Kekerasan pra Pemilu ------------------------ Semakin mendekati bulan Juni, dimana akan diselenggarakan Pemilu, suhu politik terasa semakin meningkat dan tidak sehat. Salah satu tandanya adalah merebaknya aksi kekerasan dan kerusuhan. Aksi kekerasan ini jelas merupakan alat politik bagi kelompok tertentu untuk tujuan tertentu. Contoh-contoh yang nyata adalah perkelahian antar pendukung parpol, kerusuhan bernuansa SARA di Intim dan yang terakhir kasus peledakan di kompleks Mesjid Istiqlal. Pemanfaatan kekerasan sebagai alat politik sebenarnya bukanlah hal baru, khususnya semasa Orde Baru yang lalu. Pada masa itu orang atau masyarakat terpaksa memaklumi tindakan penguasa yang selalu mengatas namakan "demi stabilitas keamanan". Kekerasan (pada saat itu) adalah alat yang ampuh untuk menekan aspirasi rakyat. Dalam masa era Orde Reformasi ini, cara-cara lama tersebut ternyata masih laku dan cukup ampuh sebagai alat teror terhadap masyarakat. Tujuan penggunaan kekerasan ini (mungkin) untuk tujuan politik jangka pendek. Namun yang sering tidak disadari banyak orang adalah dampaknya (yang bisa jadi merupakan proyek politik jangka panjang) yang menentukan masa depan peradaban bangsa ini. Anas Urbaningrum (HMI) mensinyalir bahwa aksi kekerasan belakangan ini--termasuk kasus peledakan di kompleks Istiqlal--merupakan upaya dari pihak status quo untuk mengganggu proses Pemilu, agar jangan sampai muncul pemerintahan baru yang legitimate, yang nantinya akan mengusut semua pelanggaran dan kejahatan di masa Orba. Gus Dur menganalisa bahwa kekuatan-kekuatan yang mensponsori kerusuhan belakangan ini sudah bercampur aduk, dan sulit dibedakan lagi mana yang pro Suharto dan mana yang dari kelompok lain. Namun tujuannya sama, menggagalkan Pemilu 1999. Siapapun dan apapun tujuannya, aksi kekerasan ini jelas menghancurkan "hati nurani" rakyat. Rakyat saat ini dikondisikan untuk mudah marah, melalui krisis pangan dan ekonomi yang akhirnya menghasilkan krisis lain, krisis hati nurani. Kehadiran kekerasan dimana-mana, hanya akan memperparah krisis hati nurani ini. Rakyat sudah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang disuarakan nuraninya karena sudah dibutakan emosi akibat kesakitan atau kebutuhan fisik yang tidak terpenuhi. Manusia yang hati nuraninya sudah mati tidak ubahnya seperti alat atau benda mati yang bisa dipakai untuk tujuan apa saja. Sekarang tinggal siapa yang memegang alat itu dan akan digunakan untuk apa. Bila sudah demikian, kalaupun nantinya Pemilu berhasil dengan lancar tidak akan bisa meredam kerusuhan dan aksi kekerasan. Karena pasca Pemilu (mungkin) hati nurani kebanyakan rakyat sudah benar-benar mati akibat kekerasan pra Pemilu ini. Benih kebencian antar agama dan antar etnis mungkin baru benar-benar berbuah setelah Pemilu nanti. Oleh karena itu, pemerintah dan ABRI harus memberi perhatian khusus terhadap merebaknya kasus tindak kekerasan dan kerusuhan. Agar, paling tidak, bisa mengeliminir dampaknya di masa yang akan datang. Redaksi (All) "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] BII Cab. Pemuda Surabaya, a.n. Robby (FKKS-FKKI) Acc.No. 2.002.06027.2 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
