'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
SARI BERITA : Rabu, 19 Januari 2000
====================================
@ Pemuda Islam NTT : Tindak Provokator Kerusuhan Mataram
@ Kasad: Mataram sudah Aman
@ Sebagian Pengungsi Dievakuasi Keluar NTB
@ Satu Tewas Dalam Kerusuhan Mataram
@ Suara Damai di Pengungsian Ambon
@ Tokoh Agama dan Masyarakat Maluku Serukan Perdamaian
@ Warga Maluku Diminta Serahkan Senjata
@ Kenaikan Gaji, Prioritas Pemerintah Terbalik

--------------- Luar Negeri -------------------------
** Meningkat, Kemungkinan Cile Adili Pinochet
** Rusia Takkan Diperintah Diktator Lagi
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
S E L A M A T   M E M B A C A
==========================

Pemuda Islam NTT : Tindak Provokator Kerusuhan Mataram
------------------------------------------------------------------------
Kupang (Bali Post) -
Para pemuda Islam di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengutuk kerusuhan bernuansa
suku, agama, ras, antargolongan (SARA) di Mataram, Nusa Tenggara Barat dan
meminta aparat keamanan bertindak tegas terhadap para perusuh, dan
provokator.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Gerakan Pemuda Islam (GPI) Wilayah NTT,
Muhammad Abdulah, Ketua DPW Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid (BKPRM),
MK. Abubakar dan tokoh pemuda Islam NTT, Gasim M. Noor dan M. Nasir Abdulah
di Kupang, Selasa (18/1) kemarin.
Selengkapnya: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2000/1/19/nt4.htm

Kasad: Mataram sudah Aman
----------------------------------
Jakarta (Bali Post) -
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Tyasno Sudarto memastikan
keadaan di Mataram, NTB pascakerusuhan Senin (17/1) pagi hingga petang,
sudah aman dan aparat keamanan telah menguasai keadaan. ''Masalah Mataram
sudah baik dan sudah dikuasai, dan yakin segera selesai,'' kata Tyasno
menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Selasa (18/1) kemarin, tentang
perkembangan kerusuhan di Mataram yang bernuansa SARA dengan merusak
tempat-tempat ibadah.
Kasad yang dijumpai seusai pertemuan dengan Menhutbun Nurmahmudi Ismail
mengatakan, aparat keamanan tengah mencari pihak-pihak yang bertanggung
jawab dalam kerusuhan di Mataram tersebut.
Selengkapnya: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2000/1/19/n2.htm

Sebagian Pengungsi Dievakuasi Keluar NTB
----------------------------------------------------
LEBIH dari 3.000 warga nasrani yang bermukim di wilayah Mataram dan
sekitarnya, akhirya berlindung di tempat-tempat yang aman seperti Markas
Polda NTB, Yonif 742 Gebang, Markas TNI-AL, menyusul rusuh massa di
Mataram.
Dari 3.000 orang pengungsi itu, 1.033 orang di antaranya berlindung di
Mapolda NTB. Selain di Mapolda NTB, sekitar 124 orang mengungsi di Markas
TNI-AL di Jalan Malomba, Mataram. Dari 124 pengungsi, 93 orang di antaranya
dewasa dan 31 orang anak-anak. Untuk kebutuhan sehari-hari (logistik), para
pengungsi akan ditanggung pemda setempat. Dari 1.033 pengungsi yang
ditampung di Mapolda, sebagian besar memutuskan untuk sementara
meninggalkan Mataram. Setelah melakukan pembicaraan dengan pihak keamanan
dan instansi terkait lainnya (Departemen Perhubungan), akhirnya disepakati
pengungsi segera dievakuasi keluar daerah. Dari seluruh pengungsi, 1.033
orang di antaranya minta dievakuasi ke Bali, 173 minta dievakuasi ke Jawa,
Maumere dan Manado. Sementara sisanya sekitar 217 orang, untuk sementara
memutuskan tetap berlindung di Mapolda NTB.
Selengkapnya: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2000/1/19/n1.htm

Satu Tewas Dalam Kerusuhan Mataram
* Provokator Teridentifikasi, 50 Perusuh Diamankan
----------------------------------------------
Mataram (Bali Post) -
Rusuh massa di Mataram Senin (17/1) lalu yang berlanjut hingga Selasa siang
(18/1) kemarin, mengakibatkan sedikitnya sembilan gereja dirusak dan
dibakar. Sebuah gedung paroki, dua buah sekolah yakni SDK Ampenan dan SMAK
Kesuma Mataram dirusak. Sebuah restoran, dua unit mobil dan sebuah sepeda
motor hangus dibakar. Puluhan rumah warga nasrani yang berada di wilayah
Lobar dan Kodya Mataram dirusak, dijarah dan dibakar. Kerugian akibat rusuh
massa ini untuk sementara diperkirakan lebih dari Rp 6 milyar.
Selengkapnya: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2000/1/19/p7.htm

Suara Damai di Pengungsian Ambon
-------------------------------------------
YANG menarik pemandangan di sebuah pengungsian, adalah kegiatan di pagi
hari. Soal mandi barangkali bisa ditunda, tetapi yang namanya buang hajat,
adalah peristiwa yang menggelikan dan memprihatinkan.
Memang tidak terlihat antrean panjang orang datang ke WC. Mereka hanya
menunggu di balik tenda masing-masing. Satu orang muncul dari WC, yang
lainnya segera muncul dari tenda penampungan. Demikian cara antrean yang
terkadang harus menggunakan kode teriak-teriak, untuk memanggil orang lain
yang ingin buang hajat.
Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/0001/19/utama/suar01.htm

Ambon Tegang dengan Ledakan Bom
Warga Maluku Diminta Serahkan Senjata
--------------------------------------------------
AMBON - Kota Ambon, Selasa sekitar pukul 22.00 WIT, menjadi tegang akibat
ledakan bom dan tembakan aparat keamanan, sehingga masyarakat bertanya-
tanya bercampur resah terhadap apa yang terjadi menjelang setahun peristiwa
bernuansa SARA, 19 Januari 1999 .
Pantauan di lapangan menunjukkan ketegangan ibukota Provinsi Maluku itu
seiring dengan waktu pembatasan ke luar malam oleh Pangdam XVI/Pattimura
selaku Komandan Bantuan Militer (Banmil), dimulai pukul 22.00 WIT hingga
06.00 WIT karena terdengar ledakan bom di kawasan Soabali, Ponogoro dan
Batumerah.
Di kawasan Ponogoro, satu ledakan bom diikuti dua tembakan aparat keamanan,
sedangkan di Soabali terdengar empat ledakan dengan bunyi beruntun tembakan
aparat keamanan.
Selengkapnya: http://www.suaramerdeka.com/harian/0001/19/nas2.htm

Warga Ingin Bangun Kembali Persaudaraan
* Maluku Tenang Kemarin
-------------------------------
Jakarta, Kompas
Musyawarah Rujuk Sosial Masyarakat Maluku sepakat untuk berupaya
menghentikan pertikaian, permusuhan, dan kerusuhan di Maluku, serta
bertekad membangun kembali persaudaraan sesama warga di dalam dan di luar
Maluku, atas dasar saling pengertian dan kebersamaan, tanpa membedakan
agama, asal-usul keturunan, dan status sosial.
Demikian salah satu kesepakatan yang disampaikan Uskup Maluku dan Maluku
Utara Mgr PC Mandagi, Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku Pendeta Sammy
Titaley, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Maluku H Hasan Nusi, Selasa
(18/1), usai musyawarah rujuk yang diikuti sekitar 200 tokoh Maluku di
Hotel Borobudur, Jakarta. Musyawarah yang berlangsung dua hari itu
menghasilkan Piagam Kesepakatan.
Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/0001/19/utama/warg01.htm

Tokoh Agama dan Masyarakat Maluku Serukan Perdamaian
AS dan Belanda akan Bantu Rekonsiliasi
-------------------------------------------------
JAKARTA -- Para tokoh agama dan masyarakat Maluku kemarin di Jakarta
kembali menyerukan perdamaian dan rekonsiliasi di wilayah tersebut.
Sayangnya, menjelang tengah malam, kota Ambon kembali tegang akibat gelegar
ledakan bom serta rentetan tembakan.
Di sisi lain, pemerintah Belanda dan Amerika Serikat menegaskan akan
membantu proses rekonsiliasi di Maluku. ''Satu-satunya peran kami dalam
masalah Maluku adalah kami juga ingin membantu mewujudkan rekonsiliasi,''
tutur Menteri Luar Negeri Belanda, Jozias van Aartsen, kemarin, di Jakarta.
Selengkapnya: http://www.republika.co.id/2001/19/15216.htm

Kenaikan Gaji, Prioritas Pemerintah Terbalik
-----------------------------------------------------
JAKARTA - Mantan menteri keuangan Mar'ie Muhammad menyatakan Pemerintah
menetapkan prioritas secara terbalik jika tetap menaikkan gaji pejabat
negara tanpa mendahulukan pegawai golongan bawah. Seharusnya pegawai
golongan bawah, termasuk tentara di lapangan, mendapat prioritas pertama.
''Kalau dilaksanakan, saya kira Pemerintah salah dan prioritas menjadi
terbalik. Kenaikan gaji saat ini yang mendesak adalah bagi pegawai negeri
golongan bawah,'' kata Mar'ie Muhammad di Bappenas, kemarin.
Selengkapnya: http://www.suaramerdeka.com/harian/0001/19/nas4.htm

--------------- Luar Negeri ---------------------
Meningkat, Kemungkinan Cile Adili Pinochet
----------------------------------------------------
London, Selasa
Amnesty International hari Selasa (18/1) secara resmi memrotes keputusan
Pemerintah Inggris bahwa kondisi kesehatan mantan diktator Cile Augusto
Pinochet tidak memungkinkannya diekstradisi atas tuduhan penyiksaan.
Kelompok hak asasi manusia yang bermarkas di London itu mengatakan mosinya,
yang diajukan menjelang batas waktu pukul 17.00 , berpusat pada apa yang
disebutnya laporan medis yang mungkin mencurigakan, yang mendasari
keputusan Pemerintah Inggris. Para pengacara Pinochet telah menolak
memperlihatkan laporan medis itu pada Spanyol dan negara-negara lain yang
ingin mengadili jenderal berumur 84 tahun itu.
Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/0001/19/LN/meni16.htm

Rusia Takkan Diperintah Diktator Lagi
----------------------------------------------
MOSKWA - Penjabat Presiden Rusia Vladimir Putin, yang diduga kuat bakal
memenangi pemilihan presiden Maret mendatang, menepis kemungkinan munculnya
kembali diktator di negara itu.
"Mereka yang berbicara tentang kemungkinan tampilnya diktator, mereka
itulah yang sebenarnya memimpikan rezim semacam itu. Mimpi mereka mustahil
terjadi di Rusia modern,'' tegas Putin di luar gedung Parlemen, Selasa
kemarin.
Sebagian lawan-lawan politik mencurigai Putin, yang pernah menjadi kepala
dinas keamanan dalam negeri, punya kecenderungan untuk memerintah secara
otoriter.
Selengkapnya: http://www.suaramerdeka.com/harian/0001/19/int1.htm

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke