**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
Nomor: 0055/PGI-XII/2000
20 Januari 2000
Hal : Tanggapan atas Sikap dan Pandangan terhadap
Kerusuhan Maluku/Maluku Utara
Yang terhormat
Sdr Dr Amien Rais
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Di Jakarta
Dengan hormat,
Kami sampaikan salam sejahtera kepada Saudara dengan harapan kiranya
Saudara diberi hikmah dan kebijaksanaan oleh Allah Yang Maha Esa untuk
melaksanakan tugas-tugas negara serta kemampuan untuk mewujudkan
harapan-harapan segenap rakyat Indonesia, baik waktu sekarang ini maupun di
masa datang, sesuai dengan jabatan yang dipercayakan segenap rakyat
Indonesia.
Beberapa waktu lalu, Saudara hadir dan menjadi pembicara pada sebuah acara
yang menurut informasi dilakukan untuk menyatakan solidaritas kepada warga
masyarakat beragama Islam yang disebut-sebut sebagai korban pembantaian,
perkosaan dan sebagainya di Maluku khususnya di wilayah Halmahera Utara,
Propinsi Maluku Utara. Kami mengikuti dengan cermat seluruh pemberitaan
media massa dan informasi mengenai hal-hal yang Saudara kemukakan pada saat
itu dan kemudian yang Saudara sampaikan kepada media massa pada sejumlah
kesempatan berikutnya dalam bentuk wawancara atau pernyataan pandangan dan
sikap Saudara.
Berkaitan dengan itu perkenankan kami menyatakan beberapa hal sebagai
berikut: 1. Pernyataan-pernyataan, pandangan dan sikap Saudara mengenai
kerusuhan di Propinsi Maluku umumnya dan di Halmahera Utara, Propinsi
Maluku Utara khususnya, membuat masyarakat terkejut dan gelisah karena
Saudara tidak memposisikan diri sebagai pimpinan lembaga tertinggi negara.
Warga masyarakat yang beragama Kristen khususnya merasa mengalami
fait-accompli oleh pernyataan/pandangan Saudara yang menempatkan umat
Kristen di wilayah Halmahera Utara sebagai penganiaya, pembantai dan sumber
kekerasan terhadap umat Islam.
2. Maafkan kami jika terpaksa menilai bahwa pernyataan/pandangan Saudara
mengenai kerusuhan khususnya yang terjadi berhari-hari sejak 26 Desember
1999 hingga Januari 2000 di kota Tobelo dan sekitarnya adalah hal yang
sangat gegabah karena Saudara lalai mendasarkan diri pada sejumlah fakta
objektif.
Hal objektif pertama yang Saudara lalaikan adalah fakta bahwa apa yang
terjadi di Tobelo dan sekitarnya adalah suatu lingkaran kekerasan yang
menjebak warga masyarakat, baik masyarakat yang beragama Islam, Kristen
maupun yang masih menganut agama-agama suku.
Hal objektif kedua yang juga Saudara lalaikan adalah bahwa kekerasan di
Tobelo dan sekitarnya bukan fenomena independen dan partial. Karena itu
sangat naif untuk menilai apa yang terjadi di Tobelo terlepas dan berbagai
konflik lain di pulau Ternate, pulau Tidore, di semua bagian pulau
Halmahera dan bahkan di Propinsi Maluku.
Hal objektif ketiga yang Saudara lalaikan adalah bahwa kerusuhan di
Propinsi Maluku dan Maluku Utara telah melibatkan dan mengorbankan rakyat
yang Saudara pimpin tanpa pandang latar belakang agama mereka. Karena itu
maaf jika kami katakan bahwa Saudara telah keliru bersikap seakan-akan
golongan tertentu saja yang menjadi sasaran aksi-aksi kekerasan yang
terjadi.
Saudara nampaknya tidak tahu atau tidak perduli pada fakta bahwa telah
terjadi "pembersihan" desa-desa/pemukiman di pulau Tidore, Ternate, di
wilayah Halmahera Tengah dan ke arah desa/pemukiman di jazirah selatan
pulau Halmahera yang penduduknya beragama Kristen.
Hal ini terjadi sejak akhir September-awal Oktober 1999. Beberapa bulan
sebelum itu, golongan tertentu di Sanana, kepulauan Sula, Maluku Utara,
telah terusir keluar dari wilayah pemukimannya. Apakah mereka yang menjadi
korban sia-sia itu bukan rakyat Indonesia?
3. Kami ingin sampaikan kepada Saudara bahwa aksi-aksi kekerasan di Maluku
Utara dimulai dari peristiwa yang jauh dari nuansa pertentangan antar umat
beragama, pun dari waktu ke waktu alasan-alasan dan warna agama terus
dipaksakan mewarnai kekerasan. Mengenai hal ini Saudara perlu memperhatikan
beberapa fakta sebagai berikut:
Bahwa serangan pertama (yang membuka babak kerusuhan di Maluku Utara) ke
desa-desa Kecamatan Kao oleh penyerang yang berasal dari Malifut (beragama
Islam) dilawan juga oleh warga Kao yang beragama Islam. Masalahnya
bersumber pada policy Pemda mengenai pemekaran Kecamatan yang ditolak oleh
sebagian masyarakat yang telah terikat pada kesepakatan Adat.
Ketika serangan berikut terjadi sementara warga Kao yang beragama Kristen
melaksanakan kebaktian Minggu, yang menghadapi serangan itu adalah warga
Kao lainnya yang tidak beribadah di hari Minggu dan mereka adalah
Saudara-saudara yang beragama Islam.
Serangan balasan terhadap warga asal Makian di Malifut yang mengakibatkan
banjir pengungsi asal Makian ke Ternate dan Tidore misalnya melibatkan
warga Kao, baik yang beragama Kristen maupun Islam.
Kekerasan pertama yang meletus di Tidore dibuka oleh pembantaian seorang
pendeta Gereja Protestan Maluku yang diundang Kapolsek menghadiri sebuah
acara bersama para anggota Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Camat dll.).
Ketika penghancuran gedung-gedung gereja (14 buah gedung gereja hancur) dan
kekerasan terhadap warga yang beragama Kristen terjadi di kota Ternate
misalnya, ada cukup banyak warga beragama Muslim di sana yang bangkit
melawan aksi-aksi kekerasan tersebut.
Hingga konflik pecah di Tobelo tanggal 26 Desember 1999 (didahului dengan
berbagai isu dan provokasi di hari-hari sebelumnya), 34 gedung gereja telah
hancur terbakar paling kurang di 15 lokasi kerusuhan.
Fakta-fakta ini nampaknya tidak diperhatikan oleh Saudara atau Saudara
membiarkan diri diselubungi oleh informasi-informasi sepihak dan subjektif
serta diberati oleh kepentingan-kepentingan politik golongan yang
jelas-jelas berperspektif sangat sempit. Ini hanya sedikit dari fakta yang
dapat kami beberkan untuk menopang agar Saudara bersikap objektif dan
berani terlibat menghentikan kerusuhan melalui prakarsa dan langkah-langkah
strategi dan efektif yang dimungkinkan oleh posisi dan kewenangan Saudara.
5. Kami harus menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan Saudara mengenai
kerusuhan di Halmahera Utara jelas-jelas telah memojokkan warga negara yang
beragama Kristen dan memberi insinuasi pada pertentangan warga berbeda
agama di negara ini. Karena itu tesis Saudara semula bahwa kerusuhan di
Indonesia disebabkan karena ada banyak "daun-daun atau rumput kering",
tidak valid lagi. Fakta di lapangan membuktikan bahwa akar kerusuhan
bukanlah hanya karena adanya daun-daun atau rumput-rumput kering tapi juga
karena ada tindakan politisasi terhadap "daun-daun atau rumput-rumput
kering" itu.
Kami sangat kuatir apa yang Saudara ucapkan sejak pertemuan di Tugu Monas,
Jakarta, adalah salah satu dari sekian tindakan politisasi yang akibatnya
hanya mengorbankan rakyat yang percaya kepada Saudara sebagai Ketua Lembaga
Tertinggi Negara, MPR RI. Kami selalu berharap bahwa dari Saudara sebagai
Ketua MPR RI, selalu datang pembelaan terhadap warga negara/rakyat
Indonesia yang mengalami penistaan, penderitaan, fitnah dan kezaliman,
tanpa pandang suku, agama, ras dan golongannya.
5. Lingkaran kekerasan di Maluku dan Maluku Utara akan dapat diputuskan
jika semua terutama Saudara sebagai Ketua MPR RI berusaha dengan wewenang
dan kepercayaan rakyat yang Saudara miliki, mengeliminasi semua fenomena
politik dan dramatisasi angka-angka korban yang hanya akan menjadikan
kerusuhan konflik langgeng dan rakyat - tanpa pandang agama - menjadi
korban sia-sia. Selain itu jika Saudara berkenan, kualitas dan kedudukan
Saudara sebagai Ketua MPR sangat memungkinkan Saudara untuk berada di luar
dan membongkar fenomena konspirasi politik di kalangan elit, yang berada di
balik kerusuhan dan pelanggengan penderitaan rakyat. Hal ini lebih
bermanfaat Saudara lakukan karena hal ini menjadi harapan rakyat banyak
termasuk kami dan Gereja-gereja di Indonesia.
6. Kami harapkan semua langkah yang dilakukan Pemerintah Pusat/Daerah,
lembaga-lembaga legislative di pusat dan daerah, TNI/POLRI, semua kelompok
masyarakat, pimpinan dan tokoh lembaga-lembaga agama Islam dan
Gereja-gereja, dapat secara sistematis memberi manfaat bagi terhentinya
kekerasan individual dan kolektif serta membuka peluang bagi pemberdayaan
masyarakat serta dialog-dialog ke arah rekonsiliasi dan perdamaian yang
langgeng.
Kami juga berharap kerusuhan sejenis tidak lagi meletus di bagian-bagian
lain tanah air kita. Jika di luar kemampuan kita sekalian kerusuhan masih
berlanjut atau meledak di tempat lain, perkenankan kami menyarankan agar
Saudara dalam kedudukan sebagai Ketua MPR RI, bersedia menghimpun data-data
sebanyak mungkin dari berbagai pihak sebelum melakukan penilaian dan
menyatakan pandangan serta sikap Saudara. Saudara tentu paham bahwa rakyat
biasa tidak bisa secara lugas membedakan peran Saudara sebagai pribadi,
tokoh agama Islam, tokoh Muhammadiyah atau Ketua MPR RI. Kami yakin Saudara
dapat memahami keadaan objektif rakyat Indonesia sebagai keseluruhan yang
sedang menderita. Mereka semua menggantungkan harapan kepada Saudara
sebagai Ketua MPR RI dan terbantu jika Saudara menjadi lebih arif dan mampu
memberi jalan keluar yang tepat kepada rakyat untuk terbebas dari neraka
kerusuhan di Maluku/Maluku Utara atau di mana saja. Untuk melanjutkan
keinginan baik yang telah kami tunjukkan kepada Saudara, kami selalu
bersedia membantu Saudara dengan sepenuh hati dan pikiran.
Terimakasih atas perhatian Saudara. Teriring salam dan hormat kami, Atas
nama MAJELIS PEKERJA HARIAN PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA.
Pdt. Dr. Sularso Sopater
Ketua Umum
Pdt. Dr. J.M.Pattiasina
Sekretaris Umum
Tembusan disampaikan kepada yang terhormat:
1. Presiden Republik Indonesia di Jakarta
2. Wakil Presiden Republik Indonesia di Jakarta.
3. Ketua DPR RI di Jakarta
4. Para Wakil Ketua MPR RI dan DPR RI di Jakarta
5. Panglima TNI di Jakarta
6. KAPOLRI di Jakarta
7. Pimpinan Panja Maluku
8. Gubernur/KDH Tingkat I Maluku Utara di Ambon
9. Care-taker Gubernur Maluku Utara di Ternate
10. Ketua KWI di Jakarta
11. Pimpinan Gereja-gereja Anggota PGI di tempatnya masing-masing
12. Pimpinan PGI Wilayah di tempatnya masing-masing
13. Pimpinan PGPI, PII, GBI
14. Pimpinan Lembaga-lembaga Keumatan di Jakarta
15. Para Anggota MPH-PGI di tempatnya masing-masing
16. Dirjen Bimas (Kristen) Protestan Departemen Agama RI
17. Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama RI
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l