"''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Sari Berita: Kamis, 30 Desember 1999
"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
* Takkan Ada Keadaan Darurat
* Pasukan PBB ke Ambon Tak Perlu
* KKN Paiton I Diduga Libatkan 14 Pejabat
* Sjafrie Sjamsoeddin Bantah Ada di Dili
* Aparat di Ambon Diminta lebih Berani

--------BERITA LUAR NEGERI-------------
@ Buang Bayi Marak di Singapura
@ Kabinet India Bahas Krisis Pembajakan

S E L A M A T    M E M B A C A
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Presiden tentang Pertikaian di Maluku
Takkan Ada Keadaan Darurat
------------------------------------
Jakarta, Kompas
Pertikaian antarwarga yang terjadi di Ambon sampai hari Kamis, atau hari
keempat, masih saja berlangsung tanpa ada yang bisa menghentikannya.
Bentrokan juga terjadi di Ternate antarpasukan Kesultanan Ternate dan
Tidore. Meski demikian, Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menegaskan,
tak akan memberlakukan keadaan darurat di Maluku. Presiden lebih cenderung
mengerahkan pasukan tambahan."Saya tidak berpikir untuk memberlakukan
keadaan darurat, tetapi dalam satu dua hari ini, intervensi militer
diperlukan di sana," kata presiden menjawab pertanyaan wartawan dalam jumpa
pers rutin di Bina Graha, Jakarta, Rabu (29/12) siang.
Selengkapnya: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/9912/30/UTAMA/takk01.htm

Pasukan PBB ke Ambon Tak Perlu
Reporter: Teguh B. Santoso
---------------------------------
detikcom - Kupang, Kasus kerusuhan bernuansa SARA di Ambon sampai saat ini
belum reda. Meski begitu, Ketua DPR Akbar Tanjung tidak setuju bila untuk
menyelesaikannya dengan mengundang pasukan perdamaian PBB.
Menurut Akbar, penyelesaian kasus Ambon yang terpenting adalah semua pihak
yang terlibat harus bisa menahan diri. Akbar mengutarakan hal itu saat
kunjungannya di Kupang, Rabu (29/12/1999) malam.
Selengkapnya: http://detik.com/politik/199912/19991230-002305.html

KKN Paiton I Diduga Libatkan 14 Pejabat
--------------------------------------------------
Jakarta, Kompas
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menemukan indikasi tindak
korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam Proyek Pembangkit Listrik Tenaga
Uap (PLTU) Paiton I.
Setidaknya 14 pejabat diduga terlibat, dengan tingkat keterlibatan aktif
dalam ikut memuluskan terjadinya kontrak, melalui pemberian fasilitas atau
perlakuan istimewa kepada suatu unit ekonomi yang dimiliki pejabat terkait,
kerabat atau konconya.
Demikian kesimpulan laporan hasil pemeriksaan khusus BPKP terhadap proyek
listrik swasta PLTU Paiton I, yang fotokopi laporannya telah beredar di
kalangan DPR, baru-baru ini.
Selengkapnya: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/9912/30/UTAMA/kkn01.htm

Sjafrie Sjamsoeddin Bantah Ada di Dili
------------------------------------------------
Jakarta (Bali Post) -
Mantan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin membantah dirinya berada di
Dili saat terjadi penyerangan kediaman Uskup Mgr. Ximenes Belo, 6 September
lalu. Ia mengaku saat itu berada di Mabes TNI Cilangkap sedang melakukan
rapat rutin staf ahli Panglima TNI.
Bantahan itu diungkapkannya kepada wartawan di gedung Komnas HAM Jakarta,
Rabu (29/12) kemarin, usai diperiksa KPP HAM. Sjafrie diperiksa Albert
Hasibuan, Munir, Todung Mulya Lubis, Zumrotin KS dan Asmara Nababan. Ia
didampingi Tim Advokasi HAM Perwira TNI Kababinkum Mayjen Timor P.
Manurung, Yan Juanda, Muhamad Asegaf, Yoost F. Mengko dan Agus Takabogi.
''Pada 6 September saya sedang ada di markas TNI, karena ada rapat rutin
staf ahli. Jadi saya tidak tahu dan tidak berada di Dili,'' kata Sjafrie.
Selengkapnya: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/1999/12/30/n5.htm

Aparat di Ambon Diminta lebih Berani
---------------------------------------------
Jakarta (Bali Post) -
Wakil Ketua DPR-RI Soetardjo Soerjogoeritno mengimbau pemerintah, khususnya
aparat keamanan, agar lebih berani mengambil tindakan tegas terhadap
pihak-pihak yang bertikai di Ambon. ''Situasinya sudah makin
tercabik-cabik, pembunuhan dan pembakaran tempat ibadah masih terus
berlangsung. Karena itu, kami imbau pemerintah agar jangan ragu-ragu
melakukan tindakan yang jelas dan tegas,'' katanya kepada pers di Jakarta,
Rabu (29/12) kemarin.
Selengkapnya: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/1999/12/30/p2.htm

------ Berita Luar Negeri--------
Buang Bayi Marak di Singapura
--------------------------------------
SINGAPURA - Sepasang remaja dihukum masa percobaan di Singapura, karena
mengabaikan bayi mereka yang baru dilahirkan. Kasus ini meningkatkan
keprihatinan negara pulau itu terhadap bayi-bayi yang dibuang orang tuanya
sepanjang tahun ini.
Tujuh bayi ditemukan dibengkalaikan tahun ini, atau dua kali lipat lebih
dibandingkan kasus tahun lalu, demikian laporan koran The Straits Times
(TST) edisi Rabu. Dalam kasus terakhir, sang ibu yang baru berusia 17 tahun
dihukum masa percobaan 15 bulan, karena meninggalkan bayi laki-lakinya di
luar sebuah apartemen.
Selengkapnya: http://www.suaramerdeka.com/harian/9912/30/int4.htm

Kabinet India mulai Bahas Krisis Pembajakan
------------------------------------------------------
New Delhi -
Kabinet India memulai pertemuan pada pukul 11.00 waktu setempat (12.30
WIB), Rabu (29/12) kemarin, untuk membicarakan perkembangan dalam peristiwa
pembajakan pesawat Indian Airlines. Demikian dikatakan seorang pejabat di
kantor perdana menteri kepada Reuters. Para pembajak itu menyandera lebih
dari 150 orang di pelataran parkir Bandara Kandahar di Afghanistan Selatan
sejak malam Natal lalu.
Selengkapnya: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/1999/12/30/m1.htm

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke