*************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
*************************

Rekan pembaca ytk,

Sehubungan dengan pemberitaan mengenai "200 santri Wali Songo dibantai"
oleh Jawa Pos edisi Rabu, 14 Juni 2000, maka Crisis Center GKST yang
berkedudukan di Tentena merasa perlu melakukan pelurusan berita. Berikut
ini pernyataan Crisis Center GKST yang redaksi terima per fax hari ini.


KLARIFIKASI PERISTIWA KONFLIK
DI DESA SITUWULEMBA: PESANTREN WALISONGO
(+ 9 km dari Poso ke arah Tentena)
Minggu, 28 Mei 2000

Sekitar pk. 05.00 WITA, warga (Kristen) Tagolu  yang berlindung di
kebun-kebun di sekitar Sintuwulemba dan Tagolu, datang ke Posko Tagolu
(Kristen). Mereka memberikan informasi bahwa sejumlah warga (Muslim) desa
Sintuwulemba mengancam warga (Kristen) yang berlindung di kebun-kebun.

Sekitar pk. 10.00, warga (Muslim) desa Situwulemba dengan mengendarai
sebuah mobil Kijang dan taksi kota datang ke Posko Tagolu (sekitar 8 km
dari Poso) untuk meminta perlindungan dengan menyatakan bahwa mereka tidak
bersalah. Kemudian sejumlah anggota Posko Tagolu mengantar mereka ke markas
TNI Raksatama, Kompi 711 Kawua (sekitar 4 km dari Poso). Selanjutnya pihak
berwajib (Polisi dan TNI) bersama anggota Posko Tagolu menawarkan kepada
warga desa Sintuwulemba dan penghuni kompleks Pesantren Wali Songo yang ada
di desa Sintuwulemba, untuk mengamankan diri (mengungsi) ke markas TNI
Raksatama, Kompi 711 Kawua.

Sekitar pk. 11.00, 15 (lima belas) orang anggota posko Tagolu bersama 7
(tujuh) orang anggota TNI Raksatama, Kompi 711 Kawua dan anggota Polri,
datang ke desa Sintuwulemba (termasuk Pesantren Wali Songo di desa
Sintuwulemba) menjemput penghuni desa dan pesantren tersebut untuk
diungsikan ke markas TNI Raksatama, kmpi 711 Kawua.
Sejumlah wanita dan anak-anak penghuni pesantren dan desa Sintuwulemba
bersedia dai dibawa dengan menggunakan truk militer dan tiba dengan selamat
di markas TNI Raksatama, kompi 711 Kawua. Sementara itu sekitar 90
(SEMBILAN PULUH) ORANG WARGA MUSLIM yang sebagian besar adalah WARGA
MASYARAKAT DESA SINTUWULEMBA dan warga BENESOMPE, KAYAMANYA, dan LAWANGA
masih berada di dalam kompleks pesantren tersebut. Mereka menolak untuk
mengungsi, bahkan mereka melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata
rakitan. Terjadilah kontak fisik dengan 15 anggota posko Tagolu selama
sekitar 20 (dua puluh) menit. Sementara terjadi kontak fisik, anggota Polri
dan TNI mundur dari lokasi tersebut, tetapi seseorang anggota Polri, Serma
Piter Pasepe mengalami luka-luka akibat tembakan senjata rakitan. Dalam
situasi tersebut, anggota posko Tagolu (15 orang) mundur dari lokasi
tersebut. Kemudian, anggota posko Tagolu tersebut meminta bantuan kepada
rekan-rekannya di posko Tagolu.

Sekitar pk. 12.00, 40 (empat puluh)orang anggota posko Tagolu datang ke
desa Sintuwulemba dan terjadilah kontak fisik dengan warga (Muslim) di
lokasi pesantren Wali Songo. Sekitar lima menit kemudian warga (Muslim)
yang berada di pesantren tersebut menyerah dengan menggunakan tanda putih.
Setelah melihat tanda menyerah tersebut, anggota posko Tagolu mendekati dan
memasuki pesantren tersebut. Tetapi tiba-tiba warga yang berada di dalam
pesantren tersebut kembali menyerang dengan menggunakan tembakan senjata
rakitan. Akibatnya terjadi kontak fisik dan pembakaran kompleks tersebut,
kecuali Mesjid. Jumlah korban yang luka-luka dan meninggal dunia masih
dalam pendataan).

Catatan:
1. Peristiwa konflik yang terjai di kompleks pesantren Wali Songo di desa
Sintuwulemba diakibatkan oleh perlawanan yang dilakukan oleh warga (Muslim)
yang menolak untuk mengungsi. Padahal sebelum peristiwa itu terjadi,
sejumlah warga (Muslim) desa Sintuwulemba dengan mengendarai sebuah mobil
Kijang dan taksi kota, datang ke posko Tagolu untuk meminta perlindungan.
2. Warga (Muslim) yang berada di kompleks pesantren Walisongo pada saat
peristiwa tersebut terjadi, sebagian besar terdiri dari masyarakat biasa
dari desa Sintuwulemba, Bonesompe, Kayamanya, dan Lawanga. Dengan demikian,
tidak benar bahwa seluruh warga (Muslim) yang berada di dalam kompleks
tersebut adalah para santri
3. Dalam konflik tersebut tidak terjadi (tidak ada) Mesjid yang dibakar
oleh anggota posko Tagolu
4. Konflik tersebut telah mengakibatkan korban meninggal dunia dan
luka-luka (jumlah korban masih dalam pendataan, tetapi dapat dipastikan
bahwa jumlah korban tidak lebih dari jumlah warga yang berada di dalam
pesantren tersebut)

Tentena, 14 Juni 2000
a.n., Crisis Center GKST Untuk Kerusuhan Poso

ttd
Pdt. Rinaldy Damanik, Msi.     Pdt.Drs.Morka Kaluti



"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke