*******************************************
Bila anda ingin membagi berkat
Manfaatkan ruang "Wacana Mingguan" Eskol-Net
    Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
*******************************************
Wacana Mingguan : 12 Februari 2000
================================

"Speaking the Truth in Love"
(Oleh: Pdt. Antonius Setiawan)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Efesus. 4:15:
"tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran
 di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala
hal ke arah DIA, Kristus, yang adalah kepala."

Menyampaikan kebenaran dengan kasih menunjukkan kemurnian hati dan motivasi
kita. Baik pada waktu kita menghibur, menasihati, menegur kesalahan orang,
kita menyampaikannya dengan sikap membangun.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama, ada seorang pelihat Daud yang bernama nabi
Gad. Tuhan memakai dia untuk berbicara dengan Daud. Dalam 1 Tawarikh
21:9-13 dan 2 Samuel 24:11-19 mencatat percakapan antara nabi Gad dan raja
Daud. Waktu
itu "Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk
menghitung orang Israel, tetapi hal itu jahat di mata Allah." I Taw.
21:1,7). Akibat perbuatan tersebut, Allah mengutus nabi Gad mendatangi Daud
dan berkata, "Beginilah firman TUHAN: Haruslah engkau memilih: tiga tahun
kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri dari
hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau tiga hari
pedang TUHAN, yakni penyakit sampar, ada di negeri ini, dan malaikat TUHAN
mendatangkan kemusnahan di seluruh daerah orang Israel. Maka sekarang,
timbangkanlah jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku."

Bagi nabi Gad, percakapan ini bukan tugas yang gampang dan menyenangkan. Di
satu sisi, Daud adalah teman baiknya; tetapi di lain sisi, Daud adalah
rajanya. Tetapi sebagai nabi Allah, dia tetap mewakili Allah untuk
berbicara kepada Daud.

Kalau hari ini Tuhan mengutus kita untuk melakukan tugas yang diemban oleh
nabi Gad, akankah kita melakukannya ?
Atau kita sudah sering diutus Tuhan untuk melakukan tugas yang demikian,
dan bagaimanakah respon kita terhadap panggilan dan pengutusan Tuhan ?

Memang, mengucapkan kebenaran dengan kasih, bukanlah tugas yang gampang.
Khususnya dalam menghadapi manusia di akhir zaman, Paulus menasihati
Timotius dan berkata, "karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi
menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut
kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan
telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng" (2 Timotius 4:3-4).

Namun mengucapkan kebenaran dengan kasih merupakan perintah Allah, dan kita
diperhadapkan dengan dua pilihan, menyenangkan Allah atau memuaskan telinga
manusia ?  Dalam hal ini Nabi Gad memilih menyenangkan hati Allah, dan
menunaikan tugas yang dipercayakan Allah.

Apakah yang dihasilkan oleh ketaatan nabi Gad ?  Dia menyaksikan pertobatan
raja Daud. Dikatakan dalam 1 Tawarikh 21:13, "Lalu berkatalah Daud kepada
Gad: "Sangat susah hatiku, biarlah kiranya aku jatuh ke dalam tangan
TUHAN, sebab sangat besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke
dalam tangan manusia."

Saudara, pada waktu penulis membaca sampai di sini, saya mulai membayangkan
perasaan nabi Gad. Pertama-tama saya membayangkan perasaannya sebelum
menyampaikan berita dari Allah. Mungkin hatinya merasa sungkan, takut.
Bisa saja dia takut dimarahi, takut ditolak dsbnya. Ini merupakan perasaan
yang sangat umum dan dapat terjadi pada siapa saja. Jangankan menegur
kesalahan Daud, jika hari ini kita diperintahkan untuk menyaksikan Injil
Allah kepada teman atau orang lain yang belum percaya saja, perasaan yang
demikian akan selalu muncul dan menghalangi kita.

Setelah itu penulis membayangkan perasaannya sesudah mendengar jawaban
Daud. Ada satu kelegaan, sukacita, pujian akan kebesaran Allah. Saudara,
jika nabi Gad tidak menuruti kehendak Allah dan tidak berani mengucapkan
apa yang Allah percayakan, maka dia tidak akan melihat pertobatan raja
Daud.

Hari ini Tuhan mengutus kita dan akan menyaksikan bagaimana saudara kita
bertobat. Kita akan menikmati kebahagiaan dalam menyaksikan pertobatan
tersebut, jika kita sungguh-sungguh taat akan pimpinan Tuhan dan
mengucapkan firman-Nya.

Hari ini banyak "Daud" di sekitar kita, tetapi karena kita tidak menjadi
"Gad", akhirnya mereka tidak sadar akan kehidupannya. Mungkin juga pada
ketika menyampaikan, mereka akan meresponi seperti Daud, tetapi mungkin
juga mereka tidak akan meresponi seperti Daud, tetapi seperti Izebel yang
mencoba membunuh nabi Elia dengan pedang.

Apapun yang akan terjadi, baiklah kita meminta kekuatan dan pertolongan
Tuhan, supaya kita menjadi berkat bagi orang lain. Marilah kita berdoa,
supaya Tuhan menolong kita belajar seperti nabi Gad, membawa teman dan
orang yang kita kasihi bahkan orang yang mengenal Tuhan untuk kembali
kepada Tuhan, suatu pekerjaan yang sangat agung dan mulia. ***


"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke