~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Layanan Informasi Aktual
         [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 
N a t a l
"Allah Maha Tinggi merendahkan Diri"
``````````````````````````````````````````````````````````````
(Filipi 2: 5-11)
 
Acapkali kita mendengar istilah para petinggi negara. Atau tidak jarang kita dengar perkataan bahwa jabatan si A sudah tergolong tinggi, dan seterusnya.
 
Para petinggi negara tentu bukan berarti postur tubuh mereka yang tinggi-tinggi. Tentu hal ini bukan masalah ukuran badan. Lalu, apanya yang tinggi?
 
Kedudukan. Para petinggi negara berarti orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam suatu negara (satu lagi, bukan tempat duduknya yang tinggi-tinggi). Mereka memiliki kehormatan. Jadi, biar pun seorang presiden berbadan sangat pendek, misalnya 120 cm, ia tetap dikatakan sebagai petinggi negara.
 
Bagaimana umumnya sikap masyarakat terhadap para petinggi negara? Yach, tentu mereka sangat dihormati, disegani, dilayani, dielu-elukan, disambut, dikawal, didahulukan, bahkan dipuji-puji. Kalau bentuknya kerajaan yach sang raja pun dikipas-kipas biar tidak sumuk (kecuali kalau sudah ada Air Conditioning/AC) , ia juga diagung-agungkan, untuk menghormati pun harus dengan sujud di lantai dan menyembahnya, bahkan untuk pergi dari hadapan raja tidak boleh membelakangi raja, harus berjalan mundur.
 
Bertemu dan bersalaman pun dengan para petinggi negara sungguh merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi banyak orang, apalagi kalau diabadikan dengan kamera. Oleh karena itu, banyak orang yang mencetak khusus foto pertemuannya dengan seorang pejabat dan membuatnya dalam ukuran besar sehingga orang lain bisa melihat dan berkata : "wah, orang ini sudah pernah bertemu dengan petinggi negara ya..!"
 
Sekarang, mari kita lihat sisi lain dari kedudukan. Yaitu orang rendahan. Orang yang berpostur tinggi mapun berpostur rendah ternyata banyak yang tergolong rendahan. Mereka tidak punya harga diri di hadapan orang lain, tidak dihormati, tidak ada yang sudi melayani, tidak ada yang sudi menghormati, tidak ada yang memuji mereka (yach memuji diri sendiri pun tidak sanggup).
 
Bahkan, bertemu dan bersalaman dengan orang rendahan adalah suatu kehinaan bagi orang lain. Coba kita perhatikan di pesta-pesta mewah, siapakah yang diundang? Bisa dipastikan yang diundang adalah orang-orang terhormat, bila perlu Presiden, atau Menteri, atau Gubernur harus diundang agar pesta itu lebih istimewa dan terhormat.
 
Tuhan itu memang ajaib. Tuhan yang Maha Tinggi/ Maha Terhormat menciptakan manusia "segambar" dengan Dia yaitu memiliki harkat/ kehormatan. Namun, karena kuasa dosa maka gambaran Allah pada manusia itu menjadi rusak. Sehingga banyak manusia yang memiliki harkat atau kehormatan yang kacau, misalnya: tinggi hati, gila hormat, gila kedudukan, dihina atau menghina orang lain, merusak kehormatan sendiri, merusak kehormatan orang lain, dan sebagainya.
 
Adam dan Hawa jatuh dalam dosa (suatu kehinaan di hadapan Allah) berawal dari keinginan manusia akibat godaan si iblis. Apa godaannya? Ternyata juga menyangkut kedudukan atau kehormatan, bukan? Kejadian 3: 5 mengutip perkataan iblis: "... kamu akan menjadi seperti Allah." Ternyata manusia itu memilih taat pada iblis ketimbang taat pada Allah. Inilah penyalahgunaan kehendak bebas yang pertama kali dalam sejarah manusia, sekaligus inilah titik awal manusia merusak kehormatannya sendiri di hadapan Allah.
 
Akibat dosa, manusia tidak lagi memiliki standard kebenaran dalam meninggikan sesuatu. Banyak manusia mengagung-agungkan sesuatu dengan berlebihan, atau meninggikan sesuatu yang seharusnya tidak layak untuk ditinggikan. Ribuan remaja yang sangat memuja-muja idolanya melebihi Tuhan. Banyak manusia yang menyembah dan meninggikan berhala, menyembah dan meninggikan nenek moyang, meninggikan kuasa-kuasa kegelapan, dan sebagainya. Itulah gambaran harkat manusia yang telah rusak akibat dosa.
 
Lebih jauh lagi, akibat dosa, manusia menjadi hina dan tak layak di hadapan Allah.
 
Dan satu hal yang sangat sulit dilakukan manusia adalah mengubah statusnya dari petinggi/ terhormat menjadi hina. Menjadi rendah dan hina merupakan suatu petaka sekaligus suatu kehancuran yang membuat hidupnya tak lagi berarti apa-apa. Sudah menjadi natur manusia untuk mempertahankan serta mengejar kehormatan (tidak mau merendah atau direndahkan). Adakah diantara kita yang tidak mau dipuji-puji? Adakah diantara kita yang tidak suka dihormati?
 
Adakah manusia yang berada dalam kuasa dosa mau melepas jubah kehormatannya untuk merendah dan menjadi sama dengan manusia rendahan lainnya? Adakah manusia berdosa mau merendahkan harkatnya demi mengangkat harkat orang lain? Ini merupakan hal yang amat susah untuk dilakukan. Siapa yang sanggup dan rela melakukannya?
 
Dia-lah Yesus Kristus. Dia adalah Raja yang memiliki kedudukan bukan sekedar tinggi, melainkan Maha Tinggi. Maha Tinggi berarti kedudukanNya tidak bisa diukur dengan suatu jabatan apa pun di dunia ini. Dia di atas para petinggi negeri, di atas penguasa-penguasa di bumi, di atas penguasa-penguasa yang ada di udara dan di atas penguasa-penguasa yang ada di bawah laut.
 
Dalam kedudukan seperti itu, Yesus Kristus semestinya dipuji, ditinggikan dan disembah oleh para penguasa negeri dan penguasa-penguasa lainnya. Semestinya manusia sangat menghormati Dia, sangat mengagungkan Dia, mengelu-elukan Dia, menyembah Dia, menyambut Dia dengan segala hormat dan kemuliaan, melayani Dia, dan seterusnya. Selain itu, semestinya manusia sangat bangga berjumpa dan bersalaman dengan Dia, dan seharusnya merasakan suatu kehormatan bisa bertemu dengan Yesus.
 
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Ketika Dia lahir di dunia, di kandang domba Betlehem, (datang dengan merendahkan diriNya menjadi sama seperti manusia). Ia tidak disambut dan tidak dielu-elukan seperti layaknya seorang raja. Ia tidak ditinggikan dan tidak dihormati seperti layaknya para petinggi negeri. Ia tidak dilayani dan tidak tinggikan seperti halnya raja Herodes. Ia lahir tidak di rumah sakit mewah, tidak di istana, dan tidak juga di hotel atau di rumah mewah. Akan tetapi, Ia justru lahir di kandang domba yang hina. Ia memang betul-betul Raja yang menjadi manusia yang sangat rendah dari sudut pandang manusia.
 
"Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa." (Filipi 2: 5-11).
 
Jangankan bangga, saat ini saja banyak manusia yang tidak sudi bertemu dengan Yesus atau yang menolak Dia, bahkan membenci Dia. Atau, ada juga yang mengakui Yesus tetapi tidak bangga padaNya, malahan mereka mempermalukan Dia. Sejak masih bayi-pun sudah ada yang membenci Yesus dan bermaksud membunuhNya (Herodes). Dan puncak kejahatan dan kebencian manusia berdosa terhadap Yesus ialah ketika Ia harus ditangkap, dihina, dicerca, dicambuk, diludahi, hingga disalibkan sampai mati.
 
Apa makna peristiwa ini bagi kita? Ketika manusia hina (berdosa) di hadapan Allah Maha Tinggi, justru Allah dalam Kristus Yesus merendahkan diriNya sama dengan manusia bahkan dalam kehinaan dari sudut pandang manusia hanya untuk menjadikan manusia berdosa itu kembali pada kehormatan yang berstandard pada kebenaran Allah.
 
Sudahkah kita menyambut Dia dengan rendah hati serta meninggikanNya dalam hidup kita?
 
"Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Matius 23:12)
 
Selamat Menyongsong Hari Natal 25 Desember 2003.
(Augustinus S SH/ 16-12-2003)

Kirim email ke