa dewasa ini sedang terjadi pergeseran besar dalam cara pandang mengenai hubungan manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. Spiritualitas agama dan dunia sekular kedua-duanya boleh saja mendapat tempat dalam diri seorang umat beriman. Agama tidak melarang seseorang mencari jalan kebenaran sejauh mereka mampu. Dan agama menyiapkan jalan yang baik kepada kebenaran ilahi itu. Walaupun spiritualitas bisa bersifat religius dan bisa juga tidak bersifat religius dalam pengertian bahwa ia tidak mengikuti konvensi suatu agama-agama tertentu, tetapi bisa merupakan pencarian sekelompok orang yang dengan metode-metode mereka sendiri sampai kepada apa yang mereka yakini sebagai kebenaran dan kesempurnaan. Fenomena yang sering digambarkan sebagai kebangkitan spiritual baru dewasa ini sudah seharusnya diisi dan dikembangkan sebagai upaya bersama untuk saling memberikan apa yang terbaik dari pandangan dunia keagamaannya dalam sebuah dialog kehidupan. Spiritualitas Agama-agama akan dapat berkembang dan memberi makna dalam membangun perdamaian jika mengakar dalam dialog kehidupan. Komitmen Bersama ----------------------------
Kongres Agama-agama Se-Asia di Yogyakarta diharapkan melahirkan pencerahan baru dalam membangun rekonsiliasi di Asia. Tentu saja kongres agama-agama yang dihadiri 400 orang peserta dari 23 negara di Asia dan Pasifik bukan saja sekadar melahirkan seruan kepada dunia khususnya di Asia agar pertikaian, peperangan segera diakhiri melainkan sebuah kesadaran baru dan komitmen bersama tokoh-tokoh agama untuk membangun bersama, keadilan, kebenaran, perdamaian, dan persaudaraan sejati. Agama sebagai umat yang lahir dari tradisi dan pengalaman religius sosial bersama seharusnya tidak bisa menerima situasi pertikaian dan peperangan. Asas-asas pokok semua agama di dunia adalah mengusahakan kebenaran, keadilan dan perdamaian sejati. Setiap agama seharusnya tidak bisa menerima kebohongan, ketidakadilan, dan persengketaan yang memecahkan persaudaraan serta kehidupan bersama. Iklim rekonsiliasi akan terpelihara kalau kebenaran, keadilan, ketulusan, persaudaraan sejati dan perdamaian diperjuangkan. Keberhasilan Kongres Agama-agama Se-Asia bukan
ditentukan pertama-tama oleh rumusan rekomendasi yang disampaikan ke berbagai
lembaga terkait, seperti
pemerintah, lembaga-lembaga agama, melainkan terutama dari kesediaan dan keterlibatan tokoh-tokoh agama untuk memperjuangkan perdamaian melawan permusuhan yang merobek-robek persaudaraan, kebenaran melawan penipuan, keadilan melawan ketidakadilan. Perdamaian, keadilan dan kebenaran tidak diperjuangkan dengan menutupi perbedaan-perbedaan serta berpura-pura tidak ada masalah. Keterbukaan dan ketulusan menjadi sangat berharga untuk saling menghargai, saling mengampuni. Dengan demikian pluralisme bukan menjadi ancaman atau penghalang dalam membangun perdamaian sejati. Pluralisme agama, religius seharusnya kita terima sebagai realitas dari Allah yang menguji kerelaan kita untuk membangun harmoni sejati, persaudaraan dengan sesama manusia. Kesetiaan pada cita-cita perdamaian mempunayi implikasi sosial yang luas bagi kehidupan beragama kita. Membangun kehidupan beragama secara benar dan bertanggung jawab akan diuji oleh kesetiaan kita memperjuangkan nilai-nilai keadilan, cinta kasih, perdamaian, dan persaudaraan sejati. Komunitas iman dan budaya serta agama yang berbeda-beda seharusnya menjadi komunitas alternatif-inklusif yang saling menegaskan. Alternatif yang dipilih berdasarkan pengalaman budaya dan iman adalah alternatif yang ditegaskan berdasarkan pengalaman budaya dan iman sebagai alternatif membangun perdamaian melawan permusuhan, alternatif keadilan melawan diskriminasi sosial. Mewujudkan cita-cita perdamaian berarti melawan bermacam-macam penindasan, kesenjangan, pengkotak-kotakan, suku, agama, ekonomi, sosial budaya dan politik. Konsistensi mewujudkan perdamaian di Asia (notabene bangsa-bangsa yang plural) berdasarkan tradisi spiritual yang mengakar dalam Agama-agama, sebagaimana dibicarakan dalam Kongres Agama-agama Se-Asia di Yogyakarta, 24-28 Juni 2002, harus mengakar pada cita-cita suatu keagamaan sejati yakni: apabila secara konsekuen dan konsisten berada dalam perjuangan kemanusiaan universal (transenden) sebagai inti, hati dan perjuangan agama-agama. Penulis adalah dosen agama, Sekjen Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2001-2004.(Diambil dari: Sinar Harapan 29 Juni 2002) |
