********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
    Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
    Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
**********************************

Wacana Mingguan :
Edisi 29 Mei 1999
================


"Bisakah persembahan hidup disubstitusikan ?"
--------------------------------------------

Dalam konteks orang beriman kepada Kristus, persembahan yang paling utama
adalah persembahan yang hidup.  Persembahan yang dimaksud
tidak lain ialah diri kita sendiri sebagai ciptaan yang hidup. Lebih jauh
lagi, bahwa diri yang dipersembahkan itu bukanlah sekedar hidup secara
jasmaniah, tetapi hidup rohaniah. Dalam konteks orang beriman
kepada Kristus dikenal istilah "Mati karena dosa" (mati rohani), walaupun
secara jasmaniah manusia itu hidup (Roma 6).  Dengan demikian, tidak
mungkin bagi
seseorang yang belum percaya Kristus mempersembahkan hidupnya kepada Allah,
karena dia sendiri menolak Allah di dalam Kristus.
Salah satu ciri orang yang beriman kepada Kristus ialah SIKAB BATIN YANG
SELALU TERGANTUNG KEPADA  KRISTUS YANG TELAH MENGHIDUPKAN DIA DARI KEMATIAN
AKIBAT DOSA,  dan selalu MEMPERSEMBAHKAN JIWANYA, YANG DULU MATI  OLEH
DOSA, KEPADA TUHAN SEBAGAI PERSEMBAHAN YANG HIDUP. Tetapi menjadi suatu
kekeliruan besar apabila dalam setiap ibadah, kita merasa (SIKAP BATIN)
bahwa ibadah mempersembahkan persembahan kepada Tuhan sudah kita lakukan
dengan memberikan suatu benda mati, misalnya dalam wujud uang atau barang.
Adalah kekeliruan besar jika kita merasa bahwa
persembahan benda mati itu telah cukup menggantikan (subtitusi) segalanya,
sehingga kita tidak perlu lagi suatu SIKAP BATIN yang mempersembahkan diri
kita sendiri. Raja Daud dalam Mazmur 51: 18-19 mengungkapkan:
"Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya
kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.   Korban
sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk
tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."
Dalam konteks ini, Daud sekaligus mengakui keberadaannya sebagai orang
berdosa.  Ia merasakan bahwa jiwanya sedang hancur; hatinya patah dan remuk
akibat dosa yang telah ia lakukan (2 Samuel 12:1-15).
Dengan demikian, persembahan substitusi itu tidaklah berharga bagi Tuhan,
tanpa adanya penyerahan diri.  Yang utama ialah persembahan hidup kita.
Persoalannya sekarang ialah, apakah hidup kita sudah berkenan di hadapanNya
?  Sudahkah hidup kudus yang kita persembahkan bagi Dia ?
Semoga Tuhan Yesus menolong kita.  Amin.
(A. Simanjuntak)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke