~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
   Layanan Informasi Aktual
        [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 
"Capres Pemilik Warung Kopi"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 
Sebetulnya saya tidak mempersoalkan siapa yang menjadi Presiden di negeri ini. Yang penting bagi saya ialah negeri ini bisa aman, dagangan saya laku, anak-anak saya bisa sekolah dengan biaya murah, dan bisa gampang dapat kerja.
 
Tidak jadi soal, apakah Presiden mendatang itu sipil atau militer. Bagi saya, yang penting bisa memimpin negeri ini dengan baik.
 
Sekarang tidak saatnya lagi melihat pemimpin dari kharisma atau latarbelakang turunan. Ayo kita nilai secara akal aja dah. Rakyat sekarang sudah makin pintar sehingga tidak bisa dibodohi lagi oleh elit-elit yang sudah jadi kaya dari jabatan politiknya itu.
 
Karena selama ini mereka tidak memikirkan rakyat kecil. Mereka hanya memikirkan tunjangan yang besar, mobil dinas yang mahal, biaya perjalanan ke sana ke mari, biaya kesehatan, biaya peningkatan SDM, biaya studi banding, dan sebagainya, yang semuanya menghambur-hamburkan uang rakyat.
 
Mulai dari jabatan Presiden, Wakil Presiden, anggota MPR/ DPR, pejabat-pejabat di daerah, anggota DPRD, dan seterusnya, mereka semua jadi kaya raya di atas penderitaan petani, buruh, guru, pedagang asongan, pengangguran, dan sebagainya.
 
Terus terang, saya dulu tergolong pro salah satu Capres. Tetapi fanatisme saya terhadap dia ternyata tidak memberi perubahan dalam kehidupan saya. Kalau dari sisi kegampangan mencari uang, sebenarnya lebih baik memilih Pak Suharto.
 
Kenapa para elit politik itu seolah-olah menghalalkan segala cara untuk menang dalam pemilihan umum? Entah dengan kedok koalisi-lah atau dukung-mendukung-lah, tanpa melihat sebuah konsistensi. Tidak lagi bisa memilah mana yang layak diajak sebagai kawan politik dan mana yang partai yang harus dijauhi karena telah banyak menyuburkan korupsi dan kolusi di negeri ini. Rakyat sudah tahu. Rakyat sudah tidak bodoh lagi. Meskipun ada Capres yang menekankan pada lobi-lobi politik secara elitis, entah itu dengan partai yang diasumsikan sebagai partai koruptor atau tidak, namun rakyat-lah yang menentukan.
 
Dalam situasi negara dan bangsa akhir-akhir ini, apakah memang negeri ini belum siap dipimpin oleh sipil? Atau jangan-jangan, untuk sementara (paling tidak 10 tahun ke depan) setiap pemilihan Presiden perlu gonta ganti kepemimpinan nasional guna mencapai level demokrasi dan politik yang normal. 
 
Mudah-mudahan tanggal 20 September 2004 ini Capres yang terbaik yang terpilih walaupun ada kekhawatiran dalam diri saya bila ada salah satu Capres yang dianggap kalah dengan tidak hormat karena melakukan taktik politik yang tidak disenangi oleh rakyat.
 
Wah, warung kopi ini sudah saatnya ditutup, walaupun hingga sore hari ini tidak banyak pembeli yang mampir. Tawar-menawar secangkir kopi memang tidak semahal tawar-menawar politik. **
 
(Disadur oleh: Augustinus S SH.,MH)

Kirim email ke