*******************************************
Bila anda ingin membagi berkat
Manfaatkan ruang "Wacana Mingguan" Eskol-Net
Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
*******************************************
Wacana Mingguan : 26 Februari 2000
================================
"Berkat Yang Sejati"
'''''''''''''''''''''''''
(Pdt. Antonius Setiawan)
Tuhan memakai berbagai cara untuk memperkenalkan diri-Nya dan mendidik, dan
memberkati orang yang dikasihi-Nya. Dia mendidik orang Israel melalui
manna, tetapi dia mendidik Paulus melalui duri dalam dagingnya.
I. Melalui Manna
"Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau
makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek
moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari
roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan"
(Ulangan 8:3).
Allah mendidik umat Israel melalui manna, secara luar yang diterima orang
Israel adalah manna, tetapi dibalik daripada pemberian Tuhan ada satu
pelajaran yang ingin Tuhan ajarkan, yaitu belajar mendengar suara Tuhan.
Dalam pemberian manna ini, suara Tuhan menjadi hal yang lebih penting dari
manna yang mereka terima setiap hari. Otoritas suara Tuhan dibuktikan
melalui kesetiaan dan keadilan Tuhan. Kesetian Tuhan terlihat melalui
penggenapan janji-Nya. Allah menjanjikan akan memberi mereka manna setiap
hari kecuali hari sabat (Kel. 16:4-5). Dan ini dibuktikan Allah. Orang
Israel yang beriman tentu tidak mengandalkan manna, melainkan janji Allah.
Selanjutnya kuasa dan keadilan Allah dibuktikan
melalui penggenapan peringatan-Nya, jika mereka mengambil lebih dari yang
diperlukan, maka sisanya akan berulat dan berbau busuk (Kel. 16:17-20).
Inilah yang Musa maksudkan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi
dari segala yang diucapkan Tuhan.
Orang Israel mengalami kesetiaan dan keadilan Allah, tetapi mereka masih
lebih mementingkan manna daripada suara Allah. Hal ini terlihat dari
kehidupan mereka yang selalu bersungut-sungut itu.
Saudara, dalam kehidupan ini, kita lebih banyak berfokus pada manna atau
suara Allah ? Manna yang diperoleh Israel dengan cara tidak sesuai menjadi
sia-sia, apakah kita sedang mengumpulkan manna yang demikian di dalam
kehidupan kita?
II. Melalui duri
"Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang
luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri dalam dagingku, yaitu seorang
utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
Tetang hal itu aku sudah tiga kali berseru keapda Tuhan, supaya utusan
iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: 'cukuplah kasih
karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi
sempurna'" (2 Kor 12:7-9).
Manakah yang lebih enak, Duri atau manna ? Manakah yang lebih bisa membuat
manusia bersyukur di hadapan Tuhan, Duri atau manna? Sebenarnya bukan duri,
ataupun manna, melainkan hati manusia. Hati yang meresponi pekerjaan dan
pemberiaan Allahlah yang menentukan apakah kita bersyukur atau
bersungut-sungut.
Hal ini terlihat dari sikap orang Israel dan Paulus. Dalam Keluaran 16
Allah memberi manna kepada orang Israel, namun dalam Keluaran 17 orang
Israel kembali bersungut-sungut dan berkata kepada Musa, "Mengapa pula
engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami
dan ternak kami dengan kehausan?" (Kel. 17:3). Rasul Paulus,
walaupun menerima duri dalam dagingnya, namun dia tetap meninggikan Tuhan
dan menerima pengaturan Tuhan yang berkata, "cukuplah kasih karunia-Ku
bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."
Jadi saudara, saya ingin bertanya, apa yang kita cari di dalam dunia, Manna
atau duri ? Yang harus kita cari adalah sebuah hati yang taat pada
pengaturan Allah dan bersyukur atas karya Allah dalam kehidupan kita. Hati
ini tidak tertuju pada manna atau duri, tetapi pada Tuhan yang
memberikannya. Itulah berkat yang sejati.
Ada sebuah lagu berbunyi: dulu ku mau berkat, kini mau Tuhan. Dulu kumau
sembuh, kini penyembuh. dulu tamak kurnia, kini pembrinya. Dulu cari kuasa,
kini Penguasa. Marilah kita bersama-sama introspeksi diri di hadapan Allah,
apakah saya masa hidup pada keadaan "dulu" atau "kini" dari lagu di atas.
Biarlah kegagalan Israel boleh menjadi peringatan bagi
kita. Kiranya Tuhan memberkati kita sekalian. ***
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l