'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''""
SARI BERITA : Sabtu, 9 Desember 2000
=======================================
<> Ambon Kembali Tegang Terjadi Hujan Tembakan
<> Transmigran di Aceh Diusir
<> PDS Maluku Larang Pengunjuk Rasa Bawa Senjata
<> Presiden Akan Hadiri Natal di Jayapura
<> Keinginan Gus Dur Beda dengan Hasil Rakor Polkam
`````````````````````````````````

Ambon Kembali Tegang Terjadi Hujan Tembakan
----------------------------------------------------
Ambon, LippoStar Ketegangan secara sporadis terjadi di Kota Ambon Sabtu
dinihari. Bunyi rentetan tembakan terdengar bagaikan hujan sehingga
meresahkan masyarakat akan kemungkinan terjadi kerusuhan besar, menyusul
peristiwa awal pada 19 Januari 1999 lalu. Staf Ahli Bidang Penerangan
Darurat Sipil Daerah Maluku, Drs John Tomasoa, ketika dikonfirmasi,
membenarkan kejadian itu. Ketegangan itu terjadi di perbatasan Galala,
Hatiwe Kecil, Kecamatan Sirimau, Pohon Mangga dan Urimesing dan Pohon
Puleh, Kecamatan Nusaniwe serta Wayame, Kecamatan Baguala. "Yang pasti,
Dansektor Pengamanan 1/Ambon, Kolonel Inf A Siswanto telah mengerahkan
personil untuk mengantisipasi kemungkinan situasi paling buruk di
daerah-daerah rawan konflik itu," katanya. Ketegangan ini diperburuk dengan
rentetan tembakan bagaikan hujan yang dibarengi bom/granat dengan hulu
ledak cukup besar sehingga membangunkan masyarakat yang telah terlelap.
Ditanya adanya korban jiwa, ia menjawab belum ada laporan. "Yang pasti,
ketegangan ini hendaknya tidak menggagalkan kegiatan wisuda Sarjana (S1)
Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon yang dijadwalkan di halaman kantor
Gubernur Maluku, Sabtu pagi (9/12), sekitar pukul 09.00 WIT," kata Tomasoa.
Sumber:  www.lippostar.com

Transmigran di Aceh Diusir
-----------------------------------
koridor.com [9 Dec, 5:52] Setidaknya 462 jiwa (124 KK) warga transmigran di
Aceh Timur, meninggalkan pemukimannya karena diusir oleh kelompok
bersenjata api. Kawanan pengusir, dilaporkan, juga membakar rumah-rumah ser
ta warung warga trans. Demikian Media.
Para warga trans itu, sejak JUmat tiba di terminal terpadu Langsa. Menurut
beberapa warga trans itu, sebenarnya mereka telah eksodus sejak 13 November
lalu. Hanya saja, mereka tidak langsung ke Langsa, tapi menginap di Desa
Peunaron dan ditampung di kantor polisi serta balai desa. Setelah dua pekan
berada di Desa Peunaron, barulah mereka melanjutkan perjalanan ke Kota
Langsa.
Di Langsa, sebagian besar dari mereka menempati lokasi terminal terpadu
Langsa dan sebagian lagi ditampung di Kantor Deptrans Aceh Timur.
Total warga trans yang eksodus mencapai 124 KK atau sekitar 462 jiwa lebih.
Mereka berasal dari Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Peunaron Kecamatan
Serba Jadi, Aceh Timur. Setiap KK telah mengembangkan tanaman keras seperti
karet, sawit, jeruk, dan lainnya.
Selengkapnya:
http://www.koridor.com/artikel.php/105621/e291a31c6d2bfe349b6240caa6aa1d164
/976316662

PDS Maluku Larang Pengunjuk Rasa Bawa Senjata
------------------------------------------------------
Ambon, LippoStar
Penguasa Darurat Sipil(PDS) Daerah Maluku, Saleh Latuconsina, melarang para
pengunjuk rasa untuk membawa senjata tajam, senjata api, baik rakitan dan
atau organik, bom (rakitan/organik) maupun benda keras lainnya.
Larangan yang ditandatangani Latuconsina yang juga Gubernur Maluku
tertanggal 7 Desember dan diterima di Ambon, Jumat (8/12), atas alasan
memperhatikan dan mencermati situasi keamanan maupun ketertiban menjelang,
memasuki bulan suci Ramadhan yang diikuti dengan masa Advent.
Pertimbangannya, disebutkan masih terdapat gangguan-gangguan yang dapat
merusak ketenangan dan ketertiban. Sumber: www.lippostar.com

Presiden Akan Hadiri Natal di Jayapura
Presidium Apec Kutuk Kekerasan di Irja
-------------------------------------------
Jakarta, 8 Desember
Presidium Aksi Peduli Bumi Cenderawasih (Apec) dengan rasa prihatin dan
dukacita mendalam mengecam serta mengutuk segala tindakan kekerasan oleh
aparat keamanan dan aparatur pemerintah yang terjadi di Irian Jaya (Irja).

Tindak kekerasan dalam berbagai bentuk, antara lain pembunuhan,
penghilangan nyawa secara paksa, pemerkosaan, dan diskriminasi terhadap
penduduk lokal, itu sudah berlangsung 38 tahun.
Hal itu tercantum dalam seruan demi kemanusiaan Presidium Apec, yang
ditandatangani Ketua Gabriel de Sola dan Sekretaris Fredryk Tokan dan
disampaikan kepada Pembaruan, Jumat (8/12) pagi, di Jakarta.

Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan, Adhie Massardie, Jumat (8/12)
pagi, mengatakan kepada Pembaruan, Presiden Abdurrahman Wahid telah
menanyakan kepada Wakil Presiden (Wapres) Megawati Soekarnoputri tentang
kesediaannya untuk ke Irian Jaya.
Hal itu ditanyakan Presiden ketika Kamis malam, mengunjungi Wapres di Jalan
Diponegoro Jakarta. Karena Wapres tidak berangkat, Presiden yang akan ke
sana. Saat itu, Presiden juga menjelaskan rencana keberangkatan ke Aceh, 19
Desember 2000 selama satu hari bersama duta besar negara-negara Islam.
Tentang kunjungan ke Irja, Presiden direncanakan menghadiri perayaan Natal
masyarakat Papua, 25 Desember 2000 malam, di Jayapura. Pada pagi harinya,
Presiden akan menyampaikan ceramah di Timika.
Rencana Presiden ke Irja itu, diungkapkan ketika menerima empat delegasi
tokoh masyarakat dan tokoh agama Irian Jaya di Istana Negara, Kamis (7/12)
siang. Mereka yang diterima Presiden adalah Pdt Dr Phil Karel Erari,
Michael Manufandu, Lukas Karel Degey, dan Simon Petrus Morin.
Lukas Degey, Jumat (8/12) pagi di Jakarta, mengatakan, Presiden sangat
memperhatikan masalah Irja, terutama upaya meredam aspirasi merdeka dan
memisahkan diri dari NKRI.
Rencana Presiden menghadiri perayaan Natal di Irja itu disambut gembira
oleh masyarakat Papua dan diharapkan bisa mengobati luka mereka. Mereka
mendambakan kemerdekaan yang sejati, yakni kemerdekaan untuk hidup tenang,
damai dan sejahtera, terlepas dari intrik politik.
Karel Degey mengatakan, pada pertemuan tersebut, antara lain disampaikan
apresiasi terhadap langkah Gus Dur yang memberikan nama Papua dan izin
mengibarkan Bintang Kejora tidak lebih tinggi dari bendera Merah Putih,
sebagai pendekatan sosiologis-antropologis yang bisa meredam emosi dan
tuntutan masyarakat untuk merdeka.
http://www.suarapembaruan.com/News/2000/12/08/index.html

Keinginan Gus Dur Beda dengan Hasil Rakor Polkam
-------------------------------------------------------
Jakarta (Bali Post) -
Keinginan Presiden Abdurrahman Wahid untuk membebaskan Ketua Presidum Papua
Theys Hiyo Eluay dari tahanan, belum menjadi kenyataan. Rakor Polkam Jumat
(8/12) kemarin tidak sependapat dengan keinginan Gus Dur mengenai nasib
tokoh pergerakan kemerdekaan Papua itu.
Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono seusai Rakor Polkam yang khusus
membahas soal Irian Jaya kemarin mengatakan, kemungkinan besar Theys akan
dikenai status tahanan rumah. Penetapan status ini, menurutnya penting,
karena saat ini membiarkan Theys berada di luar pengawasan aparat keamanan
adalah tindakan yang berisiko tinggi. ''Bagi pihak keamanan maupun buat
Theys sendiri, akan lebih baik bila Theys berada dalam pengawasan aparat
keamanan, sehingga jika terjadi sesuatu, mudah diusut siapa yang harus
bertanggung jawab,'' ujar Susilo.
http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2000/12/9/p1.htm

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke