~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
   Layanan Informasi Aktual
        [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Selasa, 4 Mei 2004
KONDISI  AMBON  MULAI  MEMBAIK

Ambon [Eskol-Net]-
Kondisi Kota Ambon sejak Senin tanggal 3 s/d Selasa 4 Mei 2004 semakin
kondusif dengan menurunnya eskalasi konflik yang jauh lebih baik dari hari
hari sebelumnya.

Fakta Lapangan

Hingga Senin malam tanggal 3 Mei 2004 hanya terdengar 1 kali ledakan bom d
wilayah Diponegoro ( kira kira 200 meter dari kompleks Kodam XVI Pattimura)
dan 2 kali ledakan bom di wilayah konflik yaitu Batu Gantung dan Tanah
Lapang Kecil dan 1 kali di Jl. Anthony Rhebok.

Sementara itu informasi dari lapangan yang disampaikan oleh investigator
kami bahwa ketika beberapa ruas jalan mulai dibuka kemarin Senin tanggal 3
Mei 2004 , terutama pada ruas jalan dari Batu Gantung melewati jl. Dr
Latumeten menuju ke pusat Kota, maka 1 orang pengendara motor yang  melewati
jalur jalan tersebut tertembak. Diduga penembakan itu dilakukan oleh sniper
(penembak gelap)  yang masih berkeliaran di lokasi konflik. Hingga kini
identitas korban masih belum jelas.

Perlu dilaporkan pula bahwa kemarin siang (3/4) telah tiba dari Jakarta ke
Ambon Kapolri Dai Baktiar  dan sejumlah tokoh agama diantaranya K.H.
Abdullah Gymnastiar dan Ketua PGI (Persekutuan Gereja Gereja Indonesia) Pdt.
Nathan Setibudi.yang saat tiba di Ambon dikawal dengan panser menuju ke
kompleks TNI 733 untuk bertemu dengan Pemerintah Daerah, tokoh masyarakat
dan tokoh agama dari kedua komunitas (Islam dan Kristen). Dalam pertemuan
tersebut Kapolri dan timnya  memberikan pengarahan kepada masyarakat  dari
kedua komunitas tersebut untuk segera  menghentikan konflik.

Namun pertemuan tersebut sempat kacau karena masyarakat baik muslim maupun
kristen melakukan protes keras  kepada Kapolri dan rombongan yang tidak
membuka kesempatan untuk berdialog dengan masyarakat, karena ingin cepat
cepat meninggalkan Ambon menuju ke Jakarta dengan alasan waktu dari K.H.
Abdullah Gymnastiar mempunyai sangat terbatas.

Hingga siang ini beberapa ruas jalan di kota Ambon terlihat mulai dibuka
barikade yang dipasang oleh masyarakat pada ruas jalan tersebut,  khususnya
dari arah Benteng dengan melewati Batu Gantung, Waringin, Kampung Kolam, Jl.
DR Sitanala, Pohon Pule, Gereja Silo/Trikora (yang selama ini merupakan
wilayah konflik) menuju pusat kota Ambon ,angkutan sudak beroperasi kembali
tanpa gangguan dan masyarakat mulai terlihat melaksanakan aktivitasnya
seperti biasa, walaupun banyak yang terlihat masih was was.

Walaupun kondisi mulai kondusif, akan tetapi  isu FKM/RMS masih terus
dikembangkan sebagai akar permasalahan konflik tanggal 25 April 2004  , baik
melalui koran koran lokal yang terbit hari ini , maupun adanya upaya yang
terus menerus dilakukan oleh aparat keamanan khususnya kepolisian untuk
mengejar mereka yang telah teridentifikasi sebagai pendukung dan simpatisan
FKM-RMS untuk ditangkap dan diproses secara hukum.

Analisa

Dari gambaran situasi diatas, maka  dapatlah  dilakukan analisa sebagai
berikut:

1.       Situasi Kota Ambon khususnya pada wilayah konflik terlihat mulai
membaik, namun selain alasan alasan yang telah dikemukakan (lihat laporan
tanggal 30 April s/d 1 Mei 2004), ternyata dilapangan  masih ditemukan upaya
upaya peledakan bom dan penembakan gelap (sniper) oleh perusuh dan para
penembak gelap di lokasi lokasi konflik dan atau diluar lokasi konflik yang
perlu diantisipasi untuk mencegah munculnya konflik baru serta jatuhnya
korban yang lebih banyak lagi.

2.       Upaya pemerintah beserta aparat keamanan untuk terus mengejar ,
menahan, menangkap dan memproses secara hukum para pendukung FKM-RMS tanpa
dikuti dengan upaya untuk mengejar, menahan , menangkap dan memproses pelaku
pembakaran rumah rumah penduduk, rumah ibadah, berbagai fasilitas umum serta
penganiayaan, pembunuhan anggota masyarakat yang tidak berdosa, menunjukan
pada satu sisi yang sementara dikerjakan pemerintah dan aparat keamanan
adalah sebuah target politik yaitu hendak memberikan pembenaran seakan akan
konflik 25 April 2004 harus dipertanggung jawabkan kepada FKM-RMS, tanpa
melihat indikator keterlibatan pihak pihak lain dalam konflik tanggal 25
April 2004 tersebut dan pada sisi lain akan muncul penilaian dari masyarakat
bahwa pemerintah dan aparat keamanan bertindak tidak netral atau
dikriminatif yaitu tidak melakukan tindakan preses hukum kepada para
perusuh. Hal semacam ini hanya akan meninggalkan dendam ,yang sewaktu waktu
dapat dipergunakan oleh provokator untuk menciptakan konflik baru yang tidak
kunjung selesai di Maluku.

Kesimpulan

Dari gambaran tentang fakta dilapangan serta hasil analisa tersebut diatas,
maka dapat disimpulkan bahwa penanganan konflik oleh pemerintah dan aparat
keamanan yang bertujuan untuk meredam konflik perlu diikuti dengan usaha
untuk mencari indikator lain penyebab konflik yang kini seakan akan hanya
ditujukan kepada FKM-RMS serta melakukan proses penegakan hukum secara
transparan,adil dan jujur serta tidak berpihak kepada siapapun atau kelompok
manapun  juga.

Demikian laporan Tim Kajian Konflik Maluku, Yayasan Sala Waku Maluku
[Eskol-Net]





Kirim email ke