------------------
Artikel Eskol-Net:
------------------
"Partai Nasionalis Menang, Pancasila Jaya"
  Oleh Augustinus Simanjuntak

Salam sejahtera,

Kita patut bersyukur karena pemilu 7 Juni 1999 berjalan dengan relatif aman
dan lancar. Pemilu tahun ini betul-betul mencerminkan pesta rakyat, yang
tampak pada antusias dan semangat mengikuti pencoblosan tanda gambar partai
peserta pemilu, serta sorak-sorai masyarakat ketika proses penghitungan
suara berlangsung.

Mengamati hasil sementara pemungutan suara secara nasional tampak bahwa
partai yang berasaskan Pancasila / partai nasionalis cenderung mendominasi
perolehan suara.  Mulai dari PDI Perjuangan sebagai urutan teratas,
kemudian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), disusul, Partai Amanat Nasional
(PAN), walaupun masih terdapat partai lain yang sudah mulai menyusul dari
belakang. Yang menarik dari pemilu 7 Juni 1999 ini ialah, Partai Golongan
Karya (Golkar) yang diidentikkan sebagai partai yang pro status quo,
ternyata masih memiliki kekuatan. Hal ini tampak pada hasil suara yang
diperoleh partai ini yang hampir bersaing dengan PKB dan PAN.

Namun, lepas dari urutan tertinggi perolehan suara di atas, bisa dipastikan
bahwa partai nasionalis, yang berasaskan Pancasila akan menang.  Apabila
dilihat secara total keseluruhan suara yang diperoleh oleh partai-partai
nasionalis bisa dipastikan partai yang berasaskan agama, akan jauh
ketinggalan.  Seperti kita ketahui PDI P, PKB, dan Golkar adalah tiga
partai yang menganut Pancasila sebagai asas partai.  Tiga partai ini
merupakan partai nasionalis yang dalam kampanyenya memberi penghargaan yang
tinggi terhadap pluralisme bangsa.  Berbeda dengan PAN, partai ini sedikit
disorot oleh masyarakat sehubungan dengan pernyataan-pernyataan politiknya
yang dinilai sering tidak konsisten, terutama pendapatnya mengenai caleg
non-Muslim.  Amin Rais di Harian Republika menuturkan jika caleg non-Muslim
dominan akan berbahaya terhadap proses reformasi. Pernyataan semaca ini
sebenarnya tidak layak diungkapkan oleh seorang tokoh partai yang mengaku
Pancasila sebagai asas.  Amin, tidak menyadari konsekuensi penggunaan
Pancasila sebagai asas tunggal, yaitu menghargai pluralisme dan tidak
diskriminatif.

Kembali kepada hasil suara tadi.  Apabila kekuatan tiga partai nasionalis
(PDI P, PKB, dan Golkar, ditambah dengan partai-partai kecil lainnya)
disatukan (tidak harus koalisi) maka Pancasila sebagai dasar negara akan
tetap jaya.  Kekuatan dimaksud ialah, suatu kesepakatan dalam rangka
menghadang kekuatan partai berasaskan agama, yang mempunyai cita-cita
menjadikan negara RI sebagai negara agama (Islam).  Meskipun Golkar masih
dicap sebagai partai  status quo, namun melihat komitmen Golkar terhadap
pluralisme dan reformasi kekuatan Golkar menjadi bermanfaat secara
ideologis guna mengantisipasi kekuatan agama dan ideologi komunis.
Mudah-mudahan Golkar yang sekarang betul-betul golkar baru dengan platform
baru, yang menanggalkan baju lama, yaitu baju Orde Baru.

Harapan di masa yang akan datang ialah, kiranya partai-partai yang menang
itu bisa mengatualisasikan dan mengamalkan Pancasila secara benar, tidak
seperti masa lalu di Era Orde Baru.  Di era Orde Baru, Pancasila telah
disalahgunakan sebagai alat untuk me-"legitimate" segala perbuatan penguasa
dan juga sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan.  Dengan memperalat
Pancasila, penguasa Orde Baru dengan mudah menyingkirkan pihak-pihak yang
dianggap berseberangan dengan penguasa, misalnya dengan stigma paham
komunis, OTB, GPK, dan sebagainya.  Padahal, Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
sama sekali tidak diberantas dengan doktrin Pancasila.
Pancasila di era Orde Baru terlalu disakralkan, sehingga masyarakat tidak
bebas menginterpretasikan dan mengimplementasikannnya dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.  Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi pada
kepemimpinan nasional mendatang.
MAJULAH  NEGERIKU....JAYALAH  BANGSAKU........ INDONESIA BARU.....
----------------------------

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke