"'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Sari Berita: Selasa, 7 September 1999
""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
*Konsultat RI di Darwin Rusak Parah
*Secara Politik Habibie Hancur
*Poros Nasional Lebih Sportif. 'Golkar Putih' Ingin Pisah dari Habibie
*Ditunda lagi Pengumuman Status Hukum Pak Harto

------English Section------
*Man Cuts Egyptian President, Is Shot Dead
*Make Up Your Mind, Hillary
++++++++++

Konsultat RI di Darwin Rusak Parah
-------------------------------------------
Canberra, Antara
Gedung Konsulat RI di Darwin, Australia Utara, rusak parah setelah diserang
oleh sekitar 100 orang kelompok anti-Indonesia di negara kanguru itu, Senin
petang.
Sementara seorang WNI, yang bekerja sebagai sopir taksi dan imam
mesjid di Darwin, diserang oleh empat orang eks-Timtim di dekat
gedung konsulat, kata Pejabat Konsul RI Darwin, Agus Sardjana,
ketika dihubungi Antara.
Menurut Agus, gelagat akan terjadinya demonstrasi mulai diketahui pihak
Konsulat RI sejak Senin sore pukul 16.00 waktu setempat. Pihak Konsulat
kemudian menghubungi kepolisian dan petugas dari Jasa Perlindungan
Australia (APS).
Namun tanpa diduga aksi demonstrasi berlangsung brutal, bahkan para
pengunjuk rasa--yang terdiri dari warga keturunan Timtim dan
Australia--tiba-tiba menyerang secara membabi buta di luar batas kewajaran.
Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/berita-terbaru/2850.html

Secara Politik Habibie Hancur
-------------------------------------
JAKARTA - Posisi Presiden BJ Habibie makin menjadi sorotan menyusul
pengumuman hasil jajak pendapat di Timtim yang dimenangkan kelompok
prokemerde-kaan. Meski Ketua Umum DPP Partai Golkar Ir Akbar Tanjung pernah
menyatakan hasil jajak pendapat itu tidak memengaruhi pencalonan Habibie
menjadi presiden, desakan agar partai ini menganulir pencalonannya makin
santer. Setidaknya, hal itu muncul dari anggota FKP DPR Syarfi Hutauruk dan
fungsinoris Partai Golkar Ali Yahya.
Sementara itu pengamat politik Eep Saefulloh Fatah menambahkan, apa yang
dilakukan Habibie dengan memberikan dua opsi soal Timtim dan kini
dimenangkan prokemerdekaan, secara moral benar namun secara politik dia
hancur. ''Karena dari segi politik seharusnya Habibie berkonsultasi dulu
dengan MPR. Soal Timtim mengingatkan, Tap MPR tentang Timtim sudah
dikeluarkan,'' katanya.
Selengkapnya: http://suaramerdeka.com/harian/9909/07/nas3.htm

Poros Nasional Lebih Sportif. 'Golkar Putih' Ingin Pisah dari Habibie
---------------------------------------------------------------------------
-----
JAKARTA (Media): Pengamat politik dari FISIP Universitas Indonesia (UI) M
Budyatna menilai Poros Nasional yang digagas Marzuki Darusman
mengindikasikan bahwa 'Golkar Putih' ingin memisahkan diri dari BJ Habibie.
Namun Arbi Sanit mengatakan terbentuknya Poros Nasional sudah kuno meski
untuk menyatukan kekuatan yang terpecah.
"Golkar Putih atau kelompok Marzuki ingin pisah dari Habibie dan bekerja
sama dengan PDI Perjuangan untuk mendukung reformasi. Poros Nasional
merupakan kekuatan baru," kata Budyatna ketika dihubungi Media di Jakarta,
kemarin.
Poros Nasional, jelasnya, lebih sportif apabila dibandingkan dengan Poros
Tengah yang sekarang ini belum solid. Sebab, poros bentukan Marzuki
Darusman ini tidak berdiri sendiri dan tidak menjadi kubu ketiga, berbeda
dengan Poros Tengah.
Poros Nasional, katanya, antara lain ingin mempersatukan kekuatan reformis
yang terbentuk dari usaha pendekatan kerja sama antara Ketua Umum Partai
Golkar Akbar Tandjung dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
"Sebagai partai reformis Partai Kebangkitan Bangsa kemungkinan juga
nantinya dirangkul Poros Nasional, apalagi PKB sudah jelas-jelas memberi
dukungan kepada PDI-P," kata Budyatna.
Selengkapnya: http://www.mediaindo.co.id/publik/1999/09/07/UMUM01.html

Ditunda lagi Pengumuman Status Hukum Pak Harto
--------------------------------------------------------------------
JAKARTA (Media): Pemerintah kembali menunda mengumumkan status hukum mantan
Presiden Soeharto hingga waktu yang belum ditentukan, ujar Pjs Jaksa Agung
Ismudjoko.
Menurut Ismudjoko, penundaan dilakukan karena ada masalah yang lebih urgen
dibanding kasus KKN mantan Presiden Soeharto. "Untuk penelitian kasus Pak
Harto belum bisa ditentukan waktunya karena ada masalah lain yang lebih
penting," ungkapnya menjawab wartawan sebelum Sidang Kabinet bidang Polkam
di Bina Graha, kemarin.
Status mantan Presiden Soeharto tentang keterlibatannya dalam kasus KKN
(korupsi, kolusi, dan nepotisme) menurut rencana akan diumumkan sesudah
Sidang Kabinet 9 September mendatang.
Ditanya kapan pastinya diumumkan, Ismudjoko mengatakan terserah kepada
Presiden BJ Habibie. "Kalau usulan dari Kejaksaan Agung, saya memang harus
lapor kepada Presiden," tuturnya.
"Kita sudah menunggu waktu dari Presiden. Kita kan semua sibuk, acara
begini padat. Ada hal yang lebih urgen untuk dibicarakan," jelasnya.
Selengkapnya: http://www.mediaindo.co.id/publik/1999/09/07/UMUM02.html

*****English Section*****
Man Cuts Egyptian President, Is Shot Dead
-----------------------------------------------------
PORT SAID, Egypt -- Presidential guards fatally shot a man today after he
grazed Hosni Mubarak with a sharp instrument as the Egyptian leader was
waving to a crowd from inside a car, the government said.
"While the president was waving ... through the car's window, a person
approached the motorcade holding a sharp tool and inflicted a light wound,"
said a statement from the president's office. It indicated Mubarak, who has
survived three assassination attempts, was wounded on the arm.
"The special security guards dealt with the incident immediately and
killed" the assailant, the statement said
More: http://www.washingtonpost.com/wp-srv/inatl/apmubarak6.htm

Make Up Your Mind, Hillary
The First Lady backtracks on clemency for some Puerto Rican nationalists
---------------------------------------------------------------------------
---------
Perhaps stepping quickly to get out of a political gesture that backfired,
Hillary Clinton has come out against her husband's controversial offer of
an early release to 16 imprisoned Puerto Rican nationalists. Hillary's
explanation, that the 16 have not yet complied with a condition that they
renounce violence, came even as the White House was giving them until
September 10 to make up their minds. Republicans immediately charged that
Mrs. Clinton was hanging the President out to dry while trying to wiggle
out of a political gaff. Nothing of the sort, her campaign responded:
Hillary had simply re-evaluated the situation. Either way, she is catching
it from both Democrats and Republicans who charge that the presumptive
senate candidate is using her family connections to try to make friends and
influence voters
More: http://www.pathfinder.com/time/daily/0,2960,30543-101990906,00.html
+++++++++++++++++++++++++++++++++

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke