|
Perda Syariat Islam di Pamekasan Harus
Dicabut
````````````````````````````````````````````````````````````````````````
JAKARTA - Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur pemberlakuan syariat Islam di Kabupaten Pamekasan, Madura, harus segera dicabut. Karena bertentangan dengan UU 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah. Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Hari Sabarno, menjawab Pembaruan usai Sidang Kabinet di Jakarta, Kamis (7/11) mengatakan, sesuai dengan UU tersebut, masalah agama merupakan kewenangan Pemerintah Pusat. "Jadi tidak dibenarkan daerah mengambil langkah-langkah yang terkait dengan kehidupan agama, tanpa izin dari Pusat, dalam hal ini Menteri Agama," ujarnya. Ketentuan dimaksud adalah pada Pasal 7 Ayat (1), yang menyebutkan, "Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan bidang lain." Dengan melihat ketentuan tersebut, Mendagri menilai Perda yang dikeluarkan oleh Pemda Kabupaten Pamekasan telah melanggar UU. Oleh karenanya Perda dimaksud harus segera dicabut oleh Pemda dan DPRD setempat. "Kalau tidak dicabut sendiri, tentu Pusat akan membatalkan," tandasnya. Namun sejauh ini, lanjutnya, Depdagri belum menerima laporan mengenai hal tersebut. Sebagaimana diberitakan, Pemda Pamekasan telah berencana untuk menerapkan syariat Islam di wilayahnya mulai awal Ramadhan ini. Rencana itu diambil setelah mempertimbangkan rekomendasi dari Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam setempat, setelah melakukan studi banding ke Cianjur, Jawa Barat. Sejumlah kalangan, di antaranya Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif, serta Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi, telah menyatakan keprihatinan mengenai pemberlakuan syariat Islam di Pamekasan (Pembaruan 6/11). Syafi'i bahkan meminta supaya rencana itu ditinjau kembali. (A-17) . Last modified: 8/11/2002 |
