**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

Ambon Kembali Panas, Wartawan Kena Tembak

AMBON -- Tabrak lari yang berlanjut dengan penculikan terhadap Fauzan (13
tahun), pada Ahad sore kemarin, membuat Ambon kembali meradang. Insiden di
perempatan Trikora, Kodya Ambon, itu memicu kerusuhan, dan mengakibatkan
jatuhnya korban lain, termasuk seorang wartawan.

Max Apono (57 tahun), wartawan SKH Suara Maluku itu terluka mata kanannya
saat memantau ketegangan antara dua kelompok massa. Di samping itu, dua
aparat keamanan juga cedera akibat terkena bom dan panah. Sementara Gereja
Silo yang terletak di perempatan Tugu Trikora akhirnya dibakar massa yang
marah. Pembakaran juga dilakukan massa terhadap lima rumah penduduk.

Hingga berita ini diturunkan tadi malam belum diketahui korban tewas.
Kecuali Fauzan dan Max, terdapat 26 warga sipil yang terluka kena tembakan.
Dari pihak aparat keamanan terdapat empat korban luka-- dua dari kavaleri,
sari Armed, dan satu marinir.

Hingga tadi malam, suara tembakan dan dentuman bom masih terdengar. Warga
Kristen yang masih merayakan Natal tadi malam juga melepaskan tembakan dan
meriam bambu. Sedangkan massa lainnya berjaga-jaga di luar rumah, dan
lainnya mengungsi ke luar kota.

Untuk mengatasi masalah kerusuhan kemarin, aparat keamanan membuat
barikade. Beberapa panser juga dikerahkan untuk menghalau massa yang
bersitegang. Beberapa kali, para petugas keamanan terdengar mengeluarkan
tembakan peringatan.

Insiden bermula ketika sore kemarin, Fauzan, warga Gang Kayu Buah, Jl Baru,
Ambon -- tak jauh dari Masjid Al Fatah -- bermain sepeda dengan beberapa
kawannya di ujung timur Jl AM Sangaji, sebelah barat Tugu Trikora.
Tiba-tiba sebuah mobil Kijang berkecepatan tinggi melintas, dan menabrak
Fauzan. Sedangkan pengemudi Kijang yang diduga mabuk itu kabur,emninggalkan
Fauzan yang pingsan dan bersimbah darah.

Melihat luka Fauzan cukup parah, beberapa aparat Marinir yang berjaga di
perempatan Tugu Trikora lantas menghentikan sebuah mobil angkot jurusan
Kudamati. Marinir memerintahkan agar Fauzan dibawa ke Rumah Sakit Tentara
(RST), sekitar 200 meter dari tempat kejadian perkara (TKP).

Beberapa warga sebenarnya sudah curiga, mencegah agar Fauzan tak diangkut
dengan mobil angkot milik warga Kudamati, yang mayoritas Kristen. Namun,
pemilik angkot tak mempedulikan. Abdullah Sarijan (35 tahun) ayah Fauzan
yang juga ketua RW setempat dan Ny Ipa Sarijan (32 tahun) ibu Fauzan, yang
telah berada di sekitar mobil angkot itu juga tak sanggup menahan agar
anaknya tak dibawa mobil angkot itu.

''Saya sangsi, sebab anak saya dilempar begitu saja masuk mobil,'' kata Ny
Ipa Sarijan kepada Republika. Ny Ipa hanya bisa menangis. ''Harusnya aparat
tak begitu gegabah membiarkan anak saya dibawa mobil angkot Kudamati,''
lanjut Ny Ipa.

Kekhawatiran orangtua Fauzan didasarkan pada beberapa insiden sebelumnya.
Di Rumah Sakit Umum (RSU) Kudamati, 20 Januari lalu, puluhan pasien Muslim
dibunuh. Bagi mereka, Kudamati memang merupakan basis Kristen paling seram
di Kodya Ambon.

Setelah mobil tersebut berlalu, ayah dan ibu Fauzan serta beberapa
tetangganya di Jl Baru buru-buru ke RST. Namun Fauzan tak ditemukan.
Begitupun saat mengecek ke RS Al Fatah. Gemparlah warga Jl Baru. Ayah
Fauzan sendiri sampai saat ini belum tiba di rumahnya. ''Suami saya dengan
komandan Marinir mencari anak saya ke RSU Kudamati,'' kata Ny Ipa.

Hilangnya Fauzan membuat marah warga Jl Baru di barat Tugu Trikora. Dan
agaknya, itu sudah diantisipasi warga Kristen, yang ternyata sudah lebih
dulu melakukan konsentrasi massa di sebelah timur Tugu Trikora. Kedua massa
yang makin padat akhirnya tak dapat menahan amarah. Satu-dua orang nekat ke
depan menembus blokade aparat keamanan. Oleh aparat keamanan, mereka itu
dikejar dan dikembalikan ke kelompoknya.

Berulang kali tembakan ke udara memekakkan telinga. Namun tembakan
peringatan yang dilepaskan, malah membuat massa makin banyak berdatangan.
Lama-lama, aparat kewalahan juga. Dua buah panser didatangkan dari
'markasnya' di Jl AY Patty, dan lantas diparkis melintang di tengah
konsentrasi massa.

Sementara, di kedua ujung jalan, massa Islam dan Kristen telah saling
berhadapan hanya dalam jarak 25 meter itu. Di tengah-tengah mereka,
barikade-barikade dipasang melintang jalan ditambah dengan blokade pasukan
Armed, Marinir, dan Brimob. ''Hai Obet (orang Kristen -- Red), kenapa
kalian mengganggu warga Muslim, padahal kami tidak mengganggu kalian punya
Natal,'' teriak beberapa pemuda yang berdiri di atas barikade di belakang
panser aparat.

Saat itu dari corong masjid sudah terdengar tarhim, tanda sebentar lagi
buka puasa. Konsentrasi massa masih bertahan kendati waktu sudah masuk buka
puasa. Massa Muslim saat itu hanya berbuka dengan air aqua gelas. Beberapa
dos air kemasan gelas itu dibagi-bagikan kepada massa.

Baru saja aqua diteguk, tembakan bertubi-tubi yang berasal dari Gedung PLN
Cabang Ambon, diarahkan kepada massa Muslim yang berbuka. Seolah aba-aba,
rentetan tembakan itu disusul dengan massa Kristen yang merangsek maju.
Massa Muslim pun histeris dan beberapa lainnya lari menyambut serangan itu,
tak peduli desingan peluru. Sebagian lainnya tampak menari Cakalele di
tengah jalan, meski lainnya berlindung dari hajaran peluru.

Seorang aparat keamanan dari Armed 11, Pratu Hadiwijaya dilempari bom dari
arah massa Kristen. Sang prajurit yang terus menekap mukanya digotong
menuju RS Al Fatah. Tak lama kemudian, seorang aparat Marinir, Pratu Helmi
Widiantoro, terkena panah di kaki kiri.

Massa Muslim dan aparat keamanan akhirnya mundur sekitar 150 meter dari
Tugu Trikora. Tembakan bertubi-tubi dari arah gedung-gedung di sekitar Jl
Diponegoro membuat massa dan aparat tiarap. Republika yang memantau dari
dekat peristiwa itu terpaksa tiarap bersama-sama massa dan aparat keamanan.
Pada saat itulah wartawan Max Apono kena tembak.

''Awas sniper,'' teriak massa saling memperingatkan. ''Itu Pak, itu Pak,
mereka menembak dari gedung-gedung Pak,'' demikian teriak massa kepada
aparat keamanan. Tembakan bertubi-tubi itu memang tak diketahui dilakukan
oleh siapa. Namun hasil pantauan Republika, banyak moncong senjata nongol
dari jendela-jendela gedung di Jl Diponegoro dan Jl Philip Latumahina. Dan,
dari sekian banyak sniper, rentetan tembakan paling sering ke luar dari
jendela Gedung PLN Cabang Ambon.

Menjelang malam, ketegangan makin meningkat, dan Gereja Silo yang terletak
berhadapan dengan PLN Cabang Ambon akhirnya dibakar. Konsentrasi massa juga
makin tebal, namun tak bisa maju karena dihadang aparat keamanan.

Informasi yang dihimpun Republika, beberapa warga juga terkena terjangan
peluru, namun belum diketahui identitasnya. Sampai pukul 21.30 WIT, pusat
kota Ambon mencekam. Dentum senapan dan gelegar bom terus membahana
memekakkan telinga. Warga kota Ambon juga keluar rumah sambil menenteng
senjata tajam dan senjata api rakitan. Sementara warga lainnya sudah
melakukan pengungsian. Shalat tarawih di beberapa masjid sekitar tempat
kejadian juga sepi.

Sementara itu, di Pulau Buru evakuasi terus dilakukan. Kemarin, 1.000 warga
P Buru diungsikan ke luar pulau dengan KM El Shinta. Dari data kemarin,
kerusuhan di P Buru pekan lalu telah jatuh korban tewas mencapai 57 orang,
20 lainnya hilang.
-----------------

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke