~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Layanan Informasi Aktual
         [email protected]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hot Spot: Rabu, 19 Oktober 2005

SUARA PEMBARUAN DAILY
Anarkisme dan Larangan Beribadah, Benih Rusaknya NKRI

JAKARTA - Ketua Umum Majelis Muslimin Indonesia (MMI) MH Said Abdullah menilai, masih terjadinya tindakan anarkisme hingga pelarangan terhadap umat beragama beribadah seperti yang dialami sebagian warga Kristiani di Bekasi Timur, akibat tidak berfungsinya otoritas pemerintah. Jika anarkisme itu dibiarkan berlarut, akan menjadi benih-benih rusaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pernyataan itu dikemukakan MH Abdullah yang juga anggota Komisi VIII DPR bidang agama dan pendidikan kepada Pembaruan di Jakarta, Selasa (18/10) menanggapi aksi anarkisme di Bekasi Timur Minggu lalu (Pembaruan, 17/10).

''Saya lebih cenderung setuju Surat Kesepakatan Bersama (SKB) dua menteri itu dicabut, tanpa revisi apa pun lalu dibuat suatu produk UU dari pemerintah atau DPR yang memungkinkan persoalan agama menjadi konsensus nasional,'' tegasnya.

Diharapkan, dalam UU baru itu semua stake holder dilibatkan dan bicara bagaimana seharusnya ritual keagamaan dilaksanakan warga yang memang heterogen. ''Yang kita kawal, adalah kebhinenakaan, jangan sekali-sekali memoles keekaan, misalnya bagaimana saudara umat Kristen menghormati Bulan Ramadhan, begitu juga umat Islam menghormati umat Kristen menjalankan ibadah,'' ujarnya.

Tetapi sebenarnya, hal yang mendasar adalah bahwa anarkisme terhadap tempat ibadah, adalah tindak kriminal. Tanpa harus dilaporkan, aparat harus menindak pelaku tindak kriminal tersebut.

Sebelumnya diberitakan, warga Gekindo Bekasi Timur, terpaksa berpindah sampai tiga kali beribadah Minggu (16/10), karena diusir kelompok masyarakat yang menamakan diri Front Pembela Islam (FPI) bersama masyarakat setempat. Umat Kristen itu terpaksa hanya bisa beribadah sambil berdiri di jalan dengan air mata.

Sekretaris FPDI-P DPR, Jacobus Kamarlo Mayongpadang yang mau beribadah bersama warga setempat ikut merasakan tindakan anarkis dan pengusiran tersebut. Karena itu, dia menyatakan sangat menyesalkan dan mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kapolri Jenderal Pol Sutanto turun tangan menangani masalah tersebut.

Anggota Komisi III bidang hukum Anhar dari Fraksi Partai Bintang Reformasi (FPBR) sebelumnya juga mengutuk tindakan anarkisme ini. ''Saya sebagai orang Islam, sangat keberatan dengan orang-orang yang berlebel agama dan simbol tertentu melakukan tindakan anarkis, melakukan penutupan tempat ibadah agama lain. Itu sangat ditentang Nabi Muhammad, jangankan gereja, kuil pun Muhammad tidak mau umatnya merusaknya,'' tegasnya.

Menurut Anhar, selain merupakan kriminal, penutupan paksa tempat ibadah, jelas mengganggu kebebasan beragama setiap warga negara yang dilindungi UUD 1945. Apa pun ceritanya, tempat ibadah itu tempat orang berbuat baik sehingga tak boleh dirusak.

''Aparat polisi diminta tidak ragu segera menghentikan aksi penutupan dan menindak tegas para pelakunya. Polisi jangan takut, kita ini negara hukum, kalau tidak negara ini akan menjadi negara antah berantah, di mana orang main hakim sendiri,'' tegas Anhar.

Bukan Islami

MH Said Abdullah mengatakan, meskipun kelompok yang berbuat anarkisme itu mengatasnamakan agama Islam, dia tidak yakin kelompok tersebut benar-benar beragama Islam. Sebab menurutnya, mereka hanya mengaku dan mengklaim diri sebagai Islam, tetapi sesungguhnya perilaku mereka jauh dari ajaran dan nilai-nilai Islami.

Senada dengan itu, sebelumnya Sekretaris Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) A Helmy Faishal Zaini menegaskan, masalah yang perlu dibenahi adalah bagaimana mendewasakan kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia dengan format negara yang berdasar Pancasila dan UUD 1945. Harus ada penyadaran terus menerus bahwa pluralisme itu merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Agama Islam misalnya, kata Helmy Faishal, mengajarkan ukhuwah basariah, yakni persaudaraan kemanusiaan. M-15)

Last modified: 18/10/05
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/10/18/index.html

*************************************************************************************************
Satu tangan tak kuasa menjebol 'penjara ketidakadilan'.
Dua tangan tak mampu merobohkannya.
Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu,
kita akan berkata, "Kami mampu!"
 
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
*************************************************************************************************
Redaksi Eskol-Net menerima informasi/tulisan/artikel yang relevan.
Setiap informasi/tulisan/artikel yang masuk akan diseleksi dan di edit seperlunya.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan masukan harap menghubungi
Redaksi Eskol-Net <[email protected]>
*************************************************************************************************

Kirim email ke